LHOKSUKON Empat ekor gajah yang berada dalam Conservation Response Unit (CRU) di Dusun Bate Ulee, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara sejak beberapa bulan terakhir kekurangan air minum. Bahkan untuk mandi saja harus menempuh jarak 2 kilometer menuju aliran Krueng (Sungai) Peuto.
Lokasi ini sebenarnya tidak layak dijadikan CRU karena di sini tidak ada sumber air. Selama ini kami hanya mengandalkan musim hujan. Untuk sungai terdekat berjarak sekitar 2 kilometer. Berbeda dengan lokasi CRU lain yang memiliki sumber air, kata Ferdimansyah, 25 tahun, pawang dari gajah Melu.
Ia menyebutkan, CRU Cot Girek membina empat ekor gajah. Dua betina, yakni Melu dengan pawang dirinya (Ferdimansyah) dan Marni dengan pawang Yusrizal Handoko. Dua ekor gajah jantan, Oto dengan pawang Rusdi dan Apan dengan pawang Yono.
Air yang biasanya ada di alue (aliran sungai kecil) depan kamp, kini mulai mengering. Untuk minum para gajah ini harus bersabar menunggu berjam-jam, itupun dahaga tak kunjung hilang karena air sangat sedikit, ujarnya.
Di sela-sela menemani gajahnya minum air, Ferdimansyah mengelus kepala Melu sambil berkata, Saba meutuah beuh, saba, nyak meutume ie kah meutuah beuh.
Menurutnya, kemarau panjang yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir bukan hanya mengakibatkan anak sungai mengering, namun tanah juga menjadi tandus dan gersang.
Sejauh ini tidak ada bantuan air dari dinas terkait. Padahal kondisi ini juga berakibat pada lesunya gajah dan seolah hilang semangat. Kami harap gajah-gajah ini mendapat penempatan di tempat yang layak dan dekat dengan sungai. Sehingga kami bisa latihan terus dan gajah menjadi semakin pintar, pungkasnya.
Kondisi kekeringan tidak hanya berimbas bagi gajah dan pawangnya, tapi juga masyarakat di Dusun Bate Ulee. Saat ini Alue Kunyet (aliran sungai kecil) di aliran Krueng Peuto tempat gajah biasa mandi pun sudah mulai mengering.
Di sini kami kesulitan air bersih. Selama musim kemarau begini kami hanya mengandalkan air sungai dengan jarak tempuh 2 kilometer. Sementara jarak tempuh ke sumber air bersih di Bupet Payong mencapai 7 kilometer, tambah Abu Bakar Ibrahim, 52 tahun, warga setempat.[]



