Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaJika Tetap Ngotot,...

Jika Tetap Ngotot, Buaya yang Ditangkap Warga di Aceh Timur Bisa Mati

LHOKSEUMAWE — Warga Gampong Lhok Seuntang, Kecamatan Julok, Aceh Timur hingga hari ini masih enggan menyerahkan buaya raksasa ke pihak Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Rabu 14 Februari 2018. Warga meminta badan tersebut menyerahkan uang sebanyak Rp8 juta sebagai imbalan telah berhasil menangkap reptil tersebut.

“Usaha kita membujuk warga belum berhasil, warga meminta biaya sampai Rp8 juta agar buaya bisa diserahkan ke kita, di  BKSDA tidak tersedia dana untuk hal-hal seperti itu, setahu saya itu adalah kewenangan Pemda setempat bila  keberadaan reptil itu telah merugikan warga, seperti Dinas Sosial, sedangkan tugas kami konservasi hewan dilindungi,” ujar Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 BKSDA Aceh Dedi Irfansyah, saat dihubungi portalsatu.com.

Meski tidak tersedia dana kata Dedi, ada pihak ketiga yang sudah menyediakan dana sebesar Rp2 juta bagi warga yang telah bersusah payah menangkap buaya muara itu. Namun warga masih ngotot dengan angka Rp8 juta. Ia juga menilai imbalan sebesar itu terkesan seperti jual-beli, itu jelas melanggar aturan.

“Tadi kami bersama Kapolsek dan Kepala Desa setempat sudah berupaya untuk memberikan penjelasan kepada warga bahwa buaya adalah reptil dilindungi secara undang-undang dan tidak boleh dimiliki oleh pihak manapun. Bila terus berada di tangan warga dan mati siapa yang bertanggungjawab,” sebut Dedi.

Selain itu, katanya buaya muara itu sudah tua estimasi umurnya sekitar 70 tahun lebih. Hal itu terlihat dari kondisi giginya yang sudah banyak tanggal alias ompong, berat mencapai 600 kilogram, panjang hampir 5 meter dengan ukuran lebar 60 cm.

“Untuk seukuran itu, konsumsi makanannya minimal 60 kilogram daging, apa warga sanggup memberikan makan sebanyak itu? Kemudian bila dibiarkan terus-terusan dalam kondisi terikat, buaya itu rentan mati, karena umurnya sudah tua, jadi banyak resikonya,” terang Dedi.

Sepengetahuannya dari keterangan Kepala Desa setempat, selama ditangkap buaya itu baru diberi makan dua ekor ayam. Artinya reptil itu masih kelaparan dan stres karena masih dalam kondisi terikat. Bila dibiarkan terus menerus seperti itu, risikonya mati.

Ia berharap, warga memahami tugas BKSDA dalam hal ini mengamankan satwa dilindungi sesuai aturan, apalagi dalam Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya juga diatur masyarakat memiliki peran dalam melindungi satwa langka.

“Kalau memang setiap warga yang harus mendapat imbalan bila menyerahkan hewan dilindungi kepada BKSDA, berarti  sudah melanggar undang-undang, dan kami yang memberi uang juga akan terjerat hukum, dan bisa dibayangkan pemerintah harus menyediakan dana cukup besar untuk hal itu,” katanya.

Ia mencontohkan sudah banyak warga menyerahkan hewan langka yang dijadikan piaraan kepada pihaknya dengan cara sukarela. Konon lagi, hewan-hewan langka itu dibeli dari pihak-pihak tidak bertanggungjawab dengan harga mahal.

“Mereka sadar pentingnya menyelamatkan satwa langka dan menyerahkan secara sukarela, tidak ada imbalan sedikitpun. Termasuk baru-baru ini Dandim Aceh Besar Kolonel Inf Iwan Rosandrianto menyerahkan empat satwa dilindungi ke pihaknya, yaitu trenggiling, siamang, kura-kura, dan burung rangkong, beliau tidak meminta imbalan apa pun,” jelas Dedi.

Dedi menerangkan sudah melaporkan kondisi tersebut kepada Kepala BKSDA Aceh, untuk sementara petugas di lapangan masih menunggu perintah selanjutnya dari pimpinan.

Bila reptil itu diserahkan, rencananya akan dititipkan di kebun satwa di Kota Langsa, karena dilokasi itu ada kolam buaya dan kondisinya bisa dipantau secara kontinyu oleh dokter hewan.[]

Baca juga: