Resensi Buku Syair Rubai Syariat Musafir
Oleh: Zahraini Zainal
Dosen Universitas Bina Bangsa Getsempena, Banda Aceh.

Identitas Buku
Judul: Syair Rubai Syariat Musafir
Penulis: Thayeb Loh Angen
Penerbit: The Gayo Institute
Tahun Terbit: 2026
Tebal: 90 halaman

Buku Syair Rubai Syariat Musafir karya Thayeb Loh Angen merupakan kumpulan puisi religius yang menghadirkan perjalanan spiritual seorang manusia dalam proses hijrah menuju fitrah Islami. Karya ini bukan sekadar kumpulan syair biasa, melainkan catatan biografi rohani yang dituliskan dengan bahasa puitik, reflektif, dan sarat makna sufistik.

Sebagai penulis resensi, saya memiliki kedekatan emosional dengan karya ini karena sudah sangat lama mengenal sosok penulisnya. Perkenalan yang terjalin dalam waktu panjang membuat saya memahami bahwa syair-syair dalam buku ini bukanlah sekadar rangkaian kata indah atau imajinasi sastra semata, tetapi benar-benar lahir dari pengalaman hidup, pergulatan batin, dan perjalanan spiritual yang pernah beliau lalui.

Sosok Thayeb Loh Angen dikenal sebagai pribadi yang sederhana, penuh perenungan, dekat dengan nilai-nilai keislaman, serta memiliki kepedulian terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Dalam berbagai refleksi kehidupannya, penulis juga menggambarkan dirinya sebagai seorang manusia biasa yang pernah berada dalam kekhilafan dan dosa, lalu berusaha bangkit untuk kembali berhijrah menuju jalan Allah.

Pergulatan antara masa lalu, penyesalan, taubat, dan keinginan untuk memperbaiki diri itulah yang terasa sangat kuat dalam syair-syairnya. Karena itu, ketika membaca buku ini, saya merasakan bahwa setiap bait ditulis dengan kejujuran hati, ketulusan taubat, dan kedalaman pengalaman rohani yang nyata.

Dalam buku ini, pembaca diajak menyusuri jejak batin seorang musafir kehidupan yang pernah mengalami kegelisahan, keterasingan, luka, pencarian makna, hingga menemukan ketenangan dalam syariat dan kedekatan kepada Allah. Pengalaman-pengalaman hidup yang disampaikan terasa sangat personal, namun sekaligus universal karena dekat dengan realitas manusia modern yang sering kehilangan arah spiritual.

Keistimewaan buku ini terletak pada penggunaan bentuk “rubai”, yaitu puisi empat larik yang memiliki akar dalam tradisi sastra Persia dan Melayu-Islam. Tradisi rubai sendiri memiliki hubungan erat dengan perkembangan sastra sufi di Nusantara, khususnya melalui warisan sastra Melayu klasik. Syair-syair dalam buku ini memperlihatkan upaya penulis menghidupkan kembali tradisi sastra Islam yang sarat hikmah dan nilai kontemplatif.

Buku Syair Rubai Syariat Musafir, karya Thayeb Loh Angen, penerbit The Gayo Institute, 2026.

Bahasa yang digunakan Thayeb Loh Angen terasa sederhana namun mendalam. Setiap bait seperti mengandung renungan yang mengajak pembaca bercermin kepada dirinya sendiri. Tema-tema seperti taubat, perjalanan jiwa, kefanaan dunia, cinta Ilahi, keikhlasan, dan perjuangan melawan hawa nafsu menjadi napas utama puisi-puisinya.

Nuansa sufistik dalam buku ini terasa sangat kuat. Pembaca tidak hanya membaca puisi, tetapi seolah diajak memasuki ruang perenungan yang sunyi dan spiritual. Ada banyak simbol perjalanan, pencarian hakikat hidup, dan penyerahan diri kepada Tuhan yang diungkapkan dengan lembut namun menyentuh.

Kekuatan lain dari buku ini adalah kemampuannya menghadirkan kedekatan emosional dengan pembaca. Ada bait-bait yang terasa seperti doa, ada pula yang menyerupai pengakuan seorang hamba atas kelemahan dirinya. Hal inilah yang membuat karya ini terasa hidup dan manusiawi.

Namun demikian, bagi pembaca yang belum terbiasa dengan puisi sufistik atau bahasa simbolik religius, beberapa bagian mungkin memerlukan pembacaan yang lebih perlahan dan mendalam. Akan tetapi, justru di situlah letak keistimewaan karya ini: ia tidak menawarkan makna yang instan, melainkan mengajak pembaca berdialog dengan hati dan pengalaman spiritualnya sendiri.

Secara keseluruhan, Syair Rubai Syariat Musafir adalah karya sastra religius yang kaya nilai spiritual, budaya, dan estetika. Buku ini layak dibaca oleh pecinta puisi, pemerhati sastra Melayu-Islam, maupun siapa saja yang sedang mencari refleksi kehidupan dan makna hijrah dalam perjalanan menuju fitrah Islami.

Melalui syair-syairnya, Thayeb Loh Angen berhasil menunjukkan bahwa perjalanan menuju Tuhan bukanlah perjalanan yang mudah, tetapi selalu penuh harapan bagi mereka yang terus melangkah sebagai musafir jiwa.[]