Kerendahan Hati
“Tuhanku, Zainal 'Abidin bersama dengan dosanya telah datang kepada-Mu dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Maka, dengan anugerah-Mu, ampunilah segala dosa yang telah ia perbuat dan karuniailah dia kenikmatan di akhirat.”
_____________________________
Menjelang pertengahan kedua abad ke-9 Hijriah (ke-15) sampai dekade ketiga abad ke-10 Hijriah (ke-16), para penguasa yang memerintah dari Kota Sumatra adalah anak cucu dari Sultan Zainal 'Abidin Ra-Ubabdar. Itu diketahui dari berbagai inskripsi yang terdapat pada batu-batu nisan para penguasa Sumatra yang wafat setelahnya.
Sementara itu, tulisan (inskripsi) yang terdapat pada batu nisan ini memberitahukan bahwa ia adalah putra dari Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih, yakni putra paman Al-Malikah Nahrasyiyah yang memerintah sebelumnya.
Inskripsi dalam panel horizontal yang ketiga dari puncak batu nisan ini dikhususkan untuk menyebutkan nama dan garis keturunannya secara lengkap. Huruf-huruf kaligrafi pada bagian dasar (bawah) dari baris inskripsi ini telah sengaja dibuat dalam bentuk menyerupai gulungan ombak untuk mendukung makna julukan yang disandangnya: Ra-Ubabdar, sang penakluk gelombang.
Batu nisan ini adalah untuk menandai makam di mana jasadnya telah dikuburkan, sementara satu makam lain yang terbuat dari marmer telah dipersembahkan untuk mengenang kepahlawanan dan jasa-jasanya dalam memperluas wilayah Islam di Asia Tenggara sebelum ia wafat pada hari Jum'at, waktu Zhuhur (tengah hari) tanggal 21 Syawwal 841 Hijriah (16 April 1438).
Pada batu nisan makamnya yang terdapat di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, juga dipahatkan baris-baris syair yang menyembulkan kerendahan hati yang mengharukan ke hadirat Allah 'Azza wa Jalla:
“Tuhanku, jika dosaku demikian besar banyaknya, maka aku benar-benar tahu bahwa sesungguhnya kemaafan-Mu jauh lebih besar. Jika andai kata yang dapat berharap kepada-Mu itu hanya orang yang baik, maka kepada siapakah orang yang jahat pergi bernaung dan memohon perlindungan?!”
Inskripsi:
(Semua teks berbahasa Arab tidak bisa ditampilkan di sini. Silakan kunjungi mapesaaceh.com)
Dua bait ini adalah di antara bait-bait yang diriwayatkan dari Abu Nuwas (penyair legendaris pada masa Dinasti 'Abbasiyyah, wafat 199 H/813 M). Ibnu Katsir Rahimahu-Llah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah menyebutkan: “Telah diriwayatkan bahwa bait-bait syair ini ditemukan tertulis pada secarik kertas dekat kepala tidurnya (Abu Nuwas) – Ibnu Katsir menyebutkan Ibnu Nuwas di antara tokoh-tokoh yang wafat dalam tahun 195 H.
Dan dua bait selanjutnya ialah:
“Tuhanku, Zainal 'Abidin bersama dengan dosanya telah datang kepada-Mu dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Maka, dengan anugerah-Mu, ampunilah segala dosa yang telah ia perbuat dan karuniailah dia kenikmatan di akhirat.”
Semoga Allah mengampuni dan merahmatinya.
Oleh: Musafir Zaman
Dikutp dari group facebookMapesa.[]Sumber:mapesaaceh.com



