Persis di atas petak lahan yang selama puluhan tahun menjadi hamparan hijau tanaman padi, mata Herlina (43) kini menatap barisan tanaman jagung. Setahun lalu, tepatnya pada akhir November 2025, banjir bandang menerjang hebat Desa Pulo Siron, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Aceh. Air bah itu tidak hanya menyapu desanya, tetapi juga menyisakan trauma mendalam sekaligus melumpuhkan sawah yang menjadi urat nadi penghidupannya.
Upaya memaksa tanah tersebut kembali ramah pada padi lewat program padi gogo berakhir nihil. Enggan menyerah pada nasib, Herlina akhirnya merogoh kocek sendiri untuk membeli bibit jagung, membalik takdir lahannya demi sejengkal harapan baru.
Dari lahan seluas 300 meter persegi itu, Herlina bisa memanen jagung yang hasilnya cukup membantu menyambung napas dapur rumah tangga. Pendapatan dari pipilan jagung tersebut memang belum mampu menutup total kerugian materil akibat bencana. Namun, di tengah hamparan tanah yang belum sepenuhnya pulih, jagung-jagung itu menjadi sumber penghasilan yang sangat berharga.
Pengalaman pahit mencoba bertahan lewat program padi gogo menyisakan kekecewaan tersendiri bagi Herlina. Berniat bangkit, ia justru harus menanggung kerugian sekitar Rp500 ribu untuk membayar upah buruh tanam dan menyediakan air minum bagi para pekerja di sawah. Meski program bantuan itu digulirkan oleh pemerintah, komponen biaya operasional harian di lapangan tetap mencekik dompet petani.
“Kami harus menanam padi gogo terlebih dahulu. Kalau tidak, biaya membajak sawah harus ditanggung sendiri. Mau tidak mau, kami menanam dengan membayar upah orang. Alhasil, kami rugi.”
— Herlina (43), Petani Desa Pulo Siron, Selasa (20/10/2026).
Di tengah himpitan ekonomi yang kian nyata, Herlina terpaksa menguras sisa-sisa tabungan suaminya yang dikumpulkan dari hasil berjualan kelapa muda. Roda ekonomi keluarganya goyah karena usaha sang suami juga belum pulih terpukul dampak bencana. Kini, trauma itu membuatnya enggan menerima bantuan bibit padi gogo lagi. Jika boleh meminta, ia secara terbuka mengaku lebih memilih bantuan bibit jagung yang nyata memberikan hasil.
Sebelum banjir bandang mengubah segalanya, Herlina adalah potret petani mandiri yang mengandalkan kemakmuran bulir padi. Dari hasil panen saban tahun, ia mampu mengantongi sekitar 2,5 hingga 4,5 ton gabah kering, atau setara dengan nilai ekonomi Rp17 juta hingga Rp31 juta per tahun. Angka yang tergolong cukup untuk hidup tenang di desa sebelum bencana menyapu bersih sumber ketahanan pangannya.

[Tanaman jagung tumbuh subur di lahan sawah Desa Pulo Siron, Kecamatan Kuta Blang, Bireuen, direkam pada Selasa (20/10/2026). Foto: portalsatu]
Ikhtiar Jagung demi Menjaga Sawah Tetap Hidup
Langkah yang diambil Herlina bukan sebuah keputusasaan tunggal. Di sudut-sudut lain Desa Pulo Siron, Babah Jurong, hingga Desa Keureumbok, para petani mengambil keputusan serupa: menghijaukan sawah mereka dengan jagung.
Langkah darurat ini terpaksa diambil lantaran kerusakan parah pada jaringan irigasi Pante Lhong akibat luapan Sungai Peusangan hingga kini belum selesai diperbaiki. Tanpa pasokan air yang stabil, menanam padi sawah konvensional adalah sebuah kemustahilan.
Di Desa Babah Jurong, Yasin (58), tampak tekun merawat tanaman jagungnya di sawah. Sembari menunggu uluran tangan pemerintah memperbaiki irigasi, ia memilih terus bergerak.
Yasin berkisah, ia sempat menerima paket bibit padi gogo di Desa Dayah Panjo, namun bibit itu berujung sia-sia di dalam karung karena musim kemarau ekstrem yang melanda.
“Kami memanfaatkan lahan pertanian ini agar tidak ditumbuhi semak belukar. Jadi, ketika sawah kembali produktif dan irigasi normal, lahan bisa digunakan lagi,” tutur Yasin optimis di sela-sela aktivitasnya menabur pupuk.
Pilihan mengalihkan komoditas ini bukannya tanpa gejolak batin. Menanam jagung di atas bekas lahan sawah tetap membawa bayang-bayang risiko gagal panen. Yasin mengakui, ketiadaan informasi resmi dari dinas terkait mengenai kepastian jadwal musim tanam baru di tengah rusaknya ekosistem air membuat para petani seperti berjalan dalam kegelapan.
Jauh dari sana, di Desa Keureumbok, Edinur (36) sibuk membabat semak liar yang mulai menjajah sawah telantarnya. Baginya dan petani lain, jagung adalah simbol perlawanan terhadap keadaan—sebuah cara agar tanah warisan leluhur mereka tetap berproduksi dan tidak mati menjadi padang ilalang tak berguna.

[Jagung siap panen di Desa Pulo Siron, Kecamatan Kuta Blang, Bireuen, direkam pada Selasa (20/10/2026). Foto: portalsatu]
Ketika Lumbung Padi Harus Membeli Beras
Ironi terbesar yang harus ditelan para petani Bireuen pascabencana adalah perubahan drastis pada pola konsumsi rumah tangga mereka. Mereka yang dulunya adalah produsen pangan dan pengisi lumbung-lumbung desa, kini justru harus “mengantre” di toko kelontong untuk membeli beras demi kebutuhan makan sehari-hari.
Yasin membeberkan betapa beratnya memutar otak demi bisa membeli beras eceran, sementara jagung yang ditanamnya sebagai tumpuan modal baru menginjak usia 22 hari. Sawah di desanya lumpuh total akibat sedimentasi lumpur pekat dan pasir bawaan Sungai Peusangan yang menyumbat seluruh urat nadi saluran irigasi.
Kisah pilu senada meluncur dari bibir Herlina. Begitu masa tanggap darurat resmi berakhir dan bantuan logistik disetop, ia harus memeras keringat lebih deras untuk bisa membeli beras kalengan di pasar sesuai dengan kondisi keuangannya yang fluktuatif. Padahal saat awal bencana, pasokan pangan pokok mereka sepenuhnya bergantung pada bantuan darurat pemerintah dan para dermawan.
Ribuan Hektare Sawah Terkubur Lumpur
| Tingkat Kerusakan | Luas Lahan | Status Penanganan / Rehabilitasi |
|---|---|---|
| Rusak Ringan | 681 Ha | Sudah direhabilitasi oleh Dinas Pertanian |
| Rusak Sedang | 1.950 Ha | Sudah direhabilitasi oleh Dinas Pertanian |
| Rusak Berat | 1.323 Ha | Belum ditangani / Belum tersentuh perbaikan |
| Total Terdampak | 3.954 Ha | 2.677 Ha Selesai / 1.323 Ha Masih Lumpuh |
*Sumber Data: Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen (Oktober 2026)
Angka kerusakan sektor pertanian di Kabupaten Bireuen pascabencana akhir November 2025 tersebut memang tergolong masif. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Mulyadi, menjelaskan bahwa sedimentasi luapan Sungai Peusangan menjadi penyebab utama lumpuhnya ribuan hektare sawah warga.
Meski sebagian besar lahan berkategori rusak ringan dan sedang kini sudah selesai direhabilitasi, tantangan terbesar pemerintah daerah berada pada pemulihan lahan rusak berat. Pasalnya, 1.323 hektare sawah yang masuk dalam kategori ini penanganannya hingga kini masih tertatih-tatih dan belum tersentuh perbaikan menyeluruh.
Di tingkat tapak, lambatnya penanganan lahan rusak berat ini diperparah oleh kegagalan program kedaruratan yang sempat digulirkan. Di Desa Pulo Siron misalnya, lahan rehabilitasi seluas lebih dari 50 hektare yang sempat ditanami padi gogo justru berakhir mati meranggas akibat dihantam kemarau panjang.
Mulyadi tidak menampik kondisi tersebut. Ia meluruskan bahwa ada miskonsepsi mengenai daya tahan varietas ini di tengah krisis air ekstrem.
“Penanaman padi gogo kami laksanakan di Gampong Pulo Siron, Kecamatan Kuta Blang, dengan luas lahan mencapai lebih dari 50 hektare,” jelas Mulyadi.
Ia menambahkan, varietas ini tetap membutuhkan asupan air memadai pada fase-fase awal pertumbuhannya yang krusial. “Padi gogo juga membutuhkan air, bukan sama sekali tidak membutuhkan air,” tegasnya.
Siasat Bertahan Hidup di Atas Tanah Bencana

[Tanaman padi gogo di pekarangan rumah Nur Asiah di Desa Kubu, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, direkam pada September 2026. Foto: Dok. portalsatu]
Ketika hamparan sawah utama menyerah pada cuaca dan sedimentasi, kreativitas untuk menyambung hidup justru tumbuh secara organik dari pekarangan rumah warga. Langkah tak menyerah ini salah satunya diperlihatkan oleh Nur Asiah (48), penyintas bencana di Desa Kubu, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.
Bahkan dengan modal seadanya, Nur Asiah mencoba menanam padi gogo menggunakan sisa-sisa bibit pemberian kerabatnya di sekeliling rumah. Saban hari ia bekerja dua kali lipat lebih keras; mengurus kebun mini di rumah lalu memikul sayuran hasil panennya untuk dijual di pasar tradisional demi mengais rupiah demi rupiah.
Kisah ketangguhan perempuan tani juga tercermin dari Zahrawati (32), warga Gampong Geulanggang Meunjee, Kecamatan Kuta Blang. Sawah miliknya seluas 6.000 meter persegi yang terletak di Desa Babah Suak teronggok mati, terkubur lumpur tebal yang telah mengeras selama hampir setahun tanpa ada tanda-tanda alat berat datang memperbaiki.
Demi menyambung hidup anak-anaknya, Zahrawati dan sang suami memilih beralih profesi total menjadi penjual bakso keliling. Padahal sebelum bencana, sawah suburnya mampu menyumbang 5 hingga 7 ton padi per tahun untuk ketahanan ekonomi keluarga. Kini, mereka harus puas dengan pendapatan harian sekitar Rp100 ribu dari hasil berdagang bakso.
Besar harapan Zahrawati agar pemerintah tidak melupakan nasib mereka dan segera menurunkan bantuan normalisasi lahan. Menanam jagung, memanfaatkan sisa pekarangan, hingga berganti profesi menjadi pedagang makanan adalah potret nyata jalan panjang nan sunyi yang ditempuh para petani Bireuen untuk bertahan hidup, sembari terus merawat asa agar air irigasi kembali mengalir dan menghijaukan sawah mereka suatu hari nanti.[]




