Ke Manakah Para Aktivis Aceh?

Oleh: Thayeb Loh Angen

Pujangga dari Sumatra Aceh

 

“Apabila tunduk pada ini zaman, berarti melemparkan perisaimu ke tanah di tengah pertempuran.”

–Muhammad Iqbal, Penyair Pakistan

 

Para aktivis Aceh yang dulu suaranya melambung tinggi dan suci, kini tidak terdengar lagi. Entah ke mana suaranya. Siapakah yang telah mengunci mulut mereka. Entah mereka yang tidak bersuara, ataukah aku yang telah tuli. Aku tertanya-tanya sendiri. Mengapakah mereka terdiam? Mengapa aku pun sempat terdiam?

 

Apakah dulu mereka berteriak-teriak karena kelaparan, lalu begitu kekenyangan mereka pun terdiam. Ataukah mereka terdiam sekarang karena telah kehabisan suara, tersungkur di sudut kota sendirian?

 

Kemarin, aku menemukan beberapa orang dari mereka berada di meja makan raja. Ketika kita sering menghadiri meja makan raja, maka suara kita terdengar seperti suara mengunyah makanan. Suara orang kekenyangan, yang biasanya diiringi sendawa dan kentut.

 

Rakyat kita yang masih memiliki mimpi perubahan menjadikan negeri ini lebih baik, tetapi kini mereka kehilangan inspirasi. Perang telah usai, tetapi negeri belum sebagaimana diimpikan dulu, sementara orang-orang yang pernah dianggap pahlawan masih ada, tetapi diam.

 

Orang-orang bertanya-tanya. Apa yang telah terjadi pada para pemuda kita yang dulu begitu gagah berani melawan orang-orang yang zalim di pemerintahan? Ke manakah mereka sekarang. Temukan mereka, temukanlah semangat mereka. Sepertinya tidak terlihat ada badai yang memadamkan semangat mereka. Ataukah pula semangat itu dipadamkan oleh gerimis yang berkepanjangan.

 

Pertempuran bersenjata telah berakhir. Namun, pertempuran ide antara para pejuang kemanusiaan, kesejahteraan rakyat, kebudayaan, belum usai. Hal itu masih terus harus dilanjutkan. Kita tidak dapat berhenti pada jalan tanjakan yang kadang penuh penderitaaan ini. Tidak sama sekali.

 

Berhenti berarti akan dihantam oleh reruntuhan dari atas, reruntuhan yang terjadi karena kita tidak mempertahankan tebing-tebing peradaban itu, kita tidak mendaki sampai ke puncak itu untuk mengukuhkannya. Singgah untuk istirahat pun tidak boleh terlalu lama.

 

Jalan yang menanjak ini, dipenuhi onak duri. Dulu, kita mampu memaknai segala sesuatu secara berbeda. Penderitaan yang dianggap orang dapat kita artikan sebagai tantangan di dalam rangkaian kewajiban bersabar yang mestilah kita lewati dalam medan pertempuran cara pandang dalam hidup ini.

 

Pertempuran-pertempuran ini tidak akan berakhir walaupun kita telah berhenti. Akan selalu ada semangat muda yang membara bagaikan magma gunung api. Lihatlah alam kita yang menawarkan kesempuranaan dan keindahan. Sebagaimana keindahan, semangat akan selalu ada.

 

Di manakah tempat kita sekarang di dalam masyarakat dunia. Di manakah Aceh pada abad ke 16 Masehi, di mana Aceh di mata dunia saat itu? Pada akhir abad ke 19 Masehi, di manakah tempat Aceh.

 

Sekarang di manakah Aceh. Orang Aceh di masa itu menempatkan Aceh pada tempat yang tinggi dalam peradaban, dan politik. Sekarang kita tempatkan Aceh di mana dalam peta dunia. Apakah kita telah mampu mempengaruhi kebijakan Negara Indonesia, atau pejabat Indonesia yang mempengaruhi kebijakan di Aceh?

 

Orang-orang Aceh di mana, para aktivis Aceh di mana? Kita tidak selalu perlu menjadi harimau sumatra ataupun elang pemangsa. Itu bukan cara hidup yang selalu terbaik atau ideal. Akan tetapi, kita tetap harus menjadi gajah yang menjadi pemimpin di rimba ini. Di habitat kita sendiri. Di tanah yang hanya kita mampu memahaminya dengan benar.

 

Ketika kita berada pada alam pikir tingkat pencerahan, maka yang ada hanya bumi, tanpa batas atau teroterial negara-negara yang mengotak-otak kebebasan. Walaupun memang, kadang, wilayah kekuasaan itu penting dimiliki supaya kita dapat mempertahankan peradaban bangsa kita.

 

Siapakah para aktivis Aceh di Aceh, di Sumatra, atau di pulau lainnya sekarang?

 

Ketika kita telah menyatakan diri sebagai harimau sumatra, maka menjadi kelinci atau menjangan bukan pilihan. Kita pemimpin di tanah ini, apabila kita memang turunan para pemimpin terdahulu.

 

Kita tidak boleh mengikuti orang-orang yang dengan cara mengurus negeri ini mereka menunjukkan bahwa mereka itu para turunan bajak laut dan para kaum sudra. Kita tidak boleh mengikuti mereka. Kita ini adalah para kesatria.

 

Tugas kita adalah membela kepentingan rakyat dan menjaga peradaban yang telah dibangun oleh indatu. Dalam keadaaan negeri ini sekarang, terutama di Aceh, diam itu bukan emas, tetapi kesalahan.

 

Para indatu kita seperti Sultan Ali Mughayatsyah, Sultan Alaudin Riayatsyah Al-Kahar, Sultan Iskandar Muda, mengajarkan cara menjadi pemimpin di Sumatra dan kepulauan Melayu ini.

 

Mampukah kita para aktivis menjadi pemimpin negeri ini, membawa rakyat ke dalam cayaha, ataukah menjadi perebut remah-remah APBA atau penjilat pada pejabat musiman yang menjijikkan itu? Mungkinkah harimau menjadi kelinci?

 

Ke manakah para aktivis Aceh? Apakah para aktivis yang dulu bersenjata kini banyak telah nyaman menjadi kontraktor, apakah para aktivis sipil Aceh yang dulu suaranya nyaring menggoncangkan negeri kini telah nyaman menjadi para penasehat atau para staf ahli pemerintah musiman, dan tidak lagi membela kepentingan rakyat?

 

Wahai para aktivis Aceh, bangkitlah. Jadilah kesatria kembali.[]