Selasa, Juni 25, 2024

Yayasan HAkA Minta APH...

BANDA ACEH - Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh...

HUT Ke-50, Pemkab Agara-Bulog...

KUTACANE - Momentum HUT Ke-50, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tenggara bekerja sama dengan...

Pemilik Gading Gajah Super...

BLANGKEJEREN - Satreskrim Polres Kabupaten Gayo Lues berhasil mengungkap kasus kepemilikan dua gading...

YARA Minta Polisi Transparan...

ACEH UTARA - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mendesak kepolisian serius menangani kasus...
BerandaBerita Aceh UtaraBKSDA Turun ke...

BKSDA Turun ke Kebun Dirusak Gajah di Paya Bakong, Ini Harapan Warga kepada Pemerintah

ACEH UTARA – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melalui Resort 12 Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 1 Aceh Utara merespons kejadian kawanan gajah liar yang merusak tanaman warga di kawasan Alue Kajeung Dusun Pante Kirou, Gampong Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, Senin, 21 Agustus 2023.

Tim BKSDA bersama tokoh masyarakat Paya Bakong turun ke lokasi untuk meninjau sejumlah kebun warga yang tanaman di dalamnya telah diubrak-abrik gajah liar. Lokasi kebun itu jauh dari permukiman warga setempat.

Kepala Resort 12 SKW 1 Aceh Utara, Nurdin, kepada wartawan, Senin, mengatakan konflik manusia dengan gajah di wilayah Gampong Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, bukan hal baru. Persoalan ini sudah lima tahun lebih, dan semakin meningkat yang diakibatkan banyaknya pembukaan lahan perkebunan baik skala kecil maupun besar.

“Tentunya ini sangat rumit untuk diselesaikan di lapangan. Sebelumnya pada 2016 ada gajah liar yang kita pasang GPS untuk memudahkan tim dalam memonitoring, dan dibuka kembali GPS itu saat memasuki tahun 2019. Kawasan Alue Kajeung adalah titik terakhir jelajah kawanan gajah mulai dari Kecamatan Langkahan dan berakhirnya di sini (Alue Kajeung, Kecamatan Paya Bakong). Tapi selama ini gajah menetap di hutan tersebut, karena ada aktivitas masyarakat yang membuka lahan (kebun) sehingga sasarannya terhadap kebun warga, dirusak,” kata Nurdin.

Menurut Nurdin, tanaman para petani yang diubrak-abrik itu berupa pohon pinang, pisang, sawit, pepaya, dan juga gubuk warga di kebun. Upaya-upaya yang selama ini dilakukan BKSDA bersama kelompok masyarakat di Gampong Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, menghalau kawanan gajah liar itu dengan membakar mercon.

“Tentunya ini masih kurang efektif. Upaya lain yang harus dilakukan ke depan untuk menyelamatkan masyarakat di sini, apakah nanti perlu pemasangan kawat kejut atau barrier penahan agar gajah liar tidak keluar dari kawasan. Ini perlu dukungan pemerintah daerah agar bisa teratasi permasalahan konflik manusia dengan gajah,” kata Nurdin.

Nurdin menyebut sebanyak 15 gajah yang merusak tanaman warga di Paya Bakong itu merupakan kawanan yang memisahkan diri dengan kelompok lainnya. Sedangkan jumlah secara keseluruhan mulai dari Kecamatan Langkahan hingga Paya Bakong diperkirakan sebanyak 70 gajah, tapi mereka sebagian berpecah dari kawanan menjadi beberapa kelompok.

“Gajah itu ketika cuaca dingin akan mulai beraktivitas juga pada siang hari, kalau malam memang sudah lumrah. Kami selalu mengarahkan masyarakat bagaimana caranya untuk menggiring gajah liar bisa keluar dari perkebunan,” ujar Nurdin.

Mukim Pante Bahagia, Kecamatan Paya Bakong, Usman, mengatakan di kawasan Alue Kajeung, Dusun Pante Kirou, tiga bulan terakhir gajah bolak-balik menghancurkan tanaman.

“Beberapa tahun lalu juga pernah terjadi, tapi tidak begitu sering seperti saat ini. Kami sangat mengharapkan kepada Pemerintah Aceh Utara agar merespons secara serius terutama sekali bagi petani, bagaimana caranya untuk mengantisipasi supaya kebun warga tidak lagi dirusak gajah. Harapan kami bisa dilakukan pemasangan kawat kejut ataupun digiring gajah liar ke tempat terasing dari perkebunan milik masyarakat Gampong Blang Pante dan sekitarnya,” ujar Usman.

Menurut Usman, pihak Conservation Response Unit (CRU) seharusnya mendampingi masyarakat terkait persoalan tersebut. “Jika sudah seperti ini kejadiannya maka masyarakat menganggap gajah itu sebagai hama dan bukan lagi satwa yang dilindungi oleh negara. Karena para pihak yang bertanggug jawab tampaknya kurang perhatian saat kawanan gajah itu memasuki perkebunan warga. Hanya BKSDA yang sering membantu serta mendampingi masyatakat di lapangan,” tuturnya.

“Kalau kita kejutkan atau giring gajah menggunakan mercon tidak efektif lagi, terkadang gajah mengejar balik warga yang membakar mercon tersebut. Bahkan ada seorang pemilik kebun saat dikejar naik ke atas pohon besar jam delapan malam sampai jam delapan pagi baru berani turun, karena kawanan gajah menunggu orang itu turun. Makanya kami sangat berharap Pemda harus betul-betul serius dalam menanggapi permasalahan konflik gajah dengan masyarakat, jangan menganggap ini hal sepele,” tambah Usman.

Camat Paya Bakong, Syahrul Nizam, S.STP., M.Si., mengatakan pihaknya berharap ada perhatian khusus dari Pemerintah Aceh terhadap persoalan yang dialami masyarakat. “Artinya, dengan adanya peristiwa itu untuk mencari solusi terbaik, dan bagaimana ke depan gajah tersebut jangan hanya dihalau menggunakan mercon, itu tidak mempan lagi untuk menggiring gajah ke lokasi yang jauh dari aktivitas warga petani kebun”.

“Mungkin solusi lain adalah kawanan gajah liar itu bisa dijinakkan dengan menggunakan gajah jinak. Mudah-mudahan apapun yang diharapkan para petani dapat terwujud ke depan,” ucap Syahrul Nizam.[]

Baca juga: