LHOKSEUMAWE – Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lhokseumawe menggelar nonton bereng film dokumenter Lemah Kuasa di Tanah Negara. Nobar dilanjutkan dengan diskusi film itu berlangsung di Kantor AJI Lhokseumawe, Sabtu, 14 Desember 2024, malam.
Para peserta nobar itu adalah keluarga besar AJI Lhokseumawe, ketua dan anggota Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Lhokseumawe Raya, perwakilan HMI Lhokseumawe dan Aceh Utara, ketua dan anggota BEM Fakultas Hukum Unimal, dan peserta Kelas Angkatan VII Basri Daham Journalism Institute (BJI) Lhokseumawe.
Usai nobar, diskusi berlangsung intens. Sejumlah pertanyaan dari peserta dijawab oleh Koordinator FJL Aceh Munandar, Ketua AJI Lhokseumawe Zikri Maulana, dan juga Anggota DPRK Lhokseumawe Farhan Zuhri yang mendukung nobar itu.
Tim FJL Aceh telah pula menggelar pemutaran film Lemah Kuasa di Tanah Negara di Bener Meriah dan Aceh Timur, beberapa hari lalu, usai peluncuran dan diskusi film itu di Banda Aceh pada 5 Oktober 2024.
Munandar mengatakan film dokumenter tersebut dibuat oleh anggota FJL Aceh. Film berdurasi 22 menit itu menyoroti kerusakan hutan khususnya di Tenggulun, Aceh Tamiang, yang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Dampak perambahan hutan itu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab telah menyebabkan banjir di Aceh Tamiang.
Menurut Munandar, tujuan pemutaran film ini agar publik dapat melihat kondisi hutan di TNGL yang kini sangat memprihatinkan. “Dan kita harus menyelamatkan hutan dan lingkungan kita (Aceh), termasuk di Lhokseumawe dan Aceh Utara yang sering terjadinya banjir,” ujarnya.
“Dengan pemutaran film ini kita harapkan hutan (Aceh) dapat dijaga bersama-sama, karena satu pohon kayu yang ada di hutan sangat bermanfaat untuk manusia. Apalagi kita hidup berdampingan dengan alam, jadi ketika hutan tidak ada, banyak dampak yang terjadi, salah satunya banjir,” tambah Munandar.
Zikri Maulana menilai film dokumenter itu sangat berdampak bagi pemangku kepentingan.
Menurut Zikri, pada tahun 2022 lalu di Aceh Tamiang terjadi banjir besar selama dua minggu hingga melumpuhkan jalan lintas nasional beberapa hari. Hal itu terjadi akibat dari perambahan hutan di kawasan Leuser.
“Di Aceh Utara juga sering terjadi banjir dan belum ada langkah konkret (dari pemerintah) untuk mengatasi banjir. Masyarakat yang terdampak banjir bukan hanya perlu mi instan, tetapi langkah kongkret agar banjir tidak terjadi lagi,” ujarnya.
Farhan Zuhri mengapresiasi FJL Aceh yang telah membuat film dokumenter tersebut. “Dengan adanya film ini, semoga dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menilai lingkungan secara komprehensif”.
Menurut Farhan, film ini dampaknya besar dan pemerintah bisa konservasi lebih besar terhadap TNGL. “Semoga dengan film ini juga bisa meningkatkan kesadaran kita dalam menjaga lingkungan,” ucapnya.
Dalam konteks Lhokseumawe, Farhan menyebut wilayah kota ini yang hanya empat kecamatan dan tidak memiliki kawasan hutan yang luas seperti di daerah tetangganya. Namun, kata dia, semua pihak di Lhokseumawe tetap harus menjaga lingkungan agar tidak menimbulkan dampak banjir dan bencana alam lainnya.[]






