<!–StartFragment–>TAKENGON – Produktivitas kopi Arabika Gayo yang beragam dari lahan perkebunan petani mengundang komentar Ketua Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG), Mustafa Ali.
Menurut Mustafa, ada beberapa faktor selain faktor lingkungan untuk meningkatkan produktivitas kopi, di antaranya peran pemerintah, sektor swasta dan dari petani sendiri, semua pihak tersebut harus harus bersinergi.
Namun kata Mustafa, peran dominan untuk meningkatkan produktivitas tanaman kopi terletak di tangan petani, caranya bisa dengan saling berbagi ilmu dan tidak gengsi untuk belajar dari pengalaman petani lain.
“Sudah umum diketahui, bila ada petani di kawasan yang sama, namun ada yang lebih berhasil dari pada petani lainnya, di sinilah perlu ada saling berbagi pengalaman, yang sudah lebih baik berbagi, dan yang masih belum banyaklah bertanya, jadi jangan gengsi jadi petani Kopi,” ujarnya, Kamis, 17 Maret 2016.
Mustafa mencontohkan, ada petani perempuan berstatus janda di Blang Mancung Kecamatan Ketol yang punya lahan setengah hektar, tapi dalam setahun mampu menghasilkan lebih dari satu ton kopi. Lalu ada seorang pria petani tetangganya punya lahan satu hektar, namun tidak mampu menghasilkan satu ton kopi pertahun.
Padahal, kata Mustafa dalam keadaan normal, satu hektar lahan dapat menghasilkan satu hingga tiga ton pertahun. Contoh di atas menurutnya menunjukkan bahwa produktivitas kopi tergantung dari kemauan petani sendiri.
“Jadi sekali lagi, nggak perlu gengsi jadi petani kopi, bertanyalah kepada yang lebih berhasil, terus belajar dari pengalaman, sehingga produktivitas dapat lebih meningkat,” katanya.
Kabupaten Aceh Tengah saat ini merupakan produsen kopi Arabika terbesar di Indonesia dengan luasan tanam mencapai 48 ribu hektar dan produksi pertahun rata-rata 35 ribu ton, mayoritas untuk kebutuhan ekspor.
Kopi Arabika Gayo sudah diekspor lebih ke 17 negara dengan tujuan ekspor terbesar Amerika Serikat.[] (ihn)



