Ada beberapa hal yang menarik pada “muka tembok”. Ungkapan berbentuk frase yang belum masuk ke dalam KBBI ini artinya kurang lebih sama dengan “muka badak” atau “muka tebal”. Tidak punya rasa malu. Khazanah bahasa Jawa mengenal bentuk rai gedhek, muka bilik atau tepas.
Hal pertama yang segera tampak adalah bertemu atau bersandingnya dua buah kata yang kemudian membangun makna baru sama sekali, terlepas dari unsur-unsur pembentuknya. Ini hal yang jamak belaka dalam proses pembentukan kata majemuk atau frasa, satuan terkecil dalam bahasa setelah kata. Segera kita ingat pada matahariyang artinya sudah tak lagi menaut dengan baik mata maupun hari. Atau kacamata.
Mungkin tidak kita sadari benar, tiap kata mencari pasangan masing-masing dengan caranya sendiri. Pada contoh “muka tembok” tadi, misalnya, akan ada di antara anda yang bertanya-tanya bagaimana bisa pertautan dua kata inilah yang kemudian relatif langgeng, diterima oleh para pengguna bahasa Indonesia.
Mengapa bukan “muka dinding” atau “wajah dinding” atau “wajah tembok”? Contoh lain: “kitab suci”. Mengapa bukan “buku suci” atau “kitab keramat”. Atau mengapa, dalam bahasa Jawa, yang mendekat ke kata rai adalah gedhek, bukan tembok?
Bentuk awet “muka tembok” itu lalu kita lihat punya saudara: “muka badak” dan “muka tebal”. Bolehlah kita asumsikan dua bentuk terakhir ini diturunkan dari yang pertama. Kata berpasangan berupa frasa seperti ini cenderung tetap, sebeku bentuk matahariatau kacamata tadi.
Melalui rentang waktu yang relatif cukup lama, mereka menggumpal, berproses seolah-olah alamiah, seperti halnya pembentukan batuan sedimen konglomerat. Bentuk ini terbangun lewat pemakaian oleh penutur bahasa secara terus-menerus dan konsisten. Sampai akhirnya, dewasa ini, bentuk-bentuk tersebut kita terima dengan begitu saja.
Tentu akan sia-sialah apabila orang berkeras mematok sebuah rumus pembentukan kata majemuk seperti “muka tembok”. Tak ada faedah juga mencari-cari sebab mengapa “muka” lebih suka pada “tembok” daripada “dinding”, “kitab” pada “suci” daripada “keramat”.
Itulah jodoh kata yang bermula dari pilihan serampangan, tapi kemudian, setelah melampaui rentang waktu sekian lama, mendapat pengukuhan dari kesepakatan bersama para penutur bahasa.[]
Sumber: beritagar.id



