Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaBerita Aceh BesarKetika Tsunami Menerjang...

Ketika Tsunami Menerjang Aceh, Inilah Kisahku

Pagi itu, 26 Desember 2004, aku (Yulianda) terbangun sekitar pukul 07.00 WIB, langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Selang beberapa menit, tanah terasa bergetar, pelan hingga kencang. Gempa bumi sangat dahsyat. Di luar rumah tempat aku menginap di Desa Pasi, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, aku melihat daun-daunan berguguran dari pepohonan, terdengar reruntuhan batu-batuan dari gunung hingga suara jembatan besi akibat gempa.

Tak lama setelah gempa, aku melihat ke arah laut. Air laut sudah surut. Ramai warga berlarian ke laut untuk mengambil ikan yang berhamburan. Sekitar 15 menit kemudian, muncul suara seperti ledakan dari arah lautan. Bersamaan dengan itu air laut bergelombang tinggi berwarna hitam tumpah ke daratan. Aku yang berdiri dari jarak sekitar 500 meter dari pantai melihat orang-orang yang tadinya mengambil ikan di laut langsung berlarian ke daratan. Di tengah kepanikan itu aku hanya bisa mengucapkan “Allahu Akbar”.

Gelombang air laut tampak semakin dekat. Teriakan orang-orang terdengar dari berbagai arah. Di tempatku berdiri ada satu pohon mangga berukuran sangat besar. Aku sempat ingin memanjatnya, tapi terbisik dalam hati, “jika kiamat semuanya akan runtuh”. Sehingga aku berlari ke arah gunung yang jaraknya sekitar 1 kilometer.

Saat aku berlari yang dikejar ombak, terdengar suara orang-orang histeris, bangunan-bangunan ambruk. Aku berjumpa dengan ibu-ibu yang sedang menuju ke arah lautan, sepertinya mereka mau ke sawah. Aku berkata “air laut naik”. Tiba-tiba di antara ibu-ibu itu ada yang pingsan.

Ketika aku berlari ke arah perbukitan sempat terjebak dengan jembatan layang yang panjangnya sekitar 70 meter. Jembatan layang itu berayun-ayun dan di atasnya ramai orang sehingga susah untuk melewatinya. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa melewati jembatan itu.

Setelah itu aku terus berlari ke arah perbukitan. Namun, aku terhambat lagi, karena ada anak sungai yang lebarnya sekitar 10 meter, tidak ada jembat. Hanya ada sebatang pohon pinang untuk jembatan penyeberangan. Di situ orang-orang berkumpul, harus mengantre untuk bisa melewati jembatan darurat tersebut.

Tatkala aku menoleh ke belakang, air laut semakin dekat. Aku melihat ke depan, bukit pun sudah dekat, sehingga aku meloncat ke dalam anak sungai tersebut. Ternyata berlumpur dan dalam, aku berusaha keras bergerak ke arah bukit. Saat itu banyak orang mengantre untuk naik ke atas bukit.

Akhirnya aku tiba di kaki bukit. Begitu menoleh ke belakang aku langsung dihantam ombak tsunami hingga pingsan. Entah berapa lama aku pingsan di dalam air berlumpur dan dalam yang dipenuhi kayu dan papan-papan material dinding rumah.

Saat siuman, aku yang masih berada di dalam air berlumpur berusaha bergerak ke permukaan. Selain sempat terminum air berlumpur, aku juga kewalahan karena puing-puing di atas kepalaku sangat susah untuk aku geser. Perlahan kepalaku bisa mencapai permukaan air hingga mataku dapat melihat langit, sementara di sekelilingku banyak puing-puing bangunan.

Perlahan aku mengangkat tangan kanan dan kiri sehingga setengah badanku berada di atas puing-puing bangunan yang diseret tsunami. Saat itu aku merasa ditarik oleh arus air ke arah laut dan dihempas ke arah tebing. Sekitar tiga kali seperti itu, dan terasa sangat sakit karena posisiku di antara puing-puing yang dihempas ke bebatuan bukit. Aku sudah pasrah. Pada hempasan ketiga, aku sempat memegang kayu-kayu kecil sehingga aku bisa menaikkan badan ke bukit.

Saat aku sedang berusaha merangkak pelan-pelan ke atas, ada seorang perempuan dewasa yang menggunakan baju kaos menarik kakiku yang setengah badannya di dalam air. Kala itu aku betul-betul sudah tak berdaya. Aku bilang pada ibu itu, “Buk, tolong lepaskan saya dulu, nanti saya bantu tarik, Ibu”.

Setelah dilepaskan oleh ibu itu aku naik sekitar 2 meter dari permukaan air. Namun, ketika aku mau membantu, ibu tersebut sudah menghilang ditelan air.

Perhan-lahan aku naik ke atas bukit yang bebatuan tajam. Sekitar 8 meter di atas permukaan air aku melihat ke belakang, sudah tiada lagi kampungku. Dari kaki bukit sampai sejauh mata memandang hanya air laut dan puing-puing yang aku lihat. Di sela-sela puing itu aku juga melihat seorang ibu memakai baju putih sedang menggendong bayinya, dibawa arus sangat kencang ke arah kanan bukit.

Merasa khawatir air semakin naik, aku terus mendaki ke bukit, walaupun telapak kakiku sudah berdarah namun belum terasa perih. Lalu, aku duduk dan melihat lagi, semuanya air laut dan puing-puing bangunan.

Saat itu pula aku teringat dengan kedua orang tuaku, kakak dan dua adikku. Aku tidak tahu mereka berada di mana dan bagaimana kondisinya. Aku sangat sedih, menangis berteriak sekuat tenaga, namun tak keluar air mataku. Rasa haus pun datang, luka di telapak kaki mulai perih.

Gempa susulan terus terjadi, saya dan beberapa orang terus mendaki bukit dan masuk ke dalam gunung karena takut air laut tambah naik. Di dalam hutan hanya ada suara orang-orang yang berteriak memanggil keluarganya.

Sekitar pukul 15.00 WIB, saya dan orang-orang yang berhasil menyelamatkan diri ke gunung, sepakat turun ke perlahan-lahan. Sesampai pertangahan bukit, kami melihat daratan hanya menyisakan puing-puing rumah dan genangan air. Tidak terlihat seorang manusia maupun hewan yang berjalan.

Tiba di bawah aku menginjak tanah bercampur pasir dan lumpur. Telapak kakiku yang sudah terkoyak sangat perih sampai aku tak bisa jalan lagi.

Jarak desaku dengan tempatku bermain sekitar 5 kilo,perlahan aku pulang mencari keluargaku. Di tengah perjalanan aku melihat mayat yang luar biasa banyaknya. Aku memeriksa setiap jenazah untuk memastikan apakah keluargaku. Ternyata bukan keluargaku dan aku tidak mengenalnya.

Sekitar pukul 17.00 WIB, aku sampai di pusat Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, yang tidak terkena dampak tsunami. Aku melihat orang-orang sudah tak berdaya. Aku ke pukesmas yang di dalamnya banyak jenazah. Tidak jauh dari situ aku menjumpai warga desaku. Aku menanyakan apakah ia melihat keluargaku. “Tidak ada yang selamat dari desa kita. Jalan menuju desa kita sudah tiada,” ucap dia.

Kemudian aku mendapat informasi hanya beberapa warga desaku yang selamat, tapi tidak ada keluarga maupun saudaraku. Aku menangis histeris.

Malam itu, saya dan orang-orang yang selamat bermalam di pusat Kecamatan Lhoong, tidak ada lampu, gelap. Malam itu gempa susulan masih terjadi. Alhamdulillah, kami bisa makan walaupun hanya nasi putih yang tersedia di dapur umum, sehingga memiliki tenaga kembali.

Keesokan harinya kami turun ke desa kami, Blang Mee, Kecamata Lhoong, untuk mencari keluarga. Kami sudah tak takut karena sudah pasrah. Dalam pikiran saya “ini sudah kiamat”, jadi semuanya akan mati. Kami terus berusaha mencari anggota keluarga, namun tidak kami temukan. Hanya ada jenazah orang lain.

Kami mencari sampai berhari-hari, tapi tidak kami temukan. Firasat saya keluarga kami tertimpa puing-puing yang dibawa arus air ke kaki bukit sehingga kami tidak sanggup mengangkatnya karena kami tidak memiliki alat. Jenazah orang lain yang kami temukan, kami kuburkan hanya sedalam beberapa jengkal, karena kami tidak memiliki cangkul. Kami menandai kuburan itu agar nanti saat ada yang mencarinya kami bisa memberitahukan.

Sekitar lima hari setelah tsunami, kami melihat muncul api besar di lereng bukit, entah ada orang yang membakar sesuatu, kami tidak tahu. Malam itu kami yang membuat tenda di daerah desa kami hanya melihat api begitu besar di lereng perbukitan yang jaraknya 1 km dari tempat kami.

Kami tidak menemukan jasad keluarga kami. Air mata kami mengalir tak terbendung. Rasanya kami ingin pergi bersama mereka. Allahu Akbar.

Ketika itu aku masih pelajar SMA. Alhamdulillah, usai tsunami banyak NGO dalam dan luar negeri yang datang ke Aceh membantu para korban. Salah satunya LSM MER-C Indonesia yang memberikan bantuan medis. Pada masa itu aku dibantu seluruh biaya sekolahku sampai selesai kuliah di Universitas Syiah Kuala.

Kini, 17 tahun sudah berlalu tsunami Aceh. Aku kembali ingin mengucapkan terima kasih kepada (almarhum) Presedium MER-C dr. Joserizal Jurnalis, kawan-kawan relawan Mer-C, dr. Sarbini Abdul Murad, dan ibu angkatku, dr. Zackiya Yahya dan Ibu Ira Hadiati.[]

Penulis: Yulianda, S.E., kini menetap di Banda Aceh.

Baca juga: