28.7 C
Banda Aceh
Kamis, Februari 9, 2023

Ketua Komisi V DPRA: Sekda Jangan Cari Panggung dalam Penanganan Stunting di Aceh

BANDA ACEH – Ketua Komisi V DPR Aceh, M. Rizal Falevi Kirani, mengatakan Aceh bekerja untuk penanganan stunting bukan baru di 2022 ini, tetapi sudah sejak 2018 dengan lahirnya Peraturan Gubernur Nomor 14 Tahun 2018 tentang Pedoman Pencegahan dan Penanganan Stunting di Aceh. Berdasarkan Perbup itu kemudian dibentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Stunting Aceh.

“Untuk itu kita minta kepada Sekda jangan over acting di depan Pj. Gubernur. Jangan seolah-olah Pemerintah Aceh sebelumnya tidak bekerja. Sekda harus memberi informasi yang benar dan utuh pada Pj. Gubenur sehingga Gubernur bisa memberi arahan kerja berdasarkan evaluasi terhadap aktivitas sebelumnya,” kata Falevi dalam pernyataan tertulis, 1 September 2022.

Berdasarkan pedoman dalam Peraturan Gubernur Nomor 14 Tahun 2018, dibentuk Rumoh Gizi Gampong (RGG) yang menjadi metode penanganan dan pencegahan stunting di Aceh. “Jadi, bukan dibuat yang baru seperti GISA (Gerakan Imunisasi dan Stunting Aceh (GISA) yang hanya akan membuat bingung masyarakat dan memulai sesuatu program yang baru di masyarakat gampong dan pihak SKPA,” ujarnya.

Falevi menilai GISA yang didengungkan Sekda Aceh tidak menyentuh substansi stunting, karena kerjanya sporadis dan insidental. Stunting itu adalah kejadian yang muncul dari proses yang panjang dan dibutuhkan waktu yang 3-6 bulan untuk bisa menanganinya.

Menurut Falevi, pemberian tablet vitamin, PMT, dan bantuan periodik bukanlah cara dalam penanganan stunting, melainkan dengan cara memberikan makanan yang seimbang gizi dan protein untuk 3 kali makan setiap hari selama 3-6 bulan lamanya.

“Dalam hal inilah Presiden (BKKbN) membuat program Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS) yang terdiri pada 3 kegiatan utama yaitu pengumpulan donasi, pelibatan pihak ketiga, dan pengelolaan dana. Jadi, BAAS ini bukan mewajibkan SKPA bertanggung jawab perwilayah kabupaten seperti yang dilakukan Sekda,” tutur politikus PNA itu.

Falevi menilai GISA yang mengharuskan hampir semua SKPA turun ke lapangan, hanyalah kegiatan menghamburkan SPPD (APBA). Bahkan SKPA yang tidak berhubungan langsung dalam penurunan stunting ikut turun, apalagi dipastikan tidak semua SKPA memahami dengan baik persoalan stunting dan metode penanganannya. “Itulah sebabnya kita meminta Pak Gubernur segera menghentikan aktivitas tersebut,” tegasnya.

Menurut Falevi, stunting tersebut membutuhkan konvergensi program dari semua stakeholder yang mampu memastikan warga stunting mendapatkan asupan gizi dengan kalori yang cukup serta dapat mengakses layanan kesehatan dengan mudah.

Program RGG adalah mekanisme program pencegahan dan penanganan stunting yang memastikan masyarakat gampong sebagai subjek dan dibantu langsung oleh pihak Puskesmas yang didukung pemerintah kabupaten/kota dan mendapat asistensi dan kordinasi dari Pemerintah Aceh dalam hal ini SKPA.

RGG itu program yang memastikan warga stunting mendapat bantuan makan dengan gizi dan protein yang cukup untuk 3 kali sehari selama 3-6 bulan. RGG juga dapat mengajarkan kepada masyarakat bagaimana mencegah dan menangani stunting dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar lingkungan masyarakat. Pengolahan makanan bergizi dari sumber pangan yang ada di sekitar rumah, ketahanan pangan mandiri dari pekarangan rumah. Bukan hanya sumber gizi dari suplemen makanan.

“Leading sector harus bisa memetakan penderita stunting per gampong by name by address sehingga penanganannya betul tepat sasaran bukan hanya slogan-slogan dan stempel stiker di mobil dan lain sebagainya,” pungkas Falevi.

Beberapa waktu lalu, Penjabat Gubernur Aceh Achmad Marzuki, telah meluncurkan GISA. Gerakan ini bertujuan untuk mempercepat cakupan 7 imunisasi dasar dan penanganan stunting Aceh yang hingga saat ini masih cukup tinggi. GISA adalah ikhtiar mempersiapkan generasi bangsa yang sehat dan berprestasi.

Untuk kesuksesan GISA, Pj. Gubernur menugaskan Sekda Aceh Taqwallah, selaku Ketua Satgas Penanganan Stunting Aceh untuk mengawal gerakan ini, Rabu (25/8).

Sejak Selasa (24/8), Sekda Aceh mulai mensosialisasikan GISA kepada para ASN jajaran Pemerintah Aceh peserta dzikir dan doa yang tersebar di seluruh Aceh. “Agar anak-anak kita tumbuh lebih sehat dan cerdas, maka harus kita persiapkan sejak dini. Bukan hanya sejak dalam kandungan, secara lebih luas, mempersiapkan generasi yang sehat bahkan harus kita mulai di masa pra nikah,” ujar Sekda dikutip dari siaran pers Humas Pemerintah Aceh.

Oleh karena itu, kata Sekda, pada GISA ini nantinya akan ada pemberian vitamin penambah darah untuk siswi tingkat SMP dan SMA. Pemberian vitamin penambah darah ini akan berlangsung selama 52 minggu. “Setiap minggunya, para siswi akan diberikan vitamin penambah darah, gratis. Nantinya Dinas Pendidikan atau instansi terkait lainnya akan mendistribusikan ke sekolah-sekolah atau pihak sekolah bisa juga mengambil langsung ke instansi yang akan ditunjuk kemudian,” kata Taqwallah.

Selain itu, lanjut Taqwallah, GISA juga akan mensosialisasikan dan memacu pelaksanaan 7 imunisasi dasar pada anak, yaitu imunisasi Hbo, BCG, OPV, IPV, DPT-HepB-HiB, MR dan PCV, serta 10 upaya intervensi stunting. “Capaian imunisasi Aceh masih rendah, harus diakui hal ini menjadi sebab kenapa angka stunting kita tinggi, karena anak yang tidak diimunisasi lengkap rentan terserang penyakit. Nah, masa balita yang tidak sehat akan berimbas pada tumbuh kembang fisik dan otak anak. Inilah salah satu penyebab stunting,” imbuh Sekda.

Terkait upaya penanganan stunting, GISA akan melakukan sepuluh upaya intervensi, yaitu pemberian tablet tambah darah dan screening anemia pada remaja. Kepada ibu hamil, GISA akan melakukan pemeriksaan kehamilan, pemberian tablet tambah darah dan pemberian makanan tambahan kepada ibu hamil KEK.

Sedangkan untuk balita, GISA akan melakukan pemantauan tumbuh kembang balita, penyuluhan dan sosialisasi pentingnya pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan berprotein hewani bagi bayi dua tahun, tata laksana balita dengan masalah gizi serta peningkatan dan percepatan cakupan perluasan jenis imunisasi.

“Aceh adalah 1 dari 12 daerah tingkat provinsi yang menjadi fokus penanganan stunting. Pak Pj Gubernur telah bertemu langsung dengan Wakil Presiden untuk melaporkan dan membahas upaya penanganan stunting di Aceh. Dari pertemuan tersebut, Pak Pj. Gubernur menggagas GISA ini. Mari kita sukseskan GISA, Insya Allah dengan ikhtiar bersama, upaya kita melahirkan generasi Aceh yang sehat, cerdas, dan berprestasi akan terwujud,” kata Taqwallah.[](ril)

Berita Terkait

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA POPULER

Terbaru

Edar Ganja, Seorang Kakek di Pidie Ditangkap Polisi

SIGLI - Seorang kakek berinisial B (60 tahun), warga Gampong Puuk, Kecamatan Delima, Kabupaten...

Normalisasi Sungai dan Drainase BPBD Pidie Kerahkan Enam Beko

SIGLI - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie mengerahkan enam alat berat ekskavator (beko)...

Habibi Inseun: Partai Buruh Aceh Konsisten Perjuangkan Hak Para Buruh

"Partai Buruh lebih bertekad dan berharap dapat mengisi parlemen, mendapat amanat dari rakyat, petani,...

Menyoal Komitmen Partai Lokal Aceh

Menurut lansiran laman resmi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, (akses Januari 2023) KPU telah menetapkan...

LSM Desak Pemko Lhokseumawe Tes Urine Semua Pejabat, Jangan Hanya Tenaga Kontrak

LHOKSEUMAWE - Aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Aceh mempertanyakan kebijakan Pemko Lhokseumawe yang...

PKK Subulussalam Serahkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Penanggalan Timur

SUBULUSSALAM - Tim Penggerak PKK Kota Subulussalam menyerahkan bantuan sembako, pakaian layak pakai dan...

Sepuluh Anggota PPS Pidie Diganti, Ini Alasan Ketua KIP

SIGLI - Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Pidie mengganti 10 anggota Panitia Pemungutan Suara...

Presiden Jokowi akan Kunjungi Aceh Utara, Korem Lilawangsa Gelar Apel Pasukan

LHOKSEUMAWE - Presiden RI, Joko Widodo, akan berkunjung ke Lhokseumawe dan Aceh Utara, Jumat,...

Tgk M Yunus Sambut Baik Pemberangkatan Umrah Melalui Bandara SIM

BANDA ACEH - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Fraksi Partai Aceh, Tgk. M...

Rakor CSR, Pj Wali Kota Lhokseumawe: Janji-Janji, Realisasinya Mana?

LHOKSEUMAWE – Penjabat Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Imran, menunjukkan sikap tegas di hadapan perwakilan...

Ketua PKS Aceh: Semua Pihak Perlu Duduk Kembali, Rembuk UUPA

"Setahu saya, itu kan sudah disahkan oleh Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri), tinggal, ya, kemudian...

MaTA Sorot Sejumlah Proyek APBN di Aceh Mangkrak, Bendungan Irigasi Hingga Rumah Susun Pesantren

BANDA ACEH – Masyarakat Transparasi Aceh (MaTA) menyoroti sejumlah proyek bersumber dari APBN tahun...

JASA Bireuen Nilai DPRA Bungkam Terkait Bendera Bintang Bulan

"Kami mempertanyakan, kami ingin DPRA memperjelas qanun bendera Aceh yang sudah disahkan oleh pemerintah...

Persaudaraan Aceh Seranto Sampaikan Dukacita Atas Gempa Turki

"Saya mewakili seluruh pengurus PAS Aceh meluangkan dukacita mendalam untuk korban gempa Turki dan...

PUPR Aceh Utara Paparkan Perjuangan Lahirnya Proyek Jembatan Sarah Raja, Balai Jalan Nasional Harus Tuntaskan

ACEH UTARA – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Utara merespons terkait...

Pengulu Desa Lestari Dipanggil Kejari Gayo Lues, Ini Kasusnya

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Gayo Lues memanggil Pengulu (Kepala Desa) Lestari atas...

Proyek Jembatan Gantung Sarah Raja-Sarah Gala Diduga Mangkrak

ACEH UTARA - Warga Dusun Sarah Raja, Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh...

Anies Baswedan Disebut Utang Rp 50 Miliar ke Sandiaga Uno

JAKARTA - Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif...

Terima Pengurus IDI, Ketua DPRK Diskusikan Stunting di Banda Aceh

BANDA ACEH - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Farid Nyak Umar,...

Tekan Inflasi, Pemko Banda Aceh Gelar Pasar Murah 5 Hari Berturut-turut di 5 Lokasi

BANDA ACEH - Pemerintah Kota Banda Aceh terus melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan harga...