MANTAN Kepala Museum Negeri Malaysia dan peneliti Batu Aceh, Prof Othman Yatim mengatakan, Aceh butuh diraja sebagai penaung. Pernyataan tersebut dinyatakan setelah  dipakaikan peci hitam berlogo ‘Alam Peudeung’ oleh Tuanku Warul Walidin, cicit dari Sultan Aceh  Darussalam terakhir, di Kantor Sekretariat Mapesa di Punge, Blang Cut, Jalan Bahagia No. 47, Banda Aceh, Pada Selasa malam, 1 Mei 2018.

Tuanku Warul Walidin malam itu memakai peci hitam bersulam ‘Alam Peudeung’ dengan raut wajah suka menebarkan senyum kepada siapa saja mengatakan, kehadiran Profesor Othman Yatim, seakan diutuskan oleh Allah kepada masyarakat Aceh, untuk peduli kepada Aceh.

“Kami sangat berterima kasih atas kepedulian Profesor yang telah berpuluh tahun peduli terhadap sejarah batu nisan Aceh,” kata Tuanku Warul di malam acara bincang tentang batu Aceh (Batu Nisan).

Di malam penuh berkah itu para tokoh intelektual, sejarah, budaya, dan adat Aceh berkumpul dalam satu wadah perbincangan tentang segala hal yang berkaitan denagn Batu Aceh dan perkembangan sejarah Aceh. Di sanalah dalam suasana santai, terbentuklah pertemuan seumpama silaturrahmi antara dua negeri yang telah lama dinantikan.

Silaturrahmi Othman Yatim pada awal Mei ini ke Pedir Museum, dan berjumpa dengan kawan-kawan sahabat dari Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), kini telah itu terwujud, Mapesa pun mengundang seluruh tokoh-tokoh yang punya kaitan dengan sejarah Aceh untuk menyambut tamu kehormatan dari Malaysia.

Othman Yatim dan sejarawan Aceh

Suasana penuh rasa syukur dan bahagia dari hadirin terlihat saat tokoh sejarah besar negeri Malaysia Othman Yatim, bercengkrama dengan sahabat Mapesa dan para tokoh sejarawan Aceh lainnya.

 Di acara silaturrahmi tersebut antara lain, dihadiri oleh Dosen FKIP Sejarah Unsyiah Dr. Husaini Ibrahim, Dosen Fakultas Adab UIN Arraniry Istiqamatunnisa, Dosen Fakultas Adab dan Humaniaora UIN Arraniri Nasruddin, Dosen IAIN Lhokseumawe Saifuddin Zuhri.

Dalam silaturrahmi itu juga hadir pembina Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) dan Central Information of Samudra Pasai Haritage (Cisah) Taqiyuddin Muhammad, Direktur Pedir Museum Masykur Syafruddin, Pengurus Pusat Kebudayaan Aceh–Turki Thayeb Loh Angen, Komandan Al-Asyi Tuanku Warul Walidin, Ketua Asyraf Aceh Sayed Murtadha, Arkeolog Independen Dedi Statria,  Fadhlan Amini dari Tour & Travel.

Pendapat tokoh-tokoh Aceh tentang batu nisan

Selain Tuanku Warul Walidin, beberapa tokoh lainnya juga memberikan tanggapan dan pandangannya tentang hal batu nisan dan dan perkembangan sejarah Aceh, diantaranya Dosen Fakultas adab Ar-Raniri Nasruddin, ia sangat berharap supaya di masa depan, Othman Yatim bisa memberikan kuliah tentang batu nisan di fakultasnya.

Dari Lhokseumawe juga hadir dosen IAIN Saifuddin Zuhri, yang juga mewakili lembaga adat, Ia mengatakan kini sedang bekerjasama dengan DPR untuk mewujud kan semua bangunan gedung di Aceh Utara harus dibangun dengan menanamkan ornamen berkhas Aceh utara.

Kepedulian pemerintah masih kurang

Dr. Husaini Ibrahim juga mengatakan termasuk juga dalam hal-hal pembangunan harus ada prosedur supaya tidak merusak situs sejarah. Contohnya seperti yang dilakukan oleh pemerintah Aceh ketika ingin membangun proyek IPAL, harusnya, terlebih dahulu itu ada keterlibatan dari semua pihak.

“Dalam penyelamatan benda-benda sejarah banyak sekali tantangannya, salah satunya adalah dalam hal penyelamatkan batu nisan. Terkadang pemerintah meski mengetahui sekalipun, di sana ada benda, tetapi mereka sendiri yang merusak, itu sering terjadi,” kata Husaini.

Dr. Husaini juga mengatakan akan terus mengingatkan, supaya batu nisan di masa depan dijadikan dijadikan sebagai warisan dunia Islam.

“Selama ini masih belum ada respon dari UNESCO, dan kami berharap supaya Prof. Othman Yatim terus mengusahakan supaya batu Aceh di catat menjadi warisan islam dunia,” katanya.

Menurutnya Husaini, Batu Aceh adalah hanya satu-satunya ada di Aceh, tidak ada di tempat lain. Seharusnya pemerintah memahami bahwa inilah warisan ummat Islam terbesar yang masih ada secara fisik.

Dr. Husaini mengatakan bahwa ia merasa kecewanya pada pemerintah yang terkesan masih membatasi Aceh dalam hal penelitian tentang sejarah seperti ketika penelitiannya di Lamuri di mana ada salah satu meia yang menyiarkan berita yang menuding illegal usahanya dalam pelitian yang dilakukannya di Lamuri.

”Saya berharap, terkait hal pemberitaan sejarah, media pengkhabaran harus mendapatkan izin dari para ahli, jangan menulis sesuka hati ,” katanya.

Aceh butuh promosi yang benar tentang sejarah dan budaya

Sementara Fadhlan dari tour & travel, mengatakan bahwa ia merasa sangat bangga dengan banyaknya lahir lembaga-lembaga yang peduli akan sejarah Aceh.

“Saya juga akan terus bekerja keras untuk mempromosikan Aceh ke luar, bahwa Aceh berbeda seperti yang diberitakan dalam catatan sejarawan barat, yang menulis bahwa Aceh berkarakter sangat kasar dan terbelakang,” kata Fadhlan.

Fadhlan juga juga merasa sedih ketika melihat masih banyak nisan-nisan yang  tergenang dan kurang perawatan dan kepedulian dari pemerintah.

Pendataan silsilah dalam penulisan sejarah harus tepat.

Sementara Asyraf Aceh Sayed Murtadha, yang mewakili para syarif merasa bangga dengan kerja keras dari Mapesa dan Cisah selama ini yang telah sangat aktif dalam penyelamatan sejarah batu nisan dan supaya tetap meneruskannaya karena disana ada data-data yang akurat dan benar.

“Untuk menghindari penulisan sejarah secara liar oleh oleh siapa yang kurang mengetahui kebenaran sejarah yang ditulisnya, hingga karya-karyanya bisa menyesatkan generasi, maka Mapesa harus terus berjuang dalam penyelamatan bukti-bukti kebenaran sejarah,” kata Sayed Murtadha.

Prof. Othman Yatim dari Malaysia bersilaturrahmi II ke Mapesa

Di hari yang telah dijadwalkan, pagi Selasa itu kapal yang ditumpangi oleh Profesor itu menderu, bergerak melintasi hawa sejuk pagi dari kuala Lumpur menuju Banda Aceh. Pukul delapan pagi sampai lah sang penulis buku ‘Batu Aceh’ itu di Bandara Sultan Iskandar Muda. Sejam setelah pengurus administrasi, ia pun meluncur sedang dengan mobil hitam bersama tim Mapesa.

Irfan M Nur dan Masykur Syafruddin mengantar tamu dari negeri Malaysia itu ke Kantor sekretariat Mapesa, hari semakin menanjak siang. Hari itu Othman Yatim mengunjungi Pedir Museum, dan  kembali berjumpa dengan Masyarakat Peduli sejarah Aceh (Mapesa).

Kemudian mobil hitam yang kemudikan oleh Irfan M Nur itu pun berhenti di depan gerbang Kantor Mapesa, perlahan pintu mobil terbuka dan keluarlah seorang lelaki berkulit putih, berbaju biru dan bercelana hitam serta dengan topi bercorak seniman, berjalan dengan langkah pelan sambil tersenyum.

Dalam kunjungan nya yang ke dua ini di halaman sekretariat Mapesa, ia menemukan para anggota Mapesa telah menanti kedatangannya dengan penuh haru dan suka.

Di bangunan yang memiliki dua ruang utama tersebut, di ruang utama depan,  sekelompok mahasiswa, yaitu teman-teman dari Masykur dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniriy, yang sudah hadir sejak dari pagi, di sana sedang melakukan kajian terhadap salah satu kitab (Manuskrip) yang dipandu oleh Istiqamatunnisa, dosen mereka.

Saat tiba di kantor Mapesa, Othman Yatim sebelum melihat Manuskrip-manuskrip di ruang Pedir Museum, ia sempat berbincang dengan mahasiswa-mahasiswa yang sedang melakukan kajian di sana hari itu.

Di ruang Pedir Museum

Masykur mengambil beberpa manuskrib dan surat perdagangan  Tahun 1953. Di ruangan yang dipenuhi dengan artefak dan manuskrib itu, Othman Yatim dengan sangat teliti memeriksa, menilik lembaran-lembaran manuskrib yang digenggamnya dengan hati-hati, sementara itu sesekali Masykur terus memandu, menjelaskan tentang sejarah-sejarah manuskrib yang telah dikumpulkannaya.

“Manuskrib itu umumnya saya  beli dari masyarakat,” kata direktur Pedir Museum diantara tumpukan Manuskrip yang diambilnya dari lemari di sisi kanan, dan sedangkan di sisi kirinya ada beberapa pedang zaman dahulu dalam berbagai ukuran dan model.

Di ruangan itu mereka terlihat sangat serius membicarakan tentang berbagai temuan terkini. Disudut ruangan tepat di depan pintu masuk berjejer artefak-artefak, sedangkan diatas rak manuskrip terdapat gerabah dan semisalnya.

Othman Yatim membawa buku ‘Batu Aceh’

Dalam perjalanannya kali ini Othman Yatim membawa dua buku karya tulisnya yang diberi judul ‘Batu Aceh’. Buku yang diselesaikan pada tahun1988, diterbitkan dengan bahasa inggris tersebut, hadir dengan 6 bab, dan dipublikasikan oleh Departement of Museum Malaysia. pada tahun tersebut juga beliau pertama ke bekas Samudera Pasai, dan malamnya ketika disana sempat tidur di Makam Sultanah Nihrasiah karena tidak ada tempat menginap. dan jatuh sakit ketika penilitiannya tentang Batu Aceh tersebut.

“Buku Batu Aceh ini, jika ada yang berniat untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa Melayu, saya akan mengurisi perihal penerbitannya,” kata Othman.

Sedangkan  buku yang dibawanya satu lagi berjudul ‘Meriam dalam sejarah Kebudayaan Melayu Nusantara’ adalah buku yang membahas tentang asal – usul meriam dan segala hal yang berkaitan dengannya. Buku ini hanya hadir dengan 99 halaman dalam bahasa Melayu.

Othman Yatim sebenarnya dalam rencana kunjungan silaturrahminya telah berancana, bahwa sesampainya di Aceh ia akan bermeuseuraya bersama Mapesa.

“Beliau sejak sebelum berangkat dari Malaysia, berkeinginan untuk bisa bermeuseuraya bersama Mapesa di Pande dan Melihat Makam di Ipal, gampong jawa. Namun jadwal tersebut harus dibatalkannya karena perjalanan yang jauh membuatnya seakan suara bising dari pesawat tadi pagi masih terus menggema,” kata Masykur ketika usai mengantarkannya ke tempat penginapan untuk beristirahat.

Perjalanan silaturrahmi Othman Yatim yang kedua ini, meuseuraya ditiadakan dan juga terasa kurang tanpa hadirnya Ketua Mapesa, karena Mizuar Mahdi sedang melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur dalam waktu yang sama.

“Kedatangan  Othman Yatim ke Aceh, bersamaan dengan jadwal keberangkatan Ketua Mapesa ke Kuala lumpur, hingga pertukaran tur pun terjadi, ketika Mizwar di Malaysia saat itu Othman Yatim dari Malaysia ke Aceh,” kata Masykur.

Sejarah awal terjadinya hubungan silaturrahmi ke II Mantan Kepala Museum Negeri Malaysia tersebut dengan Mapesa, Pedir Museum, dan Cisah, diawali dengan pemberitahuan Othman Yatim melalui Direktur Pedir Museum Masykur Syafruddin lewat jejaring sosial telah sejak beberapa waktu yang lalu.

Othman Yatim memberitahukan pada Masykur bahwa pada akhir bula April ia akan berkunjung lagi ke Aceh, dalam rangka silaturrahminya dengan Mapesa dan melihat benda-benda sejarah peninggalan abad silam di Pedir Museum, dan bermeuseuraya.[]

Penulis: Jamaluddin