TAPAKTUAN – Jurusan Geologi Pertambangan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Samadua, Aceh Selatan, nihil siswa sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan dari empat jurusan pendidikan di sekolah vokasi tersebut, kekosongan siswa juga terjadi pada Jurusan Pemasaran.
Untuk Jurusan Pemasaran siswa yang ada tinggal 9 orang, mereka seluruhnya siswa kelas 3. Sedangkan kelas 1 dan 2 kosong. Sementara untuk Jurusan Geologi Pertambangan mulai kelas 1 hingga kelas 3 seluruhnya kosong, sama sekali tidak ada siswa, kata Kepala SMKN 1 Samadua, Drs. Saifuddin di Samadua, Senin, 31 Oktober 2016.
Saifuddin menyebut kekurangan siswa juga terjadi pada Jurusan Tehnik Komputer Jaringan (TKJ) dan Jurusan Tehnik Gambar Bangunan (TGB). Buktinya, untuk Jurusan TKJ dari kelas 1 hingga kelas 3 hanya memiliki 49 siswa, ditambah 2 murid masuk dari sekolah lain, sehingga berjumlah 51 orang. Sedangkan Jurusan TGB hanya memiliki 39 siswa ditambah 3 murid masuk dari sekolah lain, sehingga berjumlah 42 orang.
Dari jumlah keseluruhan siswa sebanyak 102 orang tersebut, jelas kami sangat kewalahan dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Karena tidak ada sumber pendanaan di sekolah ini selain berasal dari dana BOS dan iuran komite sekolah, ungkapnya.
Sebenarnya, kata Saifuddin, minat putra-putri tamatan SMP sederajat di Aceh Selatan khususnya dari Kecamatan Samadua ingin masuk SMK sangat banyak. Namun karena image atau gambaran yang ada di tengah masyarakat setempat jika bersekolah di lembaga pendidikan vokasi tersebut membutuhkan biaya mahal, sehingga para orang tua enggan mengizinkan anak-anaknya untuk menimba ilmu di sekolah kejuruan ini.
Kepsek SMKN 1 Samadua itu mengimbau kepada para orang tua dan masyarakat Aceh Selatan secara keseluruhan agar mengubah image tersebut. Sebab biaya yang dipungut pihak sekolah tersebut murni untuk membiayai seluruh kebutuhan para siswa selama melaksanakan praktek kerja lapangan di sejumlah perusahaan besar dan ternama di luar Kabupaten Aceh Selatan, bahkan ada yang di luar Provinsi Aceh.
Sebagai lembaga pendidikan vokasi yang metode pengajarannya lebih banyak praktek lapangan ketimbang teori, sudah barang tentu biaya yang dibutuhkan untuk menunjang program pengajaran secara maksimal juga lebih besar. Sebab sebagai lembaga pendidikan kejuruan yang mengedepankan skill atau keahlian memang sudah menjadi sebuah keharusan mendidik siswa-siswinya menjadi tenaga terampil yang siap pakai di pasar tenaga kerja maupun ketika terjun di bidang dunia usaha, papar Saifuddin.
Saifuddin mengatakan, sekolah vokasi yang dinegerikan pada tahun 2007 hingga tahun 2016 telah melahirkan alumni 8 angkatan. Tercatat telah mampu mengirimkan siswanya dalam melakukan praktek kerja lapangan ke beberapa perusahaan pertambangan berskala besar baik di dalam maupun luar Aceh.
Dia menyebut beberapa perusahaan pertambangan tersebut antara lain PT Madina Madani Mining di Mandailing Natal, Sumatera Utara dan PT Anugerah, PT Indo Pacific Energy, PT Mifa Bersaudara, PT Bara Energi Lestari seluruhnya berada di Kabupaten Aceh Barat. Selanjutnya, PT Bumi Babahrot, PT Wajah Niaga, PT Juya Aceh Mining di Kabupaten Aceh Barat Daya serta PT Pinang Sejati Utama di Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan.
Saifuddin menyatakan, SMKN Pertambangan Samadua juga memiliki fasilitas untuk menunjang proses belajar mengajar yang lengkap. Seperti laboratorium, ruang belajar serta tersedia tenaga pengajar berkompeten. Sebab dari 13 orang guru berstatus PNS di sekolah tersebut rata-rata lulusan Universitas Negeri Medan (Unimed) dengan disiplin ilmu dimiliki rata-rata Sarjana Tehnik.
Bahkan untuk meningkatkan kompetensi guru, kami juga telah memberikan beasiswa kepada dua orang guru untuk melanjutkan pendidikan S2 di Unimed, yakni Asmara Bakti dan Habibullah Hasibuan, sebut Saifuddin.
Dia menambahkan, sebagai bukti bahwa mutu pendidikan di sekolah tersebut tergolong bagus, beberapa siswanya juga menerima program beasiswa Bidikmisi di sejumlah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Di antaranya, Universitas Negeri Malang dan Universitas Negeri Padang.
Berdasarkan catatan kami, khususnya terhadap siswa tamatan Jurusan Geologi Pertambangan rata-rata tidak ada yang mengganggur. Sebab selain mayoritasnya melanjutkan pendidikan di universitas negeri terkemuka di Indonesia, sebagiannya juga telah diterima bekerja di sejumlah perusahaan pertambangan, pungkasnya.[]
Laporan Hendrik





