JAKARTA – Mantan fasilitator perdamaian Aceh, Juha Christensen, merasa prihatin dengan apa yang kini dialami Irwandi Yusuf terkait kasus DOKA dan proyek dermaga Sabang. Namun, Juha mengaku kurang mengikuti proses peradilan perkara yang menjerat Gubernur nonaktif Aceh itu.

“Dalam kapasitas pribadi, saya prihatin. Kami bersahabat baik,” ujar aktivis perdamaian kelahiran Finlandia ini saat ditemui portalsatu.com/ di Cikini, Jakarta, 5 Maret 2019 lalu

Juha menyebutkan, Finlandia negara dengan indeks korupsinya hampir 0%. “Dan saya antikorupsi,” tegasnya.

“Namun sepanjang saya tahu dan dalami semua daerah maupun negara dari bekas konflik, persoalan korupsi selalu ada, masalahnya memang rumit karena konflik,” kata Juha.

Sepengetahuan Juha, Irwandi cukup baik memimpin Aceh pascakonflik saat menjadi Gubernur 2007-2012. Juha menilai, tentu tidak mudah memimpin Aceh dengan keadaan dilanda tsunami dan baru selesai perang yang lama.

“Dua pekerjaan besar dalam waktu sekaligus dan sama-sama rumit. Namun hasilnya cukup jelas. Rehab rekon cukup sukses. Begitu juga perdamaian berlangsung sampai kini. Tentu ini harus kita apresiasi karena tidak lepas dari kepemimpinan gubernur dan tentu saja dibarengi kemauan rakyat,” jelasnya.

“Makanya saya sebut dia terbaik sebagai Gubermur Aceh pascakonflik. Tapi Pilkada 2012 arus besar Aceh mau dipimpin petinggi GAM membuat dia kalah. Tapi kemudian saya mendengar banyak kekecewaan berbagai pihak terhadap pemerintah pasca-Irwandi,” kata Juha yang kini bekerja di Singapura.

Oleh karena itu, ketika Irwandi terpilih kembali pada Pilkada 2017, Juha berharap banyak. Terutama mendorong implementasi hasil kesepakatan damai itu. “AMM tidak seluruhnya menyelesaikan tugas sesuai harapan. Namun secara keseluruhan cukup sukses,” tambah Juha yang sempat keluar masuk hutan Aceh demi merajut perdamaian Aceh.

Ditanya tanggapannya soal persidangan perkara Irwandi, Juha mengaku kurang mengikuti. Bagi Juha, ranah hukum biarlah berjalan. Tidak tepat bila dibawa ke ranah polemik.

“Kasus hukum, ya, saya tidak mengerti sekali. Dari pengamatan saya sebagai aktivis perdamaian memang semua dari konflik terjadi kasus korupsi. Butuh waktu lama untuk mengikis korupsi di bekas daerah konflik,” ungkap Juha.

Juha berharap apapun putusan hukum nantinya semakin memperkuat perdamaian Aceh. “Rakyat Aceh pasti cinta damai, maka mari terus berkomitmen. Saya bahagia bila perdamaian yang dirintis susah payah ini langgeng dan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi Aceh khususnya dan Indonesia pada umumnya,” jelas Juha yang sampai kini terus berhubungan baik dengan banyak tokoh Aceh.

Dia berkomitmen terus membantu Aceh sebatas kemampuan dirinya. “Sekarang saya membantu menyalurkan bantuan-bantuan dari rakyat Finlandia untuk Aceh walau kecil,” tegas Juha.

Juha berpesan rakyat Aceh harus memperkuat perdamaian, dan mendorong semua pihak untuk mengimplementasikan kesepakatan damai. “Tidak ada keberhasilan tanpa kebersamaan,” tandasnya.[]