Jumat, Juli 19, 2024

Rekomendasi HUDA Berisi 22...

BANDA ACEH - Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA) mengeluarkan rekomendasi...

Lebih 170 Bangunan Rusak...

ACEH UTARA - Sebanyak 173 bangunan dilaporkan rusak akibat diterjang badai (hujan deras...

Inilah Struktur Lengkap Kepengurusan...

BANDA ACEH - Ketua Umum Majelis Syuriah Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh...

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....
BerandaKenangan 17 Agustus...

Kenangan 17 Agustus di Paloh Dayah

Hanya sedikit kenangan itu yang tersisa, ianya telah terkikis oleh waktu dan ingatan yang mulai merenta.

Itu adalah hari-hari di mana mimpi masih secerah langit siang, masih penuh keriangan memenuhi kebun dan kota. Hari-hari itu, tahun 1990-an.

Entahlah, kalau ingatanku benar, maka ada satu atau dua kali, seingatku, ada dibuat perlombaan 17 Agustusan di Paloh Dayah, itu di sawah tengah Gampong, di sisi Simpang Geunteng.

Sejak belasan tahun terakhir tempat itu dijadikan lapangan sepak bola, dan mungkin bebarapa tahun lagi, sawah itu beralih guna kembali, dan lapangan sepak bola dipindahkan ke tanah gampong khusus lapangan bola, yang diberikan oleh Pemerintah Aceh melalui dana spirasi Ermiadi, anggota DPRA dari Partai Aceh, tahun 2014.

Saat itu, 1990-an, sawah tersebut belum difungsikan sebagai lapangan sepak bola, hanya dijadikan tempat latihan karena sawah itu tengah kering dan lagi bukan musim meugoe (bertanam padi).

Di sana seingatku, yang diperlombakan adalah tarik tambang, lari dalam guni, melarikan telur dalam sendok di mulut, makan kerupuk, dan sebagainya yang merupakan lomba untuk para budak belian yang dulu dibuat oleh penjajah Belanda. Tidak ada panjat pinang di sana karena sulit membuat perlombaan untuk para budak itu.

Sekitaran tahun itu juga, sekira kelas lima atau enam Madrasah Ibtidaiyah (MI/sekolah tingkat SD), saya mengikuti lomba lari, karena itu yang saya bisa; orang kurus dan hidup di sekitar kebun ditambah setiap hari berjalan kaki sejauh dua kilometer  untuk ke sekolah, tentu saja bisa berlari kencang.

Namun, saya yang lugu dan terlalu jujur dengan aturan itu pun tidak sempat berlari. Aturannya, peserta lomba harus berlari pada saat suara tiupan peluit berbunyi sebagai ganti hitungan ketiga. Saya menunggu itu, namun peserta lain berlari pada suara teriakan aba-aba, dua’, setelah ‘satu’, dan mereka berlari kencang. Saya menunggu peluit sebagai ganti kata ‘tiga’. Begitu mahu berlari, kawan-kawan sudah 5 atau 10 meter di depan. Itu tidak mungkin terkejar, dan saya pun membatalkan niat berlari. Saat itu.

Saya tidak ingat lagi, apakah hadiah selusin buku tetap diberikan saat itu atau tidak, karena saya batal berlari.

Kenangan lain, saya pernah membuat tiang bendera kecil, sekra panjangnya 50 centi meter, tiang bendera mungil yang cantik dari anak pohon teumeurheue, dengan bendera merah putih yang saya buat rapi dari bahan kertas layang-layang.

Saya tidak yakin lagi, tapi sepertinya di MI, pernah menjadi pembaca Pembukaan UUD 45 atau semacamnya. Tetapi yang pasti saya ingat, saya pernah menjadi pembaca itu saat sekolah MTs. Bahkan, karena sedikit bisa bahasa Arab, pernah disuruh menghafal Pancasila dalam bahasa Arab di mata pelajaran Bahasa Arab.

Itu adalah hari-hari di mana saya adalah anak Indonesia yang sejati. Yang pernah merencanakan untuk menghafal semua isi pasal dan butir UUD 45, yang tentu saja saya bisa menghafalnya dengan cepat kalau memulainya, sebab saya punya ingatan yang kuat.

Itu semua berubah setelah terjadi reformasi 1998 di Jakarta, yang meluas ke seluruh Indonesia, yang menggelorakan perang di Aceh, Papua, dan Timor Timur. Nasionalisme saat itu menjadi hal yang membingungkan.

Terkenang, bahwa masa yang indah itu adalah masa di mana kita melangkah merdeka pada satu tujuan, tidak ada nasionalisme ganda, tidak ada langkah politik ganda. Semua searah. Itu keindahan, sesuatu yang tidak akan pernah lagi kembali di Aceh.

Nasionalisme orang Aceh saat ini serba alang (tanggung). Tekanan militer dan propaganda politik tidak akan memperbaikinya, selain keadilan ekonomi untuk kami, serta menghormati budaya dan agama kami.

Saya, sebagaimana anak-anak lain, pernah punya tanggal terindah, 17 Agustus. Terserah apapun sudut pandang politik dan sejarah, saya mengucapkan doa bakti kepada negeri, mengucapkan doa kepada para pejuang dan pahlawan sejak zaman Samudra Pasai, Aceh Darussalam, dan semua orang yang memerangi dan menjadi musuh Belanda.

Serta semoga terkutuklah orang-orang yang menghamba pada Belanda saat itu, dan semoga disadarkanlah para antek Belanda yang masih ada di negeri ini. Salam kemerdekaan.[]

Thayeb Loh Angen

Baca juga: