Saat Sang Nabi Mulia hendak dibawa
ke Sidratil Muntaha,
Buraq yang menjadi kendaraannya
melesatkan langkah pertama
sejauh pandangan mata.
Dan itu setara, setidaknya dengan
300.000 km perdetik cepatnya.
(bayangkan, itu baru langkah pertama, awal mula keberangkatan).
Itulah perjalanan mu'jizat adanya
yang takkan terlampaui oleh akal manusia. Ia hanyalah gambaran kuasa
Rabb semesta, yang dengannya kita tersadar jiwa:
Tersadar tentang kerdilnya pengetahuan kita. Tersadar betapa singkatnya waktu dalam hitungan ilahi. Tersadar bahwa ruang dan waktu diliputi olehNya.
Demikianlah, kendara cahaya itu kemudian menjelma ibadah salat kita.
Yang menjadi pembeda dari kaum lainnya. Pun ia sebagai mi'rajnya sang mukmin: pintu masuk ke alam malakut.
Hanya saja, ritus sosial kita tetap menjadi ukuran apakah kendara itu tetap bercahaya atau tidak.[]
Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik.


