BANDA ACEH – Kasus pembunuhan sadis satu keluarga yang terjadi di Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, pada Jumat, 5 Januari 2018 lalu, mendapat beberapa perhatian dari masyarakat, khususnya di bidang perempuan, anak, dan para psikolog.
Perhatian itu ditujukan kepada R, 22 tahun, pelaku yang tega menghabisi dengan sadis ketiga korbannya. Seperti diketahui, salah satu korban, Callietosng adalah anak-anak berusia tujuh tahun. Korban lainnya adalah seorang wanita.
Psikolog dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Dra. Endang Setianingsih, M.Pd, S. Psi., mengatakan faktor dendam menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku kriminal mampu bertindak kejam. Hal ini, menurut Endang, serupa dengan kasus yang terjadi di Gampong Mulia, Banda Aceh, seperti informasi yang dibacanya dari beberapa media. Dia mengatakan pelaku diduga mengalami ketegangan dan stress akibat sering dimarahi korban. Hal ini kemudian menimbulkan rasa dendam pada pelaku, sehingga ia berusaha mencari dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan niatnya membunuh korban.
“Dalam hal ini tampak pelaku sangat tertekan terus dikata-katai. Hal ini membuat pelaku melakukan pembunuhan tersebut,” ungkap Endang, Kamis, 18 Januari 2018.
Endang menyebutkan seseorang yang sering mengalami tekanan berat dan stress luar biasa hingga menimbulkan dendam, memiliki kecenderungan menjadi seorang pembunuh. Seseorang seperti itu akan merasa lega dan puas setelah melakukan tindakan kejahatan.
R pernah beberapa kali memposting kata-kata bernada keras, di akun Facebook miliknya. Bahkan, jauh sebelum ia melakukan tindakan kejahatan tersebut. Menurut Endang, yang biasa menangani kasus perempuan dan anak ini, postingan tersebut memiliki kaitannya dengan masa kecil pelaku. Dia menduga, besar kemungkinan sewaktu masa kanak-kanak, R pernah mendapat prilaku kekerasan atau sebagainya sehingga sangat berpengaruh terhadap diri pelaku.
“Baik itu kekerasan psikologis, kekerasan fisik, atau diabaikan oleh keluarga,” katanya.
Selain itu, Endang juga menjelaskan, orang-orang yang memiliki masa lalu seperti itu tidak berempati terhadap lingkungannya. Dia mengatakan, jika orang-orang yang bisa beradaptasi baik dengan lingkungan sosialnya, maka akan mampu mengatur perilakunya, meskipun amarah maupun dalam kondisi emosi yang sangat berlebihan sekali pun.
“Meski sekali pun itu kekerasan,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, polisi menemukan tiga korban pembunuhan di salah satu ruko di kawasan Gampong Mulia, Banda Aceh, Senin, 8 Januari 2018 lalu. Belakangan ketiga korban ini diketahui bernama Tjie Sun alias Asun (suami), 45 tahun, Minarni (istri), 40 tahun, dan seorang anak, Callietosng, 7 tahun.
Polisi awalnya menemukan jenazah Minarni dengan kondisi bugil dan luka bekas cekikan. Kemudian polisi menemukan mayat Callietosng dengan kondisi kepala terpisah dari badan. Selanjutnya polisi menemukan jasad Asun dengan leher nyaris putus di kamar mandi.
“Saya mengharapkan ada hukuman yang sesuai dengan perbuatannya, agar menjadi efek jera kedepannya, dan saya sangat mengutuk perbuatan ini,” kata Endang.[]




