YOGYAKARTA – Keluarga Aceh Besar Yogyakarta (KABY) bekerja sama dengan Majalah Cerana Aceh Yogyakarta menggelar diskusi sehari bertema “Pelatihan Menulis Essay dan Opini” bagi mahasiswa baru, khususnya mahasiswa S1 dan S2, Minggu, 28 Agustus 2016.

Pemateri yang dihadirkan adalah Sehat Ihsan Sadiqin (kandidat Doktor UIN Jogja, dosen UIN Ar Raniry), Masrizal (mahasiswa doktoral sosiologi UGM, Dosen FISIP Unsyiah), dan Muhajir Al Fairusy (mahasiswa doktoral antropologi UGM, peneliti PKPM Aceh).

Ketua panitia, Bustanul Aulia menyatakan, diskusi ini penting dilaksanakan, selain telah menjadi tradisi di kalangan pelajar dan mahasiswa Yogyakarta, juga ajang silaturrahmi memperkenal budaya literasi dan menulis bagi mahasiswa yang ingin menggeluti dunia akademik ini.

Aulia, juga berharap, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut di masa yang akan datang, agar generasi Aceh di Jogja dapat terus bekerja untuk peradaban.

Pun demikian, dalam sambutannya, Ketua KABY Azhari, berharap diskusi yang dilaksanakan ini, tidak berhenti hanya sekali pertemuan saja. Apalagi, dalam jejak rekam sejarahnya, KABY dikenal sebagai komunitas yang aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ajang diskusi dan kenduri kuah beulangong di Jogja.

“Kapanpun, KABY siap memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang berkontribusi positif bagi perkembangan pemikiran, dan budaya Aceh di Jogjakarta,” katanya.

Setidaknya kata dia, kehadiran KABY dalam sejarahnya di Jogja, selalu berusaha menghadirkan forum diskusi sebagai budaya ilmiah, dan kenduri kuah beulangong yang rutin dilaksanakan setahun tiga kali dalam rangka menjaga identitas budaya Aceh di perantauan.

Selama proses diskusi berlangsung, tampak ketiga pemateri menyampaikan narasi serta materi yang berbeda terkait dunia literasi dan menulis serta kiat menulis sebuah opini dan essay. Dalam tataran ideal sejak diskusi berlangsung, Sehat Ihsan sebagai pemateri pertama menyampaikan pentingnya menulis sebagai bagian aktualisasi keimanan seorang manusia, dan bagian dari kerja peradaban, terutama bagi generasi Aceh yang diberikan kesempatan menuntut pengetahuan di Jogja.

Adapun Masrizal, sebagai pemateri berikutnya, memberikan trik menulis agar dapat dimuat pada beberapa media massa, serta mendorong setiap mahasiswa untuk tetap menjaga konsistensi menulis. Selanjutnya, Muhajir Al Fairusy sebagai pemateri ketiga, mencoba membangun kesadaran mahasiswa Aceh di Jogja untuk menulis, dengan memberikan gambaran perjalanan tradisi menulis intelektual Aceh dalam konteks historis.

Kegiatan diskusi sehari ini ditutup dengan dorongan untuk menulis catatan yang dapat dibukukan, seperti pengalaman dan cerita kehidupan para mahasiswa selama di Jogjakarta. Sesi penutupan juga ditandai denga penyerahan plakat dan sertifikat pada pemateri, kemudian diakhiri dengan makan bersama.[]

Dikirim oleh Zaikul Fahmi Jailani