Rabu, Juli 24, 2024

Tinjau Venue PON XII,...

SIGLI - Pemerintah Kabupaten Pidie meminta rekanan terus memacu pekerjaan tiga venue yang...

Wali Nanggroe dan Mualem...

JAKARTA – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

Balai Syura: Perempuan Aceh...

BANDA ACEH - Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan...

Pemko Subulussalam dan Pemkab...

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menjalin kerja sama atau MoU dengan Pemerintah...
BerandaHeadlineIni Kata PMI...

Ini Kata PMI Aceh Utara Soal Utang Dana Rehab Rumah Sakit

LHOKSEUMAWE – Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Utara menyatakan sedang berupaya mencari dana untuk melunasi utang kepada PT Peugot Konstruksi sekitar Rp2 miliar sebagai biaya rehabilitasi rumah sakit.

“Tapi itu kan tidak mudah. Semakin dibuat hal-hal yang kontraproduktif itu semakin sulit lagi menyelesaikan (pembayaran utang),” ujar Pelaksana Harian Ketua PMI Aceh Utara, Iskandar Nasri, saat dihubungi portalsatu.com melalui telepon seluler, Rabu, 3 Februari 2021.

Oleh karena itu, PMI Aceh Utara berharap PT Peugot Konstruksi tidak melakukan tindakan yang dapat menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit tersebut. “Jadi, sebaiknya janganlah melakukan hal demikian. Karena dengan cara memasang spanduk seperti itu sudah berupa pencemaran nama baik (RS PMI Aceh Utara). Seakan-akan kita tidak mau membayar. Kita mau membayar dan sedang diupayakan,” tuturnya.

Namun, Iskandar Nasri mengaku juga memahami emosional pihak PT Peugot Konstruksi karena mungkin mengalami kesulitan lantaran RS PMI Aceh Utara belum melunasi utang. PMI Aceh Utara, kata dia, juga menghargai jasa baik perusahaan tersebut yang mau membantu merehab RS PMI.

“Pada awal-awalnya kita ada membayarnya sedikit, hampir Rp200 juta, setelah itu kita mengalami kesulitan lagi. Jadi, kita memahami juga kesulitan yang dia (PT Peugot Konstruksi) hadapi, tetapi kita juga kesulitan karena keuangan kita bergantung pada orang. Artinya, kalau tidak ada pasien yang masuk ke rumah sakit mau bagaimana,” kata Iskandar Nasri.

Menurut Iskandar Nasri, selama pandemi Covid-19 jumlah pasien RS PMI Aceh Utara sangat minim. “Rumah sakit tidak ditutup, cuma pasiennya sekarang tidak ada. Operasional tetap buka, tapi aktivitas dikurangi untuk mengurangi biaya listrik segala macam,” tuturnya.

“Begitu juga dengan gaji karyawan, belum juga bisa kita bayar sebagian. Karyawan ada sekitar 11 atau 12 orang,” ungkap Iskandar Nasri.

Iskandar Nasri menyebut untuk pembayaran utang sebagai dana rehab RS PMI Aceh Utara kepada PT Peugot Konstruksi tidak bisa menggunakan APBK. “Tapi sumber dana perolehan rumah sakit. Apakah nanti bisa cari dari investasi lain, dan itu sedang kita lakukan,” ujarnya.

“Kita pun sudah duduk dengan PMI provinsi untuk kita lakukan revitalisasi kembali rumah sakit itu, sedang melakukan langkah-langkah untuk menghimpun modal begitu,” ucap Iskandar. Nasri.

Diberitakan sebelumnya, PT Peugot Konstruksi sebagai rekanan yang merehabilitasi Rumah Sakit PMI Aceh Utara melakukan penyegelan terhadap RS tersebut, Selasa, 2 Februari 2021. Pasalnya, pihak rumah sakit itu belum melunasi biaya renovasi senilai Rp2 miliar.

Pantauan portalsatu.com, Rumah Sakit PMI di Jalan Sultanah Nahrasyiyah (dulunya Jalan Samudera), Lhokseumawe, itu disegel menggunakan rantai yang digembok di pintu kaca ruangan IGD. Pihak rekanan juga memasang spanduk di bagian kanopi rumah sakit tersebut bertuliskan “Selesaikan Hak Kami, Rumah Sakit Ini Disegel Sementara Waktu Sehubungan Dengan Pihak Rumah Sakit PMI Aceh Utara Belum Melunasi Hutang (Biaya Renovasi Gedung dan Infrastruktur Tahun 2018)”.

Direktur PT Peugot Konstruksi, H. Abdullah S.T., mengatakan pada awal 2018 pihak Rumah Sakit PMI Aceh Utara meminta bantu untuk merehab bangunan lantaran kondisinya dulu sering banjir ketika musim hujan. Selain menimbun lantai menjadi lebih tinggi, pihaknya juga merenovasi bangunan.

Menurut Abdullah, awalnya pihak RS PMI Aceh Utara berjanji akan melunasi pembayaran, sekitar enam bulan setelah selesai pekerjaan renovasi. Kenyataannya, kata dia, sampai saat ini belum ada pembayaran utang atau kewajiban rumah sakit itu.

“Rehab gedung itu dilakukan pada Maret 2018, prosesnya antara dua atau tiga bulan. Jadi, kita merasa dikhianati dan dizalimi karena tidak ada pembayaran sampai sekarang sudah hampir tiga tahun. Utang yang belum dibayar lebih kurang Rp2 miliar untuk renovasi seperti sarana gedung, IPAL di bagian belakang, parit serta semua sarana pendukung,” kata Abdullah kepada wartawan.

Abdullah menyebut pihaknya sudah menjumpai Ketua PMI Aceh Utara di Pendopo Bupati Aceh Utara. “Namun, hingga kini tidak ada realisasi, hanya janji-janji manis saja. Yang kita inginkan sekarang bukan janji, tetapi segera dibayar, karena sudah cukup lama bersabar,” tuturnya.

“Penyegelan ini sampai ada pernyataan dari pimpinan PMI sampai kapan misalnya ada jaminan, kapan dibayar, itu baru kita buka kembali,” ujar Abdullah.[]

Baca juga: