HARI Jumat ini telah siang, beberapa kilometer perjalanan pun harus ditempuh. Kemudian tibalah di sebuah masjid yang tiang-tiangnya bewarna krim kuning dengan corak bagunan seperti masjid di Aceh pada umumnya.

Suara bacaan Alquran dari Surah Al-Kahfi terdengar dari cerobong di menara sebelah barat masjid, jamaah yang berasal dari Mukim Ateuk dan lainnya pun mulai berdatangan.

Inilah Masjid Baitul Makmur, yang berdiri megah di atas tanah Mukim Ateuk, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Hari itu Jumat 20 Juli 2018, di sana suara azan pertama pun mulai terdengar sementara angin dari barat sesekali meniup kencang.

Usai azan pertama jamaah shalat Jumat, bersama membacakan selawat kepada nabi Muhammad SAW. Dan penulis mengira ini adalah telah menjadi budaya di sini karena dalam kunjungan tahun 2014 pun kami pernah mendengar pembacaan selawat di waktu yang sama. Dan selain itu ketika khatib duduk di antara dua khutbah, jamaah serentak mengucapkan doa untuk keselamatan dunia dan akhirat.

Setelah azan kedua, sang khatib Jumat, Tgk. Khairil, berdiri di mimbar untuk memberikan nasehat-nasehat sebelum membaca dua rukun dua al-khutbah. Di awal nasehat-nasehat itu terdengar ia menyebutkan kelebihan para ulama.

“Dengan berkat para ulama kita masih bisa mendengar hadits-hadits rasulullah, bisa membaca ayat-ayat Alquran, dan bisa mengamalkannya,” kata khatib.

Di antara terpaan angin itu, suara sang khatib masih sangat jelas terdengar dan kini ia mulai berbicara tentang bagaimana cara mencapai kesuksesan dalam hidup.

“Tujuan kita hidup di dunia ini, kalau kita menanyakan pada diri kita sendiri, apa cita-cita hidup di dunia, pasti kita akan kenjawab, ‘saya hidup di dunia ini ingin memperoleh kesuksesan, baik untuk memperoleh keberhasilan dan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat,” nasehat khatib.

Kata sang khatib berdasarkan referensinya, walaupun dia malas walaupun dia rajin, walau pun dia pejabat, walaupun dia rakyat jelata, kalau kita menanyakannya, mereka tetap ingin mendapat kesuksesan.

“Maka untuk mendapatkan kesuksesan ini, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berpesan kepada kita ummatnya agar melaksanakan tiga perkara. Maka apabila kita mampu menjalankan tiga perkara ini, insyaallah akan bahagia hidup di dunia dan akhirat,” kata khatib.

Kata sang khatib, tiga perkara tersebut, yang pertama, takutlah kepada Allah. Merasa takutlah kepada Allah, takut di dalam sunyi dan di dalam terang, ketika sendiri atau ketika di dalam khalayak ramai, setiap detik setiap saat, harusnya dihati kita ada rasa takut kepada Allah. SWT.

Kenapa mesti harus ada rasa takut ini pada kita?

“Karena jika di hati kita ada rasa takut kepada Allah SWT, kita akan menjauhi maksiat. Dengan itu maka rasa takut kepada Allah harus selalu dihadirkan dalam hati. Dan dengan berbuat taat kepada  Allah SWT maka kita akan membawakan kita bahagia di dunia dan akhirat,” kata khatib.

Dalam hal takut ini, sang khatib merincinya berdasarkan rangkuman dari seorang syeikh yang telah mengelompokkan perasaan takut itu berdasarkan tingkatan, dan syeikh tersebut telah merangkumnya menjadi tiga golongan tingkat rasa takut.

Pertama, takutnya orang awam kata sang khatib, yaitu takut hanya pada mulut saja namun tidak sampai kepada hatinya. Karena dalam kehidupan sehari-hari mereka menjalani kehidupan seakan tidak yakut pada Allah.

Yang kedua, tambah sang khatib, rasa takutnya para khawwas, yaitu orang-orang yang telah diberikan karunia oleh Allah SWT, rasa takut mereka kepada kepada Allah SWT sudah mendarah daging dalam tubuhnya serta hatinya bergetar mendengar bacaan ayat-ayat Alquran tentang azab-azab Allah, tubuh mereka bergetar ketika mendengarnya.

“Yang ketiga, rasa takut yang diberikan kepada Khawwa KHAWASUL QHAWAS, yaitu para rasa takut yang dirasakan oleh para aulia Allah SWT. Di saat mereka berkeinginan mendurhakai Allah SWT seolah-olah mereka melihat zat Allah,” kata khatib.

Khatib mengatakan, setelah yang pertama memiliki rasa takut kepada Allah, sebagai kunci kesuksesan dalam hidup, maka yang kedua adalah selalu bersangka baik pada sesuatu yang ada pada diri kita, baik di ketika kita jatuh miskin dan di ketika kita kaya.

“Misalnya kita diberikan kemampuan mampu memiliki satu sepeda motor, maka pergunakanlah sepeda motor itu pada yang baik. Karena semua yang diberikan pada kita kelak akan dipersaksikan oleh Allah bagaimana kita menggunakan segala yang diberikan,” kata khatib.

Kemudian khatib menjelaskan lagi konsep hidup bahagia yang terakhir adalah terkait dengan hal kemampuan mengendalikan sifat amarah.

“Yang ketiga, bersikap adil di ketika marah dan di ketika senang. Bisa menahan diri dari sifat marah, sebagaimana kisah seorang pemuda yang datang kepada Rasul untuk meminta nasehat, kemudian Rasulullah menyuruhnya untuk bisa mengendalikan emosi (marah) dalam setiap keadaan. Dan pesan itu diulangi oleh Nabi SAW sampai tiga kali. Dan itu menandakan bahwa marah itu adalah pangkal segala kerusakan di dunia ini,” kata khatib.

Nasehat-nasehat itu pun diakhiri dengan pembacaan rukun dua al-khutbah. Dan para jamaah yang hadir semakin ramai. Ikamat pun terdengar, namun para jamaah asih banyak yang berdiri di luar ruangan.

Satu- persatu pemuda mulai membentangkan sejadah-sejadah yang mereka bawa di halaman kiri sebatas garis pintu gerbang masuk ke dalam. Dan di halaman kanan masjid puluhan jamaah mulai mengatur shaf di bawah-bawah tenda.

Sementara puluhan lainnya yang lupa membawa sajadah terpaksa shalat di tangga masjid. Juga beberapa lainnya terlihat cuma bisa duduk di tangga sebelah timur menanti shalat jumat selesai.

Masjid Baitul Makmur memiliki tempat wadhuk di bawah permukaan halaman masjid yang terletak di sebelah barat masjid.[]