Oleh: Taufik Sentana
Peminat literasi sosial budaya dan sufistik.
Penulis Buku Inspirasi 1000 Bulan.
“Lezatnya Berpuasa” seakan menjadi konsep yang terdengar paradoks, karena puasa seringkali dikaitkan dengan rasa lapar dan dahaga serta rasa lemah saat menjalankannya.
Dalam tradisi salik (jalan sufi), kelezatan adalah pintu makrifat, tatkala kelezatan itu mengantarkan kita pada kesadaran akanNya. kesadaran untuk butuh padaNya.
Bila seorang bisa bisa merasakan lezat/nikmat karena kenyang, maka ia mesti pula merasakan manis”nya lapar. Sebab yang menempuh di jalan ini hanya memandang wajahNya (RidhaNya).
Sehingga “lapar” menjadi tangga penting yang disampaikan dalam Risalah Qushairiyah untuk mencapai derajat mulia dan penyucian jiwa.
Bagi muslim yang menjalankan puasa di bulan Ramadan, lezatnya berpuasa dapat dirasakan dalam beberapa tingkatan.
Pertama, kelezatan melaksanakan perintah dengan rangkaian ibadah pengiringnya. Kedua, kelezatan mengendarai nafsu. Ketiga, kelezatan menanti harapan dan balasan (berbuka di dunia atau Berjumpa denganNya).
Adapun secara maknawiyah (batin), kelezatan berpuasa itu dapat kita rasakan dalam beberapa proses berikut:
Pertama, Lezatnya kesabaran:
Berpuasa mengajarkan kita untuk sabar dan menahan diri dari keinginan untuk makan dan minum, serta hal lain yang membatalkannya.
Kesabaran tersebut dapat memberikan rasa puas dan bangga pada diri sendiri. Disinyalir pula dalam ayat, bahwa pahala kesabaran itu tiada batasnya.
Kedua, Lezatnya kebersamaan:
Berpuasa seringkali dilakukan bersama-sama dengan keluarga dan teman-teman serta muslim sedunia. Puasa menjadi pemersatu gairah jiwa untuk mencapai ridha ilahi.
Momen berbuka puasa bersama juga dapat menjadi waktu yang sangat berharga menyenangkan dan membangun harmoni jiwa personal dan sosial.
Ketiga, Lezatnya refleksi diri dan ekstase ruhani:
Berpuasa dapat menjadi waktu untuk refleksi diri, memikirkan tentang tujuan hidup, dan memperbaiki orientasi dan kilas balik perjalanan diri. apa lagi ada tersedia ruang uzlah i’tikah di akhir Ramadhan. Proses ini dapat memberikan rasa damai dan kepuasan.
Keempat, Lezatnya rasa syukur:
Berpuasa dapat membuat kita lebih menghargai dan bersyukur atas nikmat yang telah kita terima, seperti makanan, air, dan kesehatan, rasa aman dan kebersamaan.
Kelima, Lezatnya kekuatan spiritual:
Bagi umat Muslim, berpuasa di bulan Ramadan, khususnya, dapat memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Membangun rasa dekat dan harap kepada Tuhan (Rabbul ‘alamin) dapat memberikan rasa damai dan kepuasan yang mendalam.
Dalam arti yang lebih luas, dan yang terismewa, “Lezatnya Berpuasa” dapat dimaknai sebagai rasa puas dan bangga yang diperoleh dari proses berpuasa itu sendiri, bukan hanya dari hasilnya (apalagi bila hanya diukur dengan keekonomian dan hidangan berbuka/lebaran). Karena, seperti sabda Baginda, Puasa itu MilikKu kata Allah, Aku yang akan Membalasnya langsung.[]







