ACEH UTARA – Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran mengerahkan puluhan prajurit TNI untuk melakukan karya bakti di Dayah Darul Ijabah Ratu Nahrisyah, Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Kamis, 17 April 2025.

Yayasan dayah tersebut dikelola oleh Ummi Juariah. Dayah yang beroperasi sejak tahun 2009 itu hingga kini dihuni ratusan anak panti asuhan dari keluarga kurang mampu yang menjadi santri dan santriwati dengan usia bervariasi. Namun, mereka menimba ilmu agama Islam dengan fasilitas kurang memadai.

Kondisi ini mengundang perhatian dari Danrem Lilawangsa, sehingga ia menugaskan puluhan prajuritnya untuk bergotong royong membersihkan lingkungan asrama dayah. Prajurit TNI juga merenovasi berbagai fasilitas dayah tersebut, seperti plafon asrama, plester lantai musala, pagar, tangga, toilet, dan sejumlah kamar mandi.

Karya bakti di dayah tersebut bagian dari peran TNI AD dalam pembinaan teritorial (binter). Tidak hanya itu, Korem Lilawangsa juga membantu pembuatan 30 akta kelahiran bagi para santri sebagai bentuk dukungan administratif.

Danrem Ali Imran mengatakan ia menginginkan para santri dayah dapat lebih fokus dalam belajar karena mereka merupakan generasi penerus bangsa. Dia juga ingin ke depan dayah itu bisa mandiri, misalnya memiliki usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pihak dayah tersebut ingin memelihara kambing yang dapat menjadi salah satu sumber pendapatan bagi yayasan itu.

Ali Imran menilai ide itu sangat bagus, karena bagian dari program ketahanan pangan.

“Saya juga putra daerah asli Aceh. Saya ingin mengajak anak-anak dayah bisa mandiri selain belajar mengaji. Saya pun mau nanti di sini ikut beternak kambing bersama anak dayah. Sebagaimana dalam hadis Nabi SAW, menuntun kita bagaimana mengajarkan anakmu memanah, berkuda, berdagang, dan bergembala, itu sangat bermanfaat,” ujar Danrem Ali Imran saat meninjau karya bakti di dayah itu.

[Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran mengamati kondisi Dayah Darul Ijabah Ratu Nahrisyah. Foto: Penrem Lilawangsa]

Danrem menjelaskan walaupun ia sudah lama menjadi tentara, tapi tetap mengetahui urusan dasar agama. “Saya juga orang Aceh, lahir dan besar di Aceh, saya juga ngaji dulu, kena pukul juga pakai bambu di kejar sama ustaz. Jadi, selama saya menjabat di sini (sebagai Danrem Lilawangsa) akan berusaha membangun, seperti membuat sumbur bor di dayah-dayah,” ungkapnya.

Dia pun melihat langsung kondisi air di Dayah Darul Ijabah Ratu Nahrisyah itu. “Airnya kurang bagus, bayangkan di situ ada santri ratusan, mereka tergantung sama air yang ada di bak kolam itu. Kemudian airnya kuning, di situ dia mandi, di situ dia nyuci, di situ dia masak, akhirnya, maaf, ada yang kena penyakit kulit, gatal-gatal. Padahal, kebersihan itu sebagian daripada iman. Termasuk kamar mandi belum ada sanyo, nanti akan saya bantu sanyo (pompa air),” kata Danrem Ali Imran.

Danrem mengatakan ke depan dayah di Aceh dengan kehadiran TNI AD diharapkan para santri ada yang masuk tentara. “Karena sudah banyak yang jadi tentara, dari Caba Santri (penerimaan calon bintara/Caba prajurit karier TNI AD yang memiliki jalur khusus bagi santri)”.

“Biar ke depan di militer ini ada ulama-ulama juga sebagai ujung tombak pertahanan negara,” tambah Danrem Ali Imran.

Danrem menjelaskan dengan upaya TNI AD dalam meningkatkan pembinaan teritorial wilayah, diharapkan kegiatan karya bakti terus berlanjut untuk membantu kesulitan dialami masyarakat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memajukan daerah.

“Sebenarnya ini sudah kegiatan rutinitas satuan teritorial. Saya itu fokus pembangunan sumur bor, termasuk melestarikan berbagai situs sejarah, seperti makam Pahlawan Nasional Cut Meutia. Mungkin kalau ada yang nanya, ngapain rawat makam itu di tengah hutan belantara? (Yang bertanya seperti tidak paham) Padahal itu nenek kita, pejuang kita melawan Belanda. Makam-makam di tempat lain jadi situs sejarah megah, sementara kita, tidak dipedulikan. Apapun itu, kita harus menghargai jasa pahlawan,” tuturnya.

Selain puluhan prajurit TNI, karya bakti itu turut dihadiri Kasrem 011/LW Letkol Inf Eko Wahyu Sugiarto, para Kasi dan Pasi Korem 011/LW, Camat Samudera Ilyas, keuchik (kepala desa) serta masyarakat Kuta Krueng, dan anggota pramuka.[]