SETIAP perguruan tinggi di Indonesia memiliki kewajiban moral untuk senantiasa mengingatkan setiap mahasiswa tentang pentingnya mengafirmasi identitas dan eksistensi dirinya secara baik, cerdas dan kritis. Sejarah dunia telah membuktikan bahwa mahasiswa memiliki peran yang sangat penting bagi bangsanya.

Lebih seratus tahun lalu ada seorang laki-laki yang bercita-cita ingin menyatukan sebuah negeri yang dikenal dengan sebutan nusantara. Tahun 1800-an berkumpul pemuda-pemuda untuk bagaimana bisa mewujudkan mimpi-mimpi itu. Tahun 1928 berkumpul pemuda mengucapkan satu label simbolis kelahiran sebuah bangsa Indonesia, waktu itu dikenal momen itu sebagai sumpah pemuda.

Tahun 1945 golongan muda bertikai dengan golongan tua untuk kemudian menculik Bung Karno, untuk kemudian bisa memproklamasikan kemerdekaan negeri kita Indonesia. Kemudian waktu berjalan, Negara berkembang, lagi-lagi pemuda berkumpul ketika itu dikenal dengan sebutan mahasiswa. Berkumpul untuk apa? Untuk menumbangkan sebuah rezim yang zalim, mahasiswa membuktikan kekuatannya, Bung Karno dilengserkan. Kemudian berkembang menuju tahun 1998 lagi-lagi negeri ini dipimpin oleh orang-orang zalim. Kemudian mahasiswa muncul lagi kepermukaan bagaimana bisa menumbangkan orang-orang zalim dari permukaan.

Tahun 2008, ketika pemuda mulai dilenakan dengan yang namanya narkoba. Kemudian hari ini, banyak orang-orang yang mengatakan mahasiswa tugasnya hanya kuliah, mahasiswa hanya boleh melakukan penelitian. Mahasiswa tidak boleh menyuarakan kebenaran di depan pemerintah. Seharusnya, dengan tegas hari ini kita katakan bahwa pemerintah itu salah.

Ketika ada orang di gedung-gedung akademik, mahasiswa tidak boleh turun ke jalan kita katakan dengan lembut bahwa mereka itu salah. Menjadi kewajiban mahasiswa, menjadi tanggungan di setiap universitas, apalagi untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang telah lama hilang. 90% blog migas kita diambil oleh negara asing, belum lagi emas, belum lagi batu bara dan lain sebagainya.

Ketika kita hanya dilenakan oleh besarnya gaji, ketika kita dilenakan oleh hal-hal yang sangat tidak penting bahkan yang tidak menyehatkan mau jadi apa negara ini. Maka hari ini, saya bertanya kepada mahasiswa sekalian masih beranikah kalian mengucapkan sumpah mahasiswa Indonesia sebagaimana dahulu pemuda mengucapkan sumpah pemuda indonesia. Saya rasa tidak, kenapa demikian? Karena mahasiswa sekarang sudah kehilangan daya kritisnya.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5,1 juta orang, dan itu terbesar di Asia. Dari jumlah itu, 40% di antaranya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Ada yang penasaran lalu mencoba, ada yang sudah berapa kali terus ketagihan, dan ada yang sudah kecanduan lalu jadi bandar. Yang coba-coba pakai saja jumlahnya hampir 1,2 juta orang.

Mereka umumnya pelajar dari SD hingga perguruan tinggi. Dari jumlah itu sudah terdeteksi bahwa di Indonesia sudah beredar 68 jenis narkoba. Sedangkan yang baru masuk ke Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) dan Undang-Undang Narkotika sebanyak 60 jenis. Sedangkan sisanya belum masuk ke dalam ketentuan tersebut.

Berdasarkan kasus di atas seharusnya pemerintah dan universitas mempunyai peran penting dalam hal tersebut. Perkara tersebut memang sulit untuk diungkapkan. Tapi setidaknya setiap tahun atau bulannya di setiap kampus atau akademik harus melakukan antisipasi Narkoba.

Di kampus-kampus saat ini menjadi hal yang sangat aman untuk melakukan peredaran barang haram tersebut. Mereka harus dibentuk idealismenya sebagai mahasiswa. Seperti halnya yang dikatakan Duta Baca Indonesia Najwa Shihab, “Buat apa wilayah seluas Sabang sampai dengan Merauke, jika pemudanya kehilangan idialisme?”.

Dosen saya (@TM) juga pernah mengatakan dalam opininya “Maraknya penggunaan narkoba yang melanda generasi muda telah mengakibatkan terjadinya penurunan berbagai kualitas hidup yang mengancam mandeknya kemerdekaan nalar dan kewarasan akal sehat pada generasi muda, sehingga dengan mudah didorong untuk terjadinya konflik horizontal melalui isu SARA dan kesenjangan ekonomi, sosial, dan politik bangsa.

Saya sangat setuju dengan kata beliau karna hal tersebut juga saya rasakan pada saat ini. Sesekali mahasiswa mengadakan diskusi itu hanyalah formalitas dan rutinitas. Mahasiswa sekarang mengadakan diskusi tanpa target, dan yang lebih parahnya dengan tanpa konsistensi. Diskusinya sangat sporadis dan biasanya menjelang momen-momen politik. Mau pemilihan presiden atau sebagainya mereka buat diskusi, targetnya sederhana: bukan untuk intelektualisme, tapi untuk popularitas.

Jika itu semua terjadi bagaimana dengan generasi ke depan, bangsa ini akan semakin hancur. Sungguh kampus tidak layak lagi untuk dijadikan tempat untuk memperoleh pengalaman. Peran mahasiswa saat ini tidaklah penting bagi pemerintah. Bagaimana dengan 10 tahun ke depan, saat ini saja mahasiswa hampir tidak memiliki peran bagi masyarakat. Karna masyarakat tidak membutuhkan angka-angka.

Mahasiswa sekarang sudah lemah, apalagi pemerintah menyudutkan mereka dengan kata tidak nasionalis, bahkan ada yang mengatakan kumpulan-kumpulan mahasiswa di masa sekarang tidak lagi mempunyai rasa nasionalis. Bahkan ketua organisasi mahasiswa tertua di Indonesi pernah diminta kehadirannya ke kantor KPK untuk memferevikasikan tentang kinerja mereka, mereka dituduh korupsi.

Padahal jika kita mengungkit pengorbanan mereka buat Indonesia sangatlah besar. Bahkan saat ini organisasi-organisasi seperti itu ingin dilengserkan oleh pemerintah. Sehingga mahasiswa sekarang tidak mempunyai pergerakan-pergerakan seperti mahasiswa-mahasiswa pada masa yang lalu.

Seharusnya mahasiswa sadar bahwa mereka mempunyai peran menting bagi negara ini. Kita tidak seharusnya berketergantungan dengan pemeritah. Kita harus mandiri, membentuk kembali nalar kritis kita. Karena dengan adanya mahasiswa bangsa ini terbentuk. Ingat kita harus menumbuhkan rasa cinta bagi negara kita.

Cintalah yang membuat para tentara Jepang melakukan harakiri, dengan menabrakkan pesawatnya ke Pearl Harbour, dalam perang dunia ke dua. Cintalah yang membuat romeo dan juliet menjadi lagenda. Cintalah yang membuat orang bangga berkata: right or wrong it’s my country. Bahkan cinta yang membuat realitas menjelma. Cinta itu adalah sesuatu yang tidak mungkin kita ungkapkan, karena sejatinya tidak perlu di ungkapkan. Cukup dirasakan, cukup dinikmati, cukup diratapi.

Dan cinta itu adalah memberi bukan menerima, kata Erich Fromm. Kata-kata itu begitu dalam maknanya. Memberi itu membuat seorang aktif, dinamis dan sekaligus menunjukkan eksisitensinya.

Rasul kita Mmuhammad mengajarkan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, karena tangan di atas itu memberi, dan tangan di bawah itu menerima. Memberi sebenarnya adalah tindakan penyatuan. Dan itulah esensi dari cinta: mengatasi rasa keterasingan dan keterpisahan. Cintalah yang membuat kita tidak sendiri, meski menurut Chairil Anwar hidup adalah kesunyian masing-masing. Karena itu pulalah orang bijak berkata: jangan kau tanya apa yang telah kau dapatkan dari bangsamu, tapi tanyalah apa yang telah kau berikan bagi bangsamu.

Follow your passion, itulah hal yang harus anda lakukan sekarang. Jika anda belum menemukan passion, maka carilah, dan ikutilah passion tersebut. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang dapat membentuk nalar kritis serta memiliki rasa idealisme untuk bangsanya.[]

Penulis: Ihsan Kamil, Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Unsyiah dan pengurus HmI FKIP Unsyiah.