SORE itu, Kamis, 1 Februari 2018, saya dan Siti Rahmah sepakat untuk bertemu. Kak Rahma, begitu saya memanggil perempuan asal Aceh Tamiang itu, turut mengajak Fardelyn bergabung bersama kami.
“Kakak ajak Fardelyn juga ya,” ia meminta persetujuan saya.
“Boleh, Kak. Boleh,” saya mengonfirmasi.
Jadilah pukul lima belas hari itu kami bertemu di Kuta Alam Kupi di kawasan Simpang Lima Banda Aceh. Saya mengusulkan tempat ini karena banyak pepohonan, udaranya terasa lebih segar dan tidak pengap.
'Bergunjing'. Adalah hal yang paling disukai oleh kaum perempuan ketika mereka bertemu sesamanya. Istilah kerennya bergosip. Pun yang kami lakukan hari itu. Sambil menyesap minuman sesuai pesanan masing-masing, dan mengunyah berbungkus-bungkus kacang kulit, kami memilih menggunjingkan tentang buku.
Dua buku yang saya bawa Hujan Bulan Juni karya penyair terkenal Sapardi Djoko Damono dan Kepingan Supernova karya penulis fenomenal Dee Lestari mengantarkan kami dalam ruang diskusi yang hangat dan padat.
Kami ingin menampik anggapan, bahwa jika perempuan sudah berkumpul yang mereka gosipkan paling tak lebih dari seputar gosip artis, resep makanan, atau tren pakaian terbaru. Dunia sudah berubah, bahwa selain hal-hal yang berkaitan fisik, kami lebih suka membicarakan tentang isi kepala dan bagaimana menambah isi dompet lewat karya.
Yang menjadi sorotan utama dalam pertemuan itu adalah Kak Rahma. Pasalnya, perempuan yang pernah bekerja di World Bank di masa rehab rekon Aceh ini sebentar lagi akan menerbitkan buku. Ia sempat menunjukkan naskah digitalnya kepada kami. “Sekarang dalam tahapan layouting,” kata Kak Rahma.
Buku yang ditulis Kak Rahma menceritakan tentang seluk-beluk Aceh yang dirangkum dalam judul “Jejak Setapak di Tanah Rencong”. Bagaimana isi dan alur ceritanya, kita harus bersabar menunggu sampai buku ini siap diterbitkan. Saya salut padanya. Di sela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, ia sedang menyelesaikan tahapan akhirnya untuk menjadi seorang notaris PPAT. Namun itu tidak mengusiknya untuk menukilkan karya melalui buku.
Di waktu lain ia harus mengorbankan waktu lebih banyak untuk menemui narasumbernya di luar kota. Bahkan hingga ke seberang lautan. Dan itu tanpa sponsor. Belum lagi sekelumit kisah tak menyenangkan dalam proses yang harus ia lalui demi menerbitkan buku itu. “Tapi sekarang saya lega.”
Pun Fardelyn, perempuan asal Aceh Selatan ini sudah saya kenal lebih dari sepuluh tahun. Sebelum menjadi dosen di Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala, saya lebih dulu mengenalnya sebagai pelahap buku yang rakus. Kerakusan yang masih dipeliharanya sampai sekarang. Kami sering berbagi cerita mengenai buku-buku terbaru, atau, sesuai genre yang kami sukai yaitu fiksi, kami sering bergosip tentang cerpen-cerpen di majalah perempuan di bilik chatting.
Begitulah perempuan, makhluk paling multitasking di dunia ini. Melalui mereka berdua saya menyadari; perempuan dan buku adalah perpaduan keseksian tiada tara.[]
Catatan:
Tulisan ini mengawali catatan-catatan selanjutnya yang saya tulis khusus di kolom Pinggir Sudut. Mengapa saya pilih nama kolom Pinggir Sudut? Karena inilah tempat yang paling saya sukai. Ditemani secangkir kopi, dari pinggir sudut itulah anak-anak imajinasi saya beralih rupa menjadi narasi.





