BANDA ACEH – Empat di antara puluhan jasad korban tsunami yang dipindahkan dari kuburan Gampong Sulue, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, masih dilengkapi identitas. Tiga di antara korban diketahui sebagai warga Aceh Besar.

Dari foto identitas yang ditemukan di kuburan tersebut, diketahui ketiga warga Aceh Besar yang diduga menjadi korban bencana tsunami itu adalah Muslim, SH. Almarhum tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, yang beralamat di Komplek Mutiara Cemerlang, Kajhu. Identitas jasad diketahui setelah para penggali mendapat kartu keanggotaan pustaka wilayah milik almarhum.

Selanjutnya, jasad Fajri Sanof A, SH, yang beralamat di Desa Lam Isek, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Dari keterangan kartu Surat Izin Mengemudi (SIM) yang ditemukan, almarhum diketahui kelahiran Lam Isek, 4 Juli 1972 dan bekerja sebagai pegawai negeri. Identitas lainnya yang ditemukan di kuburan korban tsunami tersebut adalah milik Anwar A Rahman. Dari SIM yang ditemukan diketahui Anwar merupakan warga Dusun Barat Lr Musalla Nomor 5  Kop Darussalam Syiah Kuala. Masih berdasarkan keterangan SIM tersebut, Anwar tercatat sebagai guru yang lahir di Aceh Utara pada 6 September 1975.

Selain identitas tiga warga Aceh Besar tersebut, pekerja juga menemukan satu identitas milik warga Lhokseumawe di kuburan korban tsunami Darussalam itu. Identitas berupa SIM ini tercatat atas nama Muhammad Dahlan Jamil, warga Paloh Awe, Kecamatan Muara Batu, Lhokseumawe. Dari data SIM tersebut diketahui Muhammad bekerja sebagai sopir yang lahir pada 13 Desember 1969.

Sebagai catatan, gempa yang disusul gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 lalu mengakibatkan ratusan ribu korban meninggal dunia. Musibah yang diklaim sebagai bencana kemanusiaan terbesar abad ini tersebut juga menyebabkan banyak warga yang kehilangan anggota keluarga mereka. Pihak pekerja kemanusiaan dari berbagai  belahan dunia, memakamkan sebagian besar korban tsunami dari Banda Aceh dan Aceh Besar di kompleks kuburan massal Gampong Siron Aceh Besar dan kompleks kuburan massal Ulee Lheue. Sementara korban meninggal akibat tsunami lainnya dikuburkan di lokasi terpisah yang tersebar dari Banda Aceh hingga Aceh Besar.

Sebelumnya diberitakan, puluhan kerangka korban tsunami dipindahkan dari kuburan massal Gampong Suleue, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Minggu, 4 Maret 2018. Pemilik lahan, yang menjadi lokasi kuburan massal ini, berencana menjual tanah tersebut dan sebagiannya disumbang untuk pembangunan masjid.

"Setahu saya tanah itu mau dijual. Kalau masih ada kuburan, tanah tersebut tidak ada yang mau beli sehingga kuburannya dipindah, nanti uang dari penjualan lahan akan disumbangkan ke masjid," kata Jamalis, salah satu warga yang ikut mengevakuasi jenazah korban tsunami saat ditemui portalsatu.com/, di tempat usahanya di kawasan Miruek Taman, Aceh Besar, Senin, 5 Februari 2018.

Jamalis menggali kuburan massal korban tsunami tersebut bersama 12 orang lainnya. Mereka turut dibantu alat berat saat penggalian.

“Di atas pakai bachoe, waktu mau dapat jenazahnya baru digali secara manual, pake cangkul, dan sekrop agar tidak merusak jenazah,” kata Jamalis.

Menurut keterangan Jamalis, puluhan jasad korban tsunami tersebut dipindahkan ke kompleks makam kuburan massal Miruek Taman, Aceh Besar. Sementara proses pemindahan jasad berlangsung satu hari.
 
Jamalis memperkirakan ada 60 hingga 70 jenazah yang dipindahkan dari lokasi awal ke kuburan massal korban tsunami Miruek Taman. Dari jumlah tersebut, empat di antaranya masih memiliki identitas.

“Empat jenazah ditemukan memiliki identitas, satu jenazah ada datang pihak keluarga, jenazah atas nama Anwar Arahman, tinggal di Cot Paya. Adeknya korban yang datang untuk memastikan, tapi langsung dikubur kembali bersama jenazah korban lainnya,” kata Jamalis.

Selain keluarga almarhum Anwar, Jamalis mengatakan ada beberapa rombongan keluarga korban tsunami lainnya yang datang ke lokasi saat penggalian. Namun Jamalis tidak menghafal nama-nama keluarga korban tersebut.

Dia mengatakan puluhan jenazah yang dipindahkan tersebut disusun tiga saf dalam satu liang, di lokasi pemakaman yang baru. Semua jenazah juga ikut diberikan kain kafan.

Tak hanya jasad korban tsunami, pemilik lahan juga memindahkan tiga makam yang diduga meninggal masa Kerajaan Aceh Darussalam. Ketiga jasad di makam kuno itu juga dikuburkan kembali bersama puluhan korban tsunami di kompleks kuburan massal Miruek Taman.

“Tiga kuburan tua tersebut juga digali, terlihat tulang belulangnya banyak yang tidak lengkap karena sudah lama sekali, dan ketiga jasad tersebut juga dikubur dalam satu liang kuburan massal itu,” katanya.[]