Inilah risalahku untukmu

kutulis tatkala purnama keenam:

Dengan nama Allah Tuhan Seru Sekalian alam.

Teruntuk kekasihku, Puan Zahraini.

Kutulis risalah ini di kala sitahon berbunga merah muda.

Bahwasanya inilah pernyataan hatiku yang telah menangisi hari-hari sepanjang tahun, dahulu masa.

Dan engkau tahu bahwa tangisan itu berakhir dan hatiku tersenyum riang kala menemukanmu.

Aku tidak tahu perasaan apakah itu namanya, namun perasaan itu kunamai “bahagia”, sesuatu yang tidak mendatangiku bertahun-tahun lamanya.

Sesungguhnya kebahagiaan mendatangiku tatkala kita berjumpa.

Demikianlah isi risalahku yang baru kutahu tidak pernah sampai padamu.

Karena ianya kutitipkan pada angin musim, yang kupercayai sebagai penghanrtar risalah terbaik, seperti merpati putih.

Aku menunggu risalah balasan darimu, namun, sementara musim-musim telah berlalu, tidak sampai jua balasan risalah darimu.

Maka kucarilah angin musim, kutemukan dia pada purnama keduabelas setelah bertahun.

Dan, dengan tanpa rasa, ia berkata, “Inilah risalahmu untuknya yang telah kusimpan sepanjang musim. Aku kehilangan alamatnya, dan tidak bisa mundur untuk menanyakan lagi padamu. Engkau telah mengarungi musim untuk sampai padaku. Maka ini risalahmu untuknya kukembalikan.”

Aku pun tidak sanggup berdiri. Lunglai. Hanya sayup terdengar suaranya.

Angin musim menghangatkan risalahku untukmu kala hujan dan meneduhkannya kala kemarau. Tapi yang kuingin risalahku untukmu dikirim.

Maka, kini risalahku untukmu yang tertunda diperbaharui dengan airmata. Lalu, kuserahkan sendiri kepadamu.Terimalah risalahku untukmu yang pernah tertunda.

Thayeb Loh Angen

Banda Aceh, 30 Agustus 2016.