Badannya kurus-kecil tak menggambarkan siapa dia sebenarnya. Pada mulanya, Thounaojam Herojit Singh masih menghitung berapa orang yang dia bunuh: 11, 12, 13, 14, 15, dan seterusnya. Tapi angka itu makin besar dan membunuh orang jadi hal rutin bagi Herojit, 35 tahun. Dia tak lagi menghitung berapa banyak yang mati di ujung pistolnya.
Kepada sejumlah wartawan di Imphal, Manipur, beberapa bulan lalu, Herojit mengatakan angka itu sudah lebih dari seratus. Setiap kali hendak mengeksekusi orang, Head Constable Herojitpangkat ini setara dengan sersanselalu meminta korbannya menghadapkan wajahnya ke arahnya. Herojit akan menatap matanya saat dia menarik pelatuk pistol. Dorr .
Tak sekali pun terlintas pertanyaan di kepala Herojit apakah pembunuhan-pembunuhan yang dia lakukan melanggar hukum. Semua dia lakukan karena perintah atasan. Teman-temannya pun menaruh hormat kepadanya. Bukan hanya karena keahlianku, tapi lantaran aku menyelesaikan semua pekerjaanku dengan baik, kata Herojit, kepada Guardian, beberapa pekan lalu. Lantaran hal itulah Herojit merasa tak akan pernah tersentuh hukum, hingga beberapa waktu lalu.
Jumlah itu kelewat banyak bagi kami
. Setiap kali mereka datang, kami tak bisa makan.”
Pada 2006, dia dan kesatuannya menangkap seorang komandan kelompok pemberontak Partai Rakyat Revolusioner Kangleipak dan menyita timbunan senjata mereka. Dari dalam penjara, komandan itu meneleponnya. Dia mengancam akan membunuh keluarga Herojit dan keluarga polisi lainnya jika senjata yang disita polisi tak dikembalikan. Herojit marah besar.
Sudah aku peringatkan dia supaya tak mengganggu keluarga kami. Tapi dia keras kepala, kata Herojit. Beberapa bulan kemudian, ketika sang komandan keluar dari penjara dan dijemput teman-temannya, Herojit dan beberapa polisi membuntutinya. Di tengah jalan, Herojit mencegat mobil itu dan meminta mereka semua keluar. Ada tujuh orang dalam mobil itu.
Aku Herojit, dia memperkenalkan diri. Seorang laki-laki, tahu siapa yang dihadapi, langsung memohon, Tamo, saudaraku, maafkan aku. Tapi Herojit tak memberinya ampun. Di depan orang-orang itu, di siang hari bolong, dia merogoh pistolnya dan menghamburkan enam peluru ke arah orang itu.
Kepolisian Imphal hanya menghukum Herojit 10 hari skors dari tugas. Hukuman serupa dijatuhkan kepada Herojit saat dia dituduh terlibat pembunuhan seorang wartawan muda dari Imphal Free Press, Konsam Rinshikanta, pada 2008. Bahkan pada 2009, Herojit mendapat penghargaan dari Gubernur Manipur atas keberaniannya. Dia juga mendapatkan hadiah kenaikan pangkat.
Sehebat-hebatnya Herojit, akhirnya dia tersandung juga. Pada suatu siang di bulan Juli 2009, Herojit baru menyantap makan siang saat menerima kabar soal penangkapan seorang pemuda. Tanpa menuntaskan makannya, Herojit buru-buru datang. Seorang pemuda, Chungkam Sanjit, 22 tahun, sudah digelandang beberapa polisi. Di dalam toko obat, Herojit menginterogasi pemuda itu. Dia yakin pemuda itu anggota kelompok pemberontak.
Akoijam Jhalajit, atasannya, memberi perintah singkat, Touthok-khro. Selesaikan. Tapi Herojit tak yakin karena banyak sekali wartawan tengah berada di sekitar tempat itu. Tapi Jhalajit tetap memerintahkan Herojit untuk menyelesaikan Sanjit. Aku yang akan mengurus media-media itu, Jhalajit memberi jaminan. Herojit meminta semua orang keluar dan dor . Perintah Jhalajit tuntas dia laksanakan.
Rupanya ada wartawan yang tak sengaja memergoki penangkapan dan eksekusi Sanjit. Dia memotret detik demi detik saat polisi menggelandang Sanjit yang tak bersenjata dan tak lama kemudian mengangkut mayatnya. Foto itu segera tersebar. Ribuan orang turun ke jalan menuntut pengusutan penembakan Sanjit. Herojit, yang semula yakin tak akan tersentuh hukum, bersama sepuluh polisi lain, diperiksa maraton oleh Biro Pusat Investigasi (CBI). Tak ada satu pun pejabat Kepolisian Imphal tersentuh, termasuk Jhalajit. Dia membantah memberikan perintah kepada Herojit.

Merasa dikorbankan oleh atasannya, Herojit membuka kisah-kisah pembunuhan itu kepada wartawan. Aku tak melakukan ini karena marah atau untuk membalas dendam . Tapi aku sadar bagaimana aku telah dimanfaatkan. Padahal selama ini aku dilatih untuk mengikuti perintah dengan mata tertutup, Herojit menuturkan dari persembunyiannya. Dia mengaku siap menerima hukuman. Bahkan, jika dihukum mati, aku akan menerimanya dengan ikhlas.
Selama bertahun-tahun, Sinam Chandramani merupakan kebanggaan warga kampungnya di Malom, Manipur, negara bagian di ujung timur India. Ketika usianya baru 4 tahun, Sinam mendapat anugerah National Bravery Award dari Perdana Menteri India Rajiv Gandhi, sebagai penghargaan atas keberaniannya menyelamatkan seorang temannya yang tenggelam.
Wajah bocah Sinam muncul di mana-mana. Dia juga dihujani rupa-rupa hadiah dari pemerintah India. Setiap tahun, Departemen Kesejahteraan Anak mengirim surat kepada orang tuanya untuk memastikan Sinam tak putus sekolah. Bagi Sinam Ongbi Chandrajini, ibunya, Sinam Chandramani merupakan anak yang berbakti. Setiap kali hendak meninggalkan rumah, anak itu selalu pamit dan mencium tangan ibunya.
Tapi pada hari itu, pada 2 November 2000, Sinam lupa berpamitan kepada ibunya. Sinam Chandrajini juga lupa tak memberikan doanya untuk sang anak. Sekolah Sinam hari itu tengah libur. Sepulang dari pasar, Sinam Chandramani, saat itu 17 tahun, dan kakaknya, Sinam Robinson, 27 tahun, buru-buru berangkat lagi untuk mengikuti kelas tambahan. Seorang teman sudah menunggu mereka di halte bus di Jalan Tiddim.
Hari itu adalah hari malang bagi keluarga Chandrajini. Saat Sinam bersaudara menunggu bus, iring-iringan pasukan Assam Rifles lewat. Tiba-tiba terdengar ledakan kencang. Truk yang mengangkut pasukan Assam ringsek. Prajurit Assam berhamburan, demikian pula orang-orang di sekitarnya. Rupanya ada sekelompok pemberontak yang menyerang pasukan Assam.
Aku tak melihat anak-anakku
. Tentara membawa pergi semua mayat korban.”
Hanya beberapa detik setelah ledakan, terdengar rentetan tembakan bertubi-tubi dari pasukan Assam mengarah ke segala penjuru. Orang-orang bertumbangan, dua di antaranya Sinam Chandramani dan kakaknya, Sinam Robinson. Ada delapan orang lain tewas dihajar peluru dari senapan prajurit Assam pada sore itu.
Mendengar dentuman keras dari rumah, Sinam Chandrajini panik mencari kabar kedua anaknya. Aku tak melihat anak-anakku . Tentara membawa pergi semua mayat korban, Chandrajini, bertahun-tahun kemudian, seperti dikutip majalah Caravan, mengenang. Baru keesokan harinya dia mendengar kabar soal nasib kedua anaknya.
Hari itu, ketika Sinam bersaudara dan delapan warga sipil lain tewas ditembak prajurit Assam, hari itu pula Irom Chanu Sharmila, kini 44 tahun, memulai puasanya. Perempuan itu memilih berpuasa sebagai protes terhadap Undang-Undang Kewenangan Khusus Angkatan Bersenjata (AFSPA). Undang-undang yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu memberi kewenangan khusus bagi kesatuan seperti Assam Rifles untuk menggeledah, menangkap, bahkan membunuh orang yang diduga mengancam keamanan.
Selama bertahun-tahun, AFSPA menjadi payung kekebalan hukum terhadap pembunuhan-pembunuhan oleh tentara dan polisi atas nama keamanan di sejumlah negara bagian yang dianggap area tidak aman atau disturbed area, seperti Manipur, Punjab, dan Jammu-Kashmir. Selama periode 1979 hingga 2002, menurut catatan Asosiasi Korban Pembunuhan Ekstrayudisial Manipur, ada 1.528 orang tewas dibunuh polisi atau tentara di negara bagian itu tanpa proses hukum memadai.
Selama hampir 16 tahun, Irom Chanu tak membiarkan satu tetes pun air, satu butir pun nasi, melewati lidahnya. Hanya selang lewat hidung untuk memasukkan cairan dalam tubuhnya yang menyambung hidup Irom. Akibat puasa ekstrem berkepanjangan, siklus menstruasi Irom ikut berhenti. Baru pada Selasa lalu, Irom membatalkan puasanya dengan olesan madu di lidahnya.
Aku tak akan melupakan peristiwa hari ini, kata Irom, dikutip Guardian, sembari berurai air mata. Menurut Irom, setelah berpuasa selama 16 tahun hampir tanpa hasil, dia memutuskan beralih strategi untuk melawan kesewenang-wenangan polisi dan tentara yang dilindungi AFSPA.
Irom Chanu memang belum memenangkan perlawanannya terhadap AFSPA. Undang-undang itu masih diberlakukan di Negara Bagian Manipur, kecuali di Ibu Kota Imphal. Padahal bulan lalu, Mahkamah Agung telah merekomendasikan pencabutan AFSPA di Manipur. Menurut Hakim Agung Madan B. Lokur dan Uday U. Lalit, penerapan AFSPA tanpa batas waktu adalah satu kesalahan.
Majelis hakim menolak pembelaan Jaksa Agung bahwa Manipur dalam kondisi perang melawan kelompok-kelompok pemberontak. Alasan Jaksa Agung hanya permainan kata-kata dan kami menolaknya, kata hakim Madan, dikutip Indian Express, pertengahan Juli lalu.[]Penulis/Editor: Sapto Pradityo, Desainer: Luthfy Syahban:Detik.com

