<!–StartFragment–><!–StartFragment–><!–StartFragment–>
Kopi tak lagi menjadi minuman orang tua. Kini, minuman satu ini “naik kelas”. Kopi bukan lagi sekadar penghangat yang enak diseruput hangat-hangat. Minuman ini telah bagian dari gaya hidup (lifestyle).
Kebanyakan orang minum kopi hanya untuk eksistensi diri. Mereka memamerkan kopi yang diminumnya di akun jejaring sosial. Hal ini membuat kafe-kafe kopi menjamur di kota-kota besar, termasuk di Jakarta. Masyarakat yang berkocek tebal, bisa menikmati kopi di kedai-kedai ternama.
Bagaimana jika berkantong tipis? Banyak penjual kopi keliling yang menawarkan segelas kopi dengan harga yang cukup murah. Pedagang kopi keliling ini kerap dijumpai di area Gelora Bung Karno, Sarinah, Bundaran HI, Monas, Taman Menteng, dan Taman Suropati. Tak hanya kopi yang mereka jajakan, tapi juga minuman-minuman lainnya seperti sirup dan teh.
Tapi, jangan memandang profesi ini sebelah mata. Para pedagang ini mampu meraup untung ratusan ribu rupiah per hari. Jika dikalkulasikan, mereka bisa mendapatkan penghasilan jutaan rupiah per bulannya.
<!–EndFragment–>Berikut Dream.co.id mengutip laman catatankecilku.net, tentang para penjual kopi keling.
Kopi seakan bukan lagi minuman bapak-bapak atau orang tua. Kopi kini menjadi gaya hidup, terutama di kalangan anak-anak muda. Minum kopi sekarang kebanyakan hanya untuk gaya-gayaan, pamer foto upload di sosial media, dan sekadar basa-basi.
Hal inilah yang membuat kafe sekarang banyak dibuka. Meskipun kafe sudah banyak dibuka, tak menyurutkan jumlah penjual kopi keliling, misalnya di Jakarta. Area di Gelora Bung Karno, Sarinah, Bundaran HI, Monas, Taman Menteng, juga Taman Suropati, merupakan beberapa tempat yang banyak terdapat pedagang kopi keliling.
Dengan tingginya persaingan penjualan kopi, kira-kira berapa ya pendapatan pedagang kopi keliling ini?
Seorang pedagang kopi keliling asal Sampang, Madura, Jawa Timur, bernama Kholil, mengaku telah menekuni usaha ini sejak enam tahun silam. Tanpa ragu, kholil membeberkan besaran uang yang ia terima selama menjajakan dagangannya. Di hari biasa, ia bisa mendapatkan uang sebesar Rp 250.000 per hari, sedangkan jika malam minggu ia bisa mengantongi Rp 450.000 per hari.
Namun, uang itu tak semua menjadi milik Kholil. Ia harus menyetor uang tersebut kepada bosnya di Kwitang. Bos yang tidak disebutkan namanya itu tidak hanya memayungi Kholil, tapi juga para pedagang kopi lainnya.
Lelaki yang logat Maduranya masih kental itu berkata, “Uang itu disetorkan sesuai dengan banyaknya kopi, teh, gula, dan minuman sachet lain yang dibeli kasbon. Nanti dicatat sama bos, barang apa saja yang dibeli kasbon dan laporan ke bos sisanya berapa. Terus uang yang saya dapat dikasih ke bos sesuai harga yang dibeli ke bos.”
Jadi, setelah dikurangi kasbon dan setor ke bos, uang yang diterima Kholil adalah sebesar Rp 90.000 – Rp 100.000, itu artinya dalam satu bulan Kholil bisa mengantongi uang sebanyak kurang lebih Rp 3.000.000.
Wow fantastis juga ya readers untuk ukuran pedagang kopi keliling![]Sumber:dream.co.id





