Oleh Taufik Sentana*

Tulisan ini berdasarkan pertanyaan pada kanal Ust. Adi Hidayat (UAH) yang diajukan oleh jamaahnya. UAH ditanya perihal hadis yang menganjurkan untuk membunuh cicak. 

Sebelum menjawab, UAH terlebih dahulu membangun persepsi kita tentang penciptaan makhluk, setidaknya setiap makhluk memiliki tugas dan tasbihnya sendiri sebagai bentuk khidmatnya pada pencipta. 

Bila dikaitkan dengan hewan, maka ada tiga kekhususan penciptaannya bagi manusia. Pertama, hewan itu diciptakan untuk diambil manfaatnya. Seperti lebah, sapi, kambing dan sebagainya yang dihalalkan.

Kedua, hewan itu diciptakan untuk membawa mudharat (bahaya) yang dengannya manusia bisa belajar dan mengembangkan pengetahuan serta menambah keimanannya. Semisal nyamuk. Dan ini juga terkait dengan cicak tadi. Sebab cicak itu memakan nyamuk, sedang nyamuk merupakan hewan yang membawa penyakit juga. Bahkan disebutkan ada jenis penyakit yang disebabkan oleh cicak.

Jadi menurut UAH, perihal membunuh cicak ini sama kedudukannya dengan membunuh nyamuk dengan sedikit perbedaan pada riwayatnya. Karena cicak juga disebut Nabi Muhammad SAW sebagai hewan “fasik kecil”.

UAH menambahkan, sama dengan kehadiran nyamuk, adanya banyak cicak di rumah,  mengindikasikan ketidaksehatan, tidak bersih, berpeluang penyakit dan bahkan bisa mengundang jin, bila ketidakbersihannya parah.

Terkait ibrah penciptaan di atas tadi, poin ketiganya yaitu, hewan diciptakan sebagai  ujian karakter. Artinya ada hewan tertentu memiliki karakter buruk yang kita mesti menjauh dari sifat sifat buruknya. Seperti monyet yang gambarkan dalam Alquran sebagai  bentuk laknat Allah pada kaum Yahudi: Dimana monyet, menurut penelitiannya di Libya, memiliki sifat rakus, culas, merusak dan merampas.

Maka dalam kaitan ibrah ini, setiap kita mesti belajar menumbuhkan keimanan dan mengambil hikmah  lewat penciptaan makhluk berdasarkan tiga poin di atas tadi.

Sementara itu, karena kita berada dalam bulan Ramadan, maka bisa jadi ada  “cicak-cicak” dalam diri kita yang bakal  mendatangkan mudharat bagi tubuh dan jiwa kita, sehingga perlu dibasmi lewat puasa, menahan diri dan amal ketaatan lainnya di bulan ini.[]

*Ikatan Dai Indonesia. Kab. Aceh Barat