ACEH UTARA — Kabut tipis perlahan turun menyelimuti perbukitan di pedalaman Aceh Utara. Suara burung liar bersahutan dari balik rimbunnya pepohonan hutan tropis, sementara gemuruh air terdengar samar dari kejauhan. Di balik alam liar yang masih perawan itu, tersembunyi sebuah mahakarya alam yang belum banyak dijamah manusia, Air Terjun 7 Bidadari.
Destinasi wisata alam ini berada di Desa Pulo Meuria, Kecamatan Geureudong Pase, Kabupaten Aceh Utara. Lokasinya jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dan tersembunyi di tengah kawasan hutan pedalaman yang masih sangat alami. Keindahan alamnya menjadikan Air Terjun 7 Bidadari sebagai salah satu permata tersembunyi di Tanah Rencong.
Namun, untuk menikmati keindahan air terjun tersebut, wisatawan harus melewati perjalanan panjang yang penuh tantangan. Dari Kota Lhokseumawe, perjalanan darat menuju kawasan Geureudong Pase memakan waktu sekitar satu setengah jam dengan jarak tempuh kurang lebih 50 kilometer.
Selepas permukiman warga, perjalanan berubah menjadi petualangan menembus alam liar. Pengunjung harus melanjutkan perjalanan selama sekitar empat jam melewati jalur hutan yang terjal dan licin. Medan yang dilalui tidak mudah. Lumpur setinggi lutut, jalan berbatu, akar pepohonan yang melintang, hingga tanjakan curam menjadi bagian dari perjuangan menuju lokasi air terjun.
Di musim penghujan, jalur menuju Air Terjun 7 Bidadari bahkan bisa berubah menjadi lintasan ekstrem yang cukup berbahaya. Karena itu, wisatawan dituntut memiliki kondisi fisik yang prima, stamina yang kuat, serta kesiapan mental sebelum memulai perjalanan.
Meski melelahkan, keindahan alam sepanjang perjalanan mampu menghapus rasa letih. Hutan hijau yang masih asri menghadirkan suasana tenang yang sulit ditemukan di perkotaan. Udara pegunungan yang dingin dan segar berpadu dengan suara gemericik aliran sungai kecil di sepanjang jalur perjalanan menciptakan sensasi petualangan yang menenangkan.
Sesekali, cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan tinggi dan memantul di atas dedaunan basah, menghadirkan panorama alam yang memukau. Bagi para pencinta alam dan petualangan, perjalanan menuju Air Terjun 7 Bidadari bukan sekadar wisata, melainkan pengalaman menyatu dengan alam liar Aceh.
Setibanya di lokasi, rasa kagum seketika menyelimuti siapa saja yang datang. Air Terjun 7 Bidadari tampil megah dengan aliran air jernih yang mengalir di antara bebatuan besar berwarna gelap. Air terjun ini memiliki beberapa tingkatan alami dengan jarak antar tingkat sekitar tiga hingga empat meter dan ketinggian rata-rata mencapai lima meter.
Air yang jatuh dari setiap tingkatan membentuk kolam-kolam alami yang bening dan menyegarkan. Suara gemuruh air berpadu dengan suasana hutan yang sunyi menciptakan nuansa damai yang begitu kuat. Tidak sedikit pengunjung yang memilih duduk berlama-lama di sekitar air terjun hanya untuk menikmati ketenangan alam yang masih murni.
Nama “7 Bidadari” sendiri menyimpan cerita yang telah lama hidup di tengah masyarakat setempat. Konon, air terjun tersebut dipercaya sebagai tempat mandi tujuh bidadari dari kayangan. Legenda itu diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat di kawasan Geureudong Pase.

Cerita rakyat tersebut menambah daya tarik tersendiri bagi Air Terjun 7 Bidadari. Banyak warga meyakini keindahan air terjun itu seolah mencerminkan pesona para bidadari dalam kisah legenda. Nuansa mistis yang berpadu dengan keheningan alam membuat tempat ini terasa begitu magis dan berbeda dari destinasi wisata lainnya.
Selain menawarkan panorama alam dan kisah legenda, kawasan Air Terjun 7 Bidadari juga menjadi surga bagi pecinta fotografi alam, pendaki, hingga wisatawan yang ingin melepas penat dari kesibukan sehari-hari. Banyak pengunjung datang untuk berkemah sambil menikmati suasana malam di tengah hutan yang sunyi dan sejuk.
Meski memiliki potensi wisata yang besar, kawasan ini masih minim fasilitas dan akses pendukung. Kondisi tersebut justru menjadi alasan mengapa keasrian Air Terjun 7 Bidadari tetap terjaga hingga kini. Alamnya masih bersih, airnya jernih, dan suasananya jauh dari polusi maupun keramaian.
Karena itu, kesadaran wisatawan untuk menjaga kelestarian lingkungan menjadi hal yang sangat penting. Pengunjung diimbau tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak pepohonan, serta tetap menjaga kebersihan kawasan hutan agar keindahan Air Terjun 7 Bidadari tetap lestari untuk generasi mendatang.
Air Terjun 7 Bidadari bukan hanya sekadar destinasi wisata alam. Tempat ini adalah simbol keindahan alam Aceh yang masih tersembunyi, menghadirkan perpaduan antara petualangan, ketenangan, dan legenda yang hidup di tengah belantara hutan Aceh Utara.
Menembus Hutan Aceh Utara, Pesona Air Terjun 7 Bidadari Memikat Wisatawan
Di balik lebatnya hutan pedalaman Kecamatan Geureudong Pase, Kabupaten Aceh Utara, tersembunyi sebuah destinasi wisata alam yang memikat, yakni Air Terjun 7 Bidadari. Keindahan alam yang masih asri dipadukan dengan legenda masyarakat menjadikan lokasi ini sebagai salah satu surga tersembunyi di Aceh.
Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, mengatakan Air Terjun 7 Bidadari memiliki daya tarik tersendiri karena menyuguhkan panorama alam yang eksotis sekaligus kisah legenda yang masih dipercaya masyarakat setempat.
“Nama Air Terjun 7 Bidadari berasal dari cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. Konon, tempat itu dipercaya pernah menjadi lokasi mandi tujuh bidadari dari kayangan,” kata Aidil, Sabtu (23/5/2026).
Air terjun yang berada di Desa Pulo Meuria itu dapat ditempuh sekitar 50 kilometer dari Kota Lhokseumawe. Namun, setelah perjalanan darat, wisatawan masih harus berjalan kaki sekitar empat jam menembus hutan untuk tiba di lokasi.
Perjalanan menuju air terjun terbilang cukup menantang. Wisatawan harus melewati jalan berbatu, tanjakan licin, hingga lumpur setinggi lutut, terutama saat musim hujan. Meski begitu, rasa lelah terbayar dengan panorama hutan hijau, udara pegunungan yang sejuk, serta suasana alam yang masih alami.
Setibanya di lokasi, pengunjung akan disambut aliran air jernih yang mengalir di antara bebatuan besar. Air Terjun 7 Bidadari memiliki beberapa tingkatan alami dengan ketinggian rata-rata sekitar lima meter yang menambah pesona eksotis kawasan tersebut.
“Selain menikmati keindahan alam, banyak wisatawan datang untuk berkemah, fotografi alam, hingga mencari ketenangan di tengah suasana hutan yang damai,” ujarnya.
Aidil juga mengingatkan wisatawan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan agar keindahan Air Terjun 7 Bidadari tetap terjaga dan dapat dinikmati generasi mendatang.
Menurutnya, Air Terjun 7 Bidadari bukan sekadar objek wisata, melainkan simbol keindahan alam dan kekayaan budaya Aceh Utara yang patut dijaga bersama. [Adv]








