LHOKSUKON – Sejak kecil ia didoktrin orang tuanya untuk menjadi seorang taruna. Berawal dari didikan ala militer sang ayah, akhirnya tertanam di hatinya untuk menjadi seorang polisi. Keberuntungan pun berpihak pada Iptu Sandy Titah Nugraha, SIK. Ia masuk Akademi Kepolisian (Akpol) melalui jalur bakat dan berhasil lulus pada tahun 2012.

“Dulu ayah saya sempat mendaftar di Akmil (Akademi Militer), setelah lulus berangkat ke Magelang. Kakek saya yang seorang tentara tidak ingin anaknya (ayah saya) mengikuti jejak yang sama. Kemudian kakek saya menyurati pihak Akmil dan meminta anaknya dikembalikan lagi ke rumah, hingga akhirnya cita-cita ayah saya kandas. Sedari kecil saya didoktrin jika sudah besar harus menjadi taruna. Dari kecil sudah dididik ala militer, hingga akhirnya tertanam di hati. Saya pun mempersiapkan diri untuk menjadi seorang polisi,” kisah Iptu Sandy Nugraha, yang kini menjabat sebagai Kasat Lantas Polres Aceh Utara, ditemui portalsatu.com/ di ruang kerjanya, Senin, 7 Mei 2018.

Tahun 2004 saat duduk di bangku SMP, Sandy mengaku mulai tertarik dengan dunia olahraga, mengikuti jejak sang ayah, atlet volleyball. Namun, Sandy memilih anggar. Berbekal kemampuan yang dimiliki, ketika SMA Sandy menjadi atlet anggar dan sempat ikut Pra-PON di Kalimantan Timur. Setelah itu, Sandy juga mengikuti Malaysia Open di Kalimantan dan berhasil menyabet juara II.

“Saat saya lulus SMA tahun 2008, Akpol masa itu hanya menerima lulusan sarjana. Saya pun terpilih melalui jalur bakat dan lulus tanpa tes di Fakultas Hukum Universitas Lampung (UNILA). Setahun kemudian (2009) untuk pertama kalinya Akpol membuka pendaftaran untuk lulusan SMA. Saya pun mendaftar melalui jalur bakat, dan Alhamdulillah lulus pada tahun 2012, kemudian 2013 saya lanjut ke Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian PTIK,” ungkap Sandy.

Usai PTIK, kata Sandy, dirinya mendapat tugas pertama sebagai Wakil Kasat Lantas Polres Bireuen. Setahun kemudian, ia dipromosikan menjadi Kapolsek Juli (Polres Bireun). Enam bulan kemudian (awal 2016), ia kembali mendapat promosi jabatan sebagai Kasat Lantas Polres Aceh Besar, hingga akhirnya kini menjabat sebagai Kasat Lantas Polres Aceh Utara.

Sebelumnya, tahun 2014, Sandy melepas masa lajang dengan menikahi pujaan hatinya, Ruli Ramadhani. Kini mereka telah dikaruniai dua putri. “Saat ini istri sedang hamil anak ketiga, doakan semoga sehat hingga lahiran nanti,” kata pria tampan bertubuh atletis itu sambil tersenyum.

Sandy menyebutkan, saat dirinya bertugas di Polres Aceh Besar, Satuan Lalu lintas yang dipimpinnya sempat mendapat tujuh penghargaan dari Kapolri, hingga memecahkan rekor MURI. Penghargaan itu diperoleh dari peluncuran sejumlah video parodi, salah satunya yang sempat viral ‘Empat Modus Pelanggar Menghadapi Razia’.

“Dari viralnya video parodi itu kita sempat diundang ke acara Hitam Putih di salah satu stasiun televisi. Sebenarnya video itu merupakan hasil sharing dan kerja sama dengan anggota yang menceritakan pengalaman mereka saat razia. Mulai dari ada yang pura-pura kesurupan, mengaku anggota dan lainnya. Video itu juga berdasar pada hobi nonton film. Niatnya bukan mencari sensasi, tapi hanya iseng menyalurkan hobi. Alhamdulillah malah booming dan sangat diterima masyarakat karena juga menghibur,” ucap Sandy.

Beberapa waktu lalu, Satuan Lalu lintas Polres Aceh Utara juga telah meluncurkan dua video cover lagu dangdut dengan judul ‘Semua Bisa Bilang’ dan ‘Gali Lobang Tutup Lobang’.

“Dua video cover lagu itu menyampaikan pesan kepada masyarakat, tentang pentingnya memakai helm saat berkendara untuk menjaga keselamatan jiwa. Selain itu dengan memakai helm masyarakat tidak kena tilang, dan tidak harus utang sana-sini untuk bayar tilang. Video itu bisa dilihat melalui https://www.instagram.com/p/BiQfw0aHne3/ dan https://www.instagram.com/p/BiPGkfCntox/,” jelas Sandy.

Melalui ragam video parodi atau cover lagu tersebut, Sandy ingin menghilangkan citra polisi yang arogan dan keras. Melalui visual, Sandy ingin menghibur dan menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang aturan lalu lintas yang benar.

“Kita ingin mengubah pola pikir masyarakat terhadap polisi. Kita ingin lebih dekat dengan masyarakat dan menghilangkan kesan arogan karena itu bukan jamannya lagi. Sudah saatnya kita menjadi polisi yang humanis dan dicintai masyarakat,” tutur Sandy.

Selama bertugas di Aceh, Sandy mendalami olahraga bela diri kuno asal Thailand yang dikenal dengan nama Muay Thai. Sandy juga aktif sebagai pengurus di KONI Aceh. “Beberapa waktu lalu saya ikut sertifikasi Muay Thai di Semarang. Alhamdulillah, dapat penghargaan pelatih terbaik se-Indonesia,” ungkapnya.

“Soal bela diri, selama ini saya melihat polisi terlalu banyak mengandalkan senjata api, ketika kondisi krisis pasti yang dicari senjata api. Itu saya kurang setuju. Sebenarnya dalam posisi genting kita (polisi) harus melihat dulu objek atau musuh kita menggunakan apa. Jika hanya batang kayu, bahkan parang sekali pun seharusnya bisa dilumpuhkan dengan bela diri, bukan hanya senjata api. Saat di Aceh besar, kita rutin melatih anggota lantas (Satuan Lalu Lintas) dengan Muay Thai. Untuk di sini kita akan lihat nanti. Kan saya baru sebulan di sini,” pungkas Iptu Sandy Titah Nugraha seraya tertawa.[]