TAKENGON – Pria paruh baya itu sabar menunggu pelanggan. Kawasan keramaian di seputar kota Takengon menjadi tempat ia mangkal.

Kesehariannya menjual koran bekas. Harga yang diambil dengan separuh harga. Koran itu diperolehnya dari beberapa instansi pemerintah secara gratis.

Hari itu, ia mengenakan baju berkerah lengan panjang yang dipadukan celana kain coklat, tak lupa sepatu sport putih melekat di kaki.

Penampilannya mengingat penulis pada sosok jurnalis senior salah satu pimpinan surat kabar harian Jawa Pos, Dahlan Iskan.

Senin 7 November 2016 sekira pukul 11:45 Wib, portalsatu.com menjumpainya di sudut gedung Bank Aceh Cabang Takengon. Di sampingnya ada petugas bank. Keduanya saling berdiam diri dengan koran di tangan.

Belakangan diketahui ia bernama Hasballah Luttan. Ia lahir di Teupin Raya, Kabupaten Pidie, 79 tahun silam. Kini ayah 12 anak itu tinggal di Lampahan, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah. Di usianya yang lanjut, menyebabkan pendengaran Hasballah memudar.

Ia mengaku, beberapa anaknya juga telah sukses dan bekerja di instansi pemerintahan Provinsi Aceh. Lantas tidak menjadi penyebab pekerjaanya sebagai loper ditinggalkan.

Perhari ia mengaku dapat meraup keuntungan hingga Rp.70 ribu Rupiah. Uang itu dipergunakannya untuk membantu kebutuhan rumah tangga.

Kini, pria berdarah Aceh pesisir itu hidup bersama anak-anak, sementara isterinya telah berpulang beberapa waktu lalu.

Pekerjaannya menjual koran bekas bukan tak beralasan. Ia mengaku menjadi hobi untuk terlibat langsung menjadi penyaji informasi untuk publik.

“Ini hobi, kalau belanja sudah di tanggung anak saya,” kata Hasballah kepada penulis.

Ideologi jurnalismenya tinggi. Karirnya di dunia pers telah dinukil sejak 1966 silam. Hasballah ternyata sosok wartawan senior. Profesinya sebagai kuli tinta itu diketahui setelah adanya informasi dari Fitra Jayadi, karib penulis seprofesi.

Fitra Jayadi mengaku pernah sekampung dengan Hasballah. Sosok Hasballah diceritakan sangat tekun dalam beribadah. Ia juga menjadi guru pengajian di kampungnya.

Hasballah Luttan mengaku pernah menjadi wartawan Atjehpost, Mimbar Swadaya, yang kini ia sebut Serambi Indonesia dan Harian Angkatan Bersenjata (Sekarang Garuda-Red) terbitan Medan, Sumatera Utara.

Kepada penulis Hasballah juga menunjukkan Kartu PERS Harian Angkatan Bersenjata edisi Sumatera dan Kalbar dengan Nomor Register 127/V/85 di bawah penanggung jawab Y. Soeyadi yang dikeluarkan pada 13 Mei 1985.

“Di harian Angkatan Bersenjata dulu gajinya Rp.50 ribu/bulan, kala itu jumlah tersebut lumanyan besar,” kata pria berparas tampan saat terlihat di foto kartu pers itu.

Profesinya di dunia jurnalistik lantas ia tinggalkan lantaran beberapa media ternama mensyaratkannya untuk memiliki ijazah sarjana.

“Saya tidak punya ijazah S-1, tapi kalau media yang tidak mensyaratkan sarjana banyak, cuma saya kurang tertarik,” ujarnya.

Dahulu, Hasballah juga mengaku pernah menjadi pengajar di Sinar Siantar, satu lembaga pendidikan menulis yang beralamat di Sumatera Utara.

Banyak cerita yang penulis peroleh darinya. Mulai pengalaman pahit mendapat teror akibat pemberitaan hingga pujian dan tawaran menawan.[]