BANDA ACEH – Nama Fachrul Razi, MIP, disebut-sebut masuk dalam bursa calon Juru Bicara Partai Aceh (PA) untuk periode kepengurusan mendatang. Namanya bersanding bersama tiga kader Partai Aceh lainnya seperti Suadi Sulaiman (Adi Laweueng), Murdani Abdullah, dan Halim Abe. Lantas bagaimana pendapat Fachrul Razi mengenai hal ini?
"Semua (keputusan), (saya) kembalikan kepada Mualem (Muzakkir Manaf-red). Yang diperlukan adalah mempersatukan semua elemen di Partai Aceh," ujar Fachrul Razi yang mengonfirmasi portalsatu.com/ via aplikasi WhatsApp messenger menyikapi pemberitaan berjudul "Empat Kandidat Ramaikan Bursa Calon Jubir Partai Aceh" yang dirilis portalsatu.com/ pada Jumat, 16 Februari 2018.
Dia optimis Partai Aceh akan mengalami transformasi menuju partai yang modern dan cerdas di bawah kepemimpinan Mualem. Selain itu, mantan Jubir PA periode awal tersebut juga meminta semua kader untuk tetap patuh dengan keputusan Mualem.
“Masalah isu-isu, agar semua kader tetap setia dengan patuh pada keputusan Mualem berkaitan dengan struktur yang menjadi hak prerogatif Mualem. Saya Yakin PA akan mengalami Kebangkitan yang luar biasa,” katanya.
Meskipun demikian, Fachrul Razi membenarkan adanya rasa kesal yang disampaikan Mualem, pasca terpilih menjadi ketua umum terhadap wakil rakyat di Senayan. Dia bahkan mengaku ikut dalam pertemuan saat Mualem menyampaikan hal tersebut.
“Ya (Mualem kesal) kepada 13 Anggota DPR RI, 13 Orang. Saya ada di dalam ruangan depan Mualem,” ujar Fachrul Razi lagi.
Pun demikian, Fachrul Razi tidak keberatan jikapun dia nantinya tidak lagi dipercaya oleh Partai Aceh. Baik sebagai wakil menuju Senayan maupun menjabat di struktural Partai Aceh. Kepada portalsatu.com/, Fachrul mengatakan sudah pernah memberikan statemen di media setahun lalu terkait hal ini.
“Sikap saya tegas. Saya tetap istiqomah kepada Partai Aceh. Walaupun “dipinang” banyak partai untuk naik ke DPR RI, saya tetap setia di Partai Aceh,” kata Fachrul Razi.
“Walaupun DPD RI lemah secara kewenangan, tapi kami dan tim tetap bekerja di lapangan bersama kader Partai Aceh, baik Pilkada yang lalu maupun kegiatan di lapangan. Untuk 2019 kami tetap bekerja Untuk PA,” ujarnya lagi.
Fachrul menyebutkan sebenarnya kewenangan besar terkait segala sesuatu tentang Aceh berada di ranah DPR RI. Dia juga memaklumi jika banyak masyarakat Aceh kecewa, termasuk Mualem sebagai Ketua Partai Aceh.
“Wajar Mualem kecewa. Saya dukung keputusan Mualem. Kewenangan DPD RI masih lemah. Beda kekuatan DPR RI yang jauh lebih kuat. DPD RI kuat di monitoring. Walaupun lemah, di lapangan, DPD RI lebih tampil. Itu harus dilihat secara objektif,” katanya.
Di sisi lain, dia menyebutkan bahwa DPD RI hanya memiliki kewenangan yang kuat sebagai wakil daerah, seperti dana desa, pemekaran DOB, wilayah laut dan batas negara serta hubungan parlemen luar negeri,” katanya.
Di akhir pesannya, Fachrul Razi kembali menekankan akan taat dan patuh pada keputusan Mualem. Ini termasuk siapa yang bakal mengisi jabatan Juru Bicara Partai Aceh di periode mendatang.
“Semua atas perintah Mualem. Saya siap jalankan perintah Mualem. Dimana pun saya siap,” kata Fachrul.[]





