DALAM setiap peperangan, perempuan Aceh berprinsip, membunuh atau dibunuh. Tak ada pilihan ketiga. Meski seorang diri harus melawan 18 tentara marsose bersenjata lengkap.
Inilah kisah Pocut Meurah Intan, dikenal dengan panggilan Pocut Di Biheue. Kata Pocut pada namanya menunjukkan bahwa ia keturunan bangsawan. Sementara kata Biheue di ujung namanya merupakan nama daerah tempat tinggalnya.
Jadi, nama Pocut Di Biheue menunjukkan, Pocut Meurah Intan merupakan anak perempuan dari bangsawan (uleebalang) Biheue. Kini Biheuen secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Padangtiji, Kabupaten Pidie. Sebelumnya, pada masa Kerajaan Aceh, Biheue masuk dalam wilayah Sagoe XXII Mukim, Aceh Besar.
Tulisan ini muncul dalam perjalanan pulang dari Kota Banda Aceh ke Meureudu, Pidie Jaya. Ketika melewati gunung Seulawah, sampai di Taman Hutan Raya (Tahura) Pocut Meurah Intan, ingatan saya langsung melayang ke peristiwa penyerangan 18 tentara marsose terhadapnya.
Sampai di rumah, saya menumkan dua referensi terhadap peristiwa itu. Pertama buku Prominent Woment in The Glimpse of History karya guru besar sejarah dari Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Teuku Ibrahim Alfian. Satu lagi buku Atjeh karya penulis Belanda, HC Zentrgraaff.
Zentgraaff dalam tulisannya sangat mengagumi Pocut Di Biheue. Ia menyebutnya sebagai heldhaftig, perempuan yang gagah berani. Pujian itu sangat beralasan. Suatu ketika Pocut Di Biheue seorang diri kepergok dengan patroli 18 marsose yang dipimpin TJ Veltman. Ia bukan lari, tapi menyerang kawanan tentara elit Belanda itu. “Kalau sudah begini, biarlah saya mati,” teriak Pocut Di Biheue sebagaimana ditulis Zentgraaff.
Dari pada ditangkap, Pocut Di Biheue lebih memilih menyerang. Ia mengayunkan pedangnya hingga mengenai beberapa marsose. Ia sendiri kena sabetan pedang marsose di kepada dan bahunya, urat keningnya juga putus. Tubuhnya rebah bersimbah darah.
Seorang marsose meminta izin pada Veltman untuk menembak mati Pocut Di Biheue. Ia ingin mengakhiri penderitaan perempuan tersebut. Tapi Veltman membentak bawahannya itu. Ia membungkuk mengulurkan tangannya, mencoba membantu, namun Pocut Di Biheue meludahi muka Veltman. “Jangan kau pegang aku kafir celaka,” hardiknya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Veltman dan pasukannya meninggalkan Pocut Di Biheue yang sekarat seorang diri. Ia beranggapan biarlah perempuan itu meninggal sendiri di hadapan bangsanya.
Namun anggapan Veltman meleset. Ketika ia dan pasukannya kembali patroli dari Sigli ke Padangtiji, ia mendengar Pocut Di Biheue bukan saja masih hidup, tapi berencana menyerang kembali pasukan Belanda bersama para pejuang di wilayah Biheue.
Veltman kemudian menuju kediaman Pocut Di Biheue bersama pasukannya, tapi kali ini bukan untuk menyerang. Ia membawa seorang dokter untuk mengobati Pocut Di Biheue. Namun, Pocut Di Biheue tetap menolak diobati. Ia tak mau tubuhnya dipegang kafir Belanda. “Lebih baik aku mati dari pada disentuh kafir,” tulis Zentgraaff.
Berita itu kemudian sampai kepada Kolonel Scheuer, seorang opsir Belanda yang merebut puri Cakra Negara di Lombok. Ia khusus datang dari Lombok (Nusa Tenggara Barat) ke Aceh untuk bertemu dan memberi penghormatan kepada Pocut Di Biheue.
Sampai di Aceh, Berangkatlan Scheuer bersama Veltman dan pasukan pengawalnya ke kediaman Pocut Di Biheue. Scheuer berdiri di sisi Pocut Di Biheue yang masih terbaring sakit. Ia mengangkat tabik, menghormati Pocut Di Biheue.
Tentang sikap Scheuer ini Zentgraaff menulis, “Scheuer mengambil sikap bagai seorang prajurit. Ia mengangkat tabik tanda hormat, dengan meletakkan ujung jari-jarinya di topi petnya. Kemudian berkata pada Veltman yang paham bahasa Aceh, katakan padanya bahwa saya sangat kagum padanya.”
Hari-hari selanjutnya Pocut Di Biheue terus diawasi. Belanda tak ingin perempuan pemberani itu kembali menggerakkan perlawanan. Setelah sembuh ia dipenjara di Kutaradja bersama seorang putranya, Tuwanku Budiman. Sementara putranya yang satu lagi Tuwanku Nurdin terus menggerakkan perlawanan melalui taktik perang gerilya.
Untuk meredakan perlawanan rakyat, serta menghilangkan pengaruhnya, Pocut Di Biheue kemudian diasingkan ke Blora (Rembang) Jawa Timur, melalui Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No.24, tanggal 6 Mei 1905. Srikandi Aceh itu meninggal di tempat pengasingannya pada 19 September 1937.

Makam Pocut Di Biheue di Blora, Jawa Timur. Repro: Prominent Woment In The Glimpse of History
Kisah heroisme Pocut Meurah Intan ini diabadikan oleh TJ Veltman, perwira Belanda yang diludahinya dalam buku Nota over de Geschiendenis van het Landschap Pidie. Buku ini diterbitkan oleh Tijdschrift Bataviaasch Genootschap. Selain itu bisa juga dibaca dalam buku De Atjeh-Oorlog yang ditulis Paul Van ‘t Veer. Buku ini diterbitkan di Amsterdam, Belanda pada tahun 1969 oleh Uitgverij De Arbeiderspers.[]Sumber:steemit
Penulis: Iskandar Norman







