“Rakyat Aceh harus mempertahan keberadaan partai lokal (parlok). Sebab itu bagian dari marwah dan martabat,” kata Kanda Syukri.

Ketua Persatuan Aceh Serantau Aceh, Syukri, SH. MH atau yang akrab disapa Kanda Syukri mengatakan, hal yang amat penting bagi masyarakat Aceh adalah mempertahankan keberadaan partai lokal.

Hal itu disampaikan pegiat sosial itu ketika ditemui portalsatu.com, Selasa malam, 24 Januari 2023 di Banda Aceh. Menurutnya, penting bagi orang Aceh untuk tidak terjebak dalam carut-marut dengan kondisi yang sedang mendera Aceh saat ini.

Bagi pengusaha muda itu, kondisi Aceh hari ini tak layak dipaksakan untuk dipikul oleh sepihak, personal individu maupun kelompok. Namun, apapun persoalannya, Aceh adalah tanggung-jawab bersama semua lapisan.

“Sebelum kita berbicara parlok, kita harus kembali ke dasar dulu. Sebab, sesuatu pasti ada sebab akibatnya,” ujarnya.

Sebelum berbicara itu, Kanda Syukri menjelaskan, bagaimana awalnya melihat kehadiran partai lokal sebagai icon atau simbol baru bagi Aceh. Sebab, di republik ini hanya Aceh yang memiliki partai lokal dan sah secara hukum.

Mesti Kembali ke Jati Diri

Hari ini, kata Kanda Syukri lagi, orang Aceh harus kembali ke membangun pola pikir (mindset) dan ideologi dasar. Artinya, rakyat harus memperjuangkan identitas diri sebagai bangsa yang bermartabat.

“Hari ini Aceh punya parlok, itu kebanggaan dan intensitas kita sebagai orang Aceh,” tegasnya.

Baca juga: Partai Aceh akan Bentuk Satgas, Antisipasi Politik Uang pada 2024

Kanda Syukri memaparkan, bila mahu maju, maka jangan menoleh ke belakang. Jadi masa lalu itu sebagai pengalaman dan pengajaran. Tak ada alasan untuk menyalahkan antar sesama. Sebab, umur perdamaian Aceh masih sebiji jagung.

Pasca perdamaian sampai dengan hari ini, urai Kanda Syukri bukanlah waktu yang cukup untuk memperbaiki Aceh dengan segala ketertinggalan dan keterpurukan setelah melewati perang panjang dan tsunami.

“Masih begitu dini Aceh dipimpin oleh parpol, jadi jangan menuntut sempurna. Indonesia saja yang telah merdeka 78 tahun, masih belum sempurna. Masalah di mana-mana. Apalagi Aceh yang usianya masih bayi,” tandasnya.

Ia menyebutkan, dalam konteks politik Aceh hari ini, partai lokal mesti menyatukan visi dan misi yang jelas sesuai dengan pondasi dasar. Supaya marwah dan martabat Aceh di mata negara-negara lain dipandang mulia.

“Adanya partai lokal di Aceh menjadi catatan sejarah. Semoga nantinya generasi Aceh mampu melanjutkan estafet ini dengan pemikiran yang lebih matang,” ulasnya.

Kembali ke Pondasi Awal

Kemudian, dia mencontohkan, bagaimana provinsi Jawa Tengah menjadi trah politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI) yang dibentuk dengan icon Soekarnois, lalu dipimpin oleh Megawati Soekarno Putri. Sampai hari ini menjadi partai besar dan parpol penguasa.

“Bagaimana PDIP, di masa Orde Baru tak begitu berkiprah, tetapi menjadi partai penguasa hari ini,” imbuhnya.

Jadi, tambah Kanda Syukri, jangan melihat segi masalah di Megawatinya, tetapi bagaimana mereka (PDIP) membangun ideologi dan mindset politik itu sendiri. Itu yang penting untuk dicontoh.

Nah, sambung Kanda Syukri lagi, berbicara Aceh dan partai lokalnya, hampir sama dengan berbicara PDIP. Dulu, PDIP juga berjuang mati-matian sebelum reformasi. Pasca 98 tumbangnya Soeharto, PDIP eksis dan menjadi partai yang diperhitungkan. Demikian juga dengan partai lokal Aceh.

“Aceh juga punya pondasi dasar yang telah dibangun oleh Tgk. Hasan Di Tiro. Artinya, ada perjuangan panjang sebelum partai lokal ini ada,” tandasnya.

Menurut Kanda Syukri, pondasi ideologi yang dibangun oleh Tgk. Hasan Di Tiro merupakan suatu pondasi yang kokoh. Bagaimana orang Aceh kemudian mengenal jati dirinya sendiri. Punya pemikiran yang cerdik dan maju; brilian cara berpikirnya.

“Hal yang pahit dalam perjalanan Aceh yang digagas Tgk. Hasan Di Tiro adalah pondasi cara berpikir kita, walaupun cita-cita Tgk. Hasan ingin memisahkan diri dari republik. Tapi ini harus menjadi hikmah untuk Aceh,” pungkasnya.

Artinya, jelas Kanda Syukri, Tgk. Hasan Di Tiro membangun pondasi berpikir supaya kita (Aceh) merdeka dalam segala aspek. Merdeka mengeluarkan pendapat, merdeka ekonomi, selain itu sebagai wujud jati diri atau identitas sebagai orang Aceh.

Hasil dari perjuangan panjang Hasan Di Tiro, sebut Kanda Syukri, telah berhasil membangun episentrum Aceh yang sebenarnya. Baik lahirnya kalangan aktivis, kalangan cendekiawan, kalangan ulama, bahkan kalangan akademisi, sampai dengan trah yang paling bawah.[]

Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen.