“Umur Aceh dari awal perdamaian sampai hari ini, kan baru memasuki 18 tahun. Tak mungkin selurus yang kita bayang. Republik Indonesia sudah merdeka 78 tahun, tapi regulasinya juga masih carut marut,” kata Kanda Syukri.

Menyikapi persoalan Aceh hari ini yang tampak begitu absurd dan penuh carut–marut. Ketua Persaudaraan Aceh Serantau (PAS) Aceh, Kanda Syukri SH. MH mengajak semua lapisan masyarakat untuk dapat bertabayun dan intropeksi diri. Mengingat, persoalan Aceh kini, semakin hari semakin memprihatinkan.

Menurut pria yang karib disapa Kanda Syukri itu, persoalan sosial Aceh hari ini sangatlah kritis, terlebih etika dan serapan masyarakat terkait bentuk-bentuk provokasi yang amat mulus berjalan.

Hal ini terjadi, kata Kanda Syukri, dikarenakan pondasi pemikiran yang belum cakap dalam menyerap suatu informasi. Sehingga mudah bagi orang Aceh terjebak dalam narasi-narasi provokasi yang tujuannya jelas untuk membentur kekokohan pondasi sosial masyarakat yang telah lama terbina.

Ia menyebutkan, lumrahnya masyarakat Aceh hari ini adalah menuntut kesejahteraan dalam arti lain kesempurnaan pasca adanya damai dan partai lokal (parlok). Namun, hasrat itu tentu tak dapat diatasi dalam waktu yang singkat dan terbatas.

“Republik juga belum sempurna, pasca kemerdekaan. Setiap presiden berganti, regulasi dan undang-undang selalu direvisi. Bahkan korupsi terjadi di mana-mana, padahal diisi oleh kalangan-kalangan berpendidikan.

Namun, sambung Kanda Syukri, faktor republik seharusnya menjadi referensi bagi rakyat Aceh dalam upaya perbandingan. Tak ada kesempurnaan. “Apalagi Aceh yang pasca damai dipimpin Partai Aceh yang notabene hanya memiliki kemampuan yang terbatas”.

Baca juga: Kanda Syukri: Partai Lokal Bagian dari Marwah Aceh

Sebenarnya, lanjut Kanda Syukri, bukan hanya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) semata yang pengetahuannya terbatas. Semua orang Aceh bagian dari korban dari pendidikan akibat konflik yang panjang.

“Bila kita justifikasi langsung, orang GAM salah, ini kacau. Umurnya perdamaian baru 18 tahun. RI saja sudah merdeka hampir 1 Abad, masih carut–marut. Apalagi Aceh yang baru keluar dari zona konflik,” imbuhnya.

Kanda Syukri menuturkan, bila memvonis personal, jangan korbankan secara umum. Itulah sebenarnya yang perlu digarisbawahi.

Pemilu Legislatif 2009

Ia menjelaskan, proses demokrasi di Aceh pasca konflik terjadi pada 2006. Kemudian pada pemilihan legislatif pada 2009, partai lokal yang saat itu satu-satunya hanya mendapat suara 42%.

“Padahal itu sebuah sinyal yang diberikan oleh RI untuk Aceh. Seandainya, diberikan referendum menang tidak. Nyatanya Aceh kalah,” pungkasnya.

Kanda Syukri menyatakan, pada paru awal perdamaian, Aceh hanya menguasai 42% perwakilan dari partai lokal PA di parlemen, sementara 58% dikuasai oleh perwakilan partai nasional.

“Tapi kita menganggap Aceh menang, padahal tidak,” ulasnya.

Lima tahun pertama pasca damai, tambah Kanda Syukri lagi, Aceh masih dalam tahapan meraba-raba, bagaimana cara berpolitik, administrasi, regulasi anggaran dan semua hal yang berkaitan dengan pemerintahan yang semuanya diikat oleh aturan undang-undang.

“Artinya, Aceh ibarat bayi yang baru bisa berjalan ( meniti langkah),” tuturnya.

Ia menganggap, persoalan carut- marut Aceh sepanjang perdamaian merupakan suatu yang wajar. Sebab, Aceh bagaikan bayi kecil. “Anak kecil bila dikumpulkan, pasti akan berbaku hantam. Sebab akalnya belum penuh”.

Lebih lanjut, Kanda Syukri menyebut, Aceh harus kembali membangun mindset dasar. Kembali ke apa yang dulunya diperjuangkan oleh para pendahulu. Di antaranya, mengenal jati diri, menaikan marwah dan martabat.

“Martabat dan marwah itu dengan akan kembali ketika kita bisa memperjuangkan identitas kita. Identitas kita hari ini salah satunya parlok,” tegasnya.

Aceh Masih Punya Kesempatan

Hari ini, Kanda Syukti mengatakan, Allah SWT masih memberikan kesempatan dan peluang untuk Aceh. Namun, Aceh mesti menyatukan visi dan misi dengan pondasi yang kuat dan matang.

Hal ini penting, mengingat pada pemilu 2024 mendatang, Aceh punya 6 partai lokal yang telah mendaftar sebagai peserta pemilu. Tetapi, kita harus sadar.

“Di sana ada PA, yang notabenenya adalah pondasi utama, ada partai SIRA dihuni para aktivis. Ada beberapa parlok lain yang dipimpin kalangan ulama, berlatar belakang dayah seperti GAPTHAT, PAS. PDA. Juga ada PNA,” terangnya.

Menurut Kanda Syukri, hal ini merupakan suatu paket yang kongkrit. Bagaimana menjadi parlok-parlok ini menjadi satu icon. Membangun masyarakat yang madani dan sejahtera.

“Tapi kita jangan pernah lagi melihat ke belakang,” timpalnya.

Ia mengatakan, dalam hal ini, PA juga harus membuka ruang, mengisi orang-orang yang kompeten dan ahlinya. Sebab, bila sesuatu tidak diberikan pada ahli, maka akan tak berjalan sesuai rencana.

Di samping itu, sebut Kanda Syukri lagi, dengan demikian semua parlok di Aceh nanti punya ruang, baik partai SIRA, PNA, PDA, PAS dan GAPTHAT.[]

Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen.