Zulkarnaini alias Jol Paloh merintis Kawasan Industri Aceh Milenium—disingkat “I.AM”—di Loh Angen Gampong Meunasah Dayah, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, sejak tahun 2021. Di tempat itu, Jol Paloh berhasil memproduksi pupuk organik sekitar 100 ton pada tahun 2022. Kegiatan usaha tersebut untuk mendukung program pemerintah terkait ketahanan pangan. Welder profesional yang pernah bekerja di sejumlah negara Asia Tenggara itu berencana mengembangkan teknologi tepat guna di kawasan I.AM untuk memperluas lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian masyarakat.
***
“Selamat datang di Stand Product Pupuk Organik Milenium. Road Show Tani Kota Lhokseumawe”. Tulisan di muka sebuah bangunan sederhana itu yang pertama terlihat ketika portalsatu.com/ tiba di Kawasan Industri Aceh Milenium atau I.AM, di kaki bukit Loh Angen Meunasah Dayah (Paloh Dayah), Selasa, 18 Juli 2023, jelang siang.
Stan produk pupuk organik itu berada di lahan cukup luas. Di lahan tersebut tumbuh subur banyak pohon kelapa, pinang, mangga, nangka, jambu, durian, rambutan, belimbing, pepaya, dan aneka tumbuhan lainnya.
Sebelah kanan stan itu terparkir sebuah mobil pikap Chevrolet. Di sisi mobil, tergeletak peralatan produksi pupuk organik. Sebuah mobil pikap Chevrolet lainnya pada bodinya tertulis “Pupuk Alami Kupula”, masuk ke lokasi itu, parkir di depan stan. Seorang pria paruh baya turun dari mobil itu, lalu mengelas untuk memperbaiki peralatan produksi pupuk organik.
Belakang stan itu ada kolam ikan. Ada juga balai tempat shalat, dan kursi kayu panjang dipayungi atap untuk tempat bersantai. Di bawah pepohonan nan rindang, ada pula kandang berisi sejumlah ayam jantan.

[Stan produk pupuk organik di Kawasan Industri Aceh Milenium, Loh Angen Meunasah Dayah, 18 Juli 2023. Foto: portalsatu.com/]
Seberang jalan stan tersebut tampak bangunan semi permanen tempat produksi pupuk organik. Di muka bangunan itu terpasang papan nama tertulis, “Saleum Teuka di Kawasan Industri Aceh Milenium. I.AM. Argo Wisata Pertanian & Industri”. Argo ialah gunung atau bukit.
Sisi kiri papan nama itu terbentang spanduk, bagian bawahnya tertulis, “#Peuseulamat bangsa donya akhirat & seuteoet ra-uh indatu #Ta puga blang gata meugoo pula padee #Ta puga glee keu wasee aneuk bangsa #Tajak u blang ngon tajak u glee #Bak watee ganjee ta meu niaga”.
Di dalam bangunan tersebut terlihat sejumlah peralatan produksi pupuk organik, dan beberapa tumpukan pupuk organik, sebagian di antaranya sudah dibungkus dengan puluhan karung bekas.
Menjelang azan Zuhur berkumandang, tiga mahasiswa Politeknik Negeri Lhokseumawe datang dengan sepeda motor ke Kawasan I.AM. Mereka duduk di tempat bersantai depan balai, membuka laptop, lalu bercakap-cakap seputar isu politik, sosial, dan ekonomi.
Setengah jam usai azan Zuhur, seorang pria berbadan gempal, berambut cepak, mengenakan kaos gelap tiba di tempat tersebut. Laki-laki 48 tahun itu adalah Jol Paloh, Direktur PT Aceh Milenium, pemilik Kawasan I.AM.
“Yang belum sembahyang (Zuhur), segera sembahyang. Setelah itu kita berbincang-bincang di sini (kursi tempat bersantai),” ucap Jol Paloh ramah.
***
Jol Paloh lahir di Gampong Meunasah Paloh, Lhokseumawe, 1 Juni 1975. Setelah tamat SMA, ia belajar menjadi tukang las saat bekerja pada permulaan proyek pembangunan PT Humpuss Aromatik di kawasan Rancong, Batuphat Barat, Lhokseumawe, sekitar tahun 1992. Jol Paloh kemudian merantau ke Pekanbaru, Provinsi Riau, hingga Jawa Barat, dan Jawa Timur, bekerja sebagai welder (tukang las) profesional. Dia juga menjadi welder profesional yang memiliki pengalaman kerja di Thailand, Malaysia, dan Singapura.
“Keahlian bidang pengelasan, kita bisa menghendel underwater atau pengelasan di bawah air,” kata Jol Paloh yang kini memiliki dua anak.
Saat bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 1996, Jol Paloh mulai bergabung dalam organisasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dia kemudian pulang ke Aceh tahun 1998, dan bekerja sebagai welder profesional pada proyek pembangunan fasilitas North Sumatra Offshore (NSO) di lepas pantai Selat Malaka, sekitar 107,6 km dari kilang PT Arun di Blang Lancang, Lhokseumawe.
Setahun berselang, 1999, Jol Paloh telibat aktif dalam GAM sebagai kombatan Sagoe Cot Kupula dan Daerah I Teungku Chik Di Paloh Wilayah Pase. Ketika itu, di tengah konflik bersenjata antara GAM dengan Pemerintah RI, rakyat Aceh menuntut referendum. Konflik terus berlanjut hingga Pemerintah RI memberlakukan Operasi Militer di Aceh tahun 2003. Tsunami kemudian melanda sebagian besar Aceh, 26 Desember 2004. Lalu, terjadi Perjanjian Damai antara Pemerintah RI dengan GAM melalui penandatanganan MoU di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.
Setelah Aceh damai, sesuai amanat salah satu poin MoU Helsinki, semua kombatan GAM berintegrasi ke dalam masyarakat. Sejak saat itu, Jol Paloh tidak lagi terlibat aktif dalam perjuangan politik di organisasi GAM.
“Saya mencoba merintis sisi ekonomi saya dulu. Akhir tahun 2005, saya bergabung di perusahaan kontraktor teman-teman di lingkungan PT Arun, PT PIM, dan ExxonMobil. Sehingga pada 2007, saya bisa membuat perusahaan sendiri, CV Aceh Milenium di bidang general kontraktor dan supplier. Ini sesuai skill pribadi, karena sebelum bergabung dalam organisasi GAM, saya pernah menjadi tenaga konstruksi bidang pengelasan profesional yang pernah bekerja di luar negeri pada 1993-an sampai 1998,” ujar Jol Paloh.
Jol Paloh kemudian mendirikan PT Aceh Milenium pada tahun 2010. Perusahaan ini mencari pekerjaan yang mendukung program-program Pemerintah Aceh membangun daerah. “Sejak 2010 sampai sekarang kita terus mendukung program pemerintah melalui pekerjaan di wilayah proyek vital di Lhokseumawe,” ucapnya.
***
Mantan kombatan itupun merintis Kawasan Industri Aceh Milenium pada tahun 2021, yang menjadi impiannya sejak Aceh damai. Jol Paloh memanfaatkan lahan sekitar 3 hektare miliknya di Loh Angen untuk Kawasan I.AM. Dia membangun tempat usaha itu dengan modal dari kantongnya, tanpa bantuan pemerintah dan pihak lainnya.
“Tahap awal, saya coba manfaatkan potensi yang ada di beberapa desa sekitar kawasan ini, limbah dan barang-barang yang tidak bernilai kita olah menjadi bernilai. Sehingga sumber ekonomi masyarakat bisa muncul dengan adanya kegiatan yang kita usahakan di lahan ini,” tutur Jol Paloh.
Limbah tersebut kotoran sapi, kerbau, dan kambing sebagai bahan baku untuk diolah menjadi pupuk organik menggunakan peralatan dirakit sendiri oleh Jol Paloh. Dia memberikan ongkos angkut kotoran ternak dari kandang-kandang milik masyarakat di beberapa desa sekitar ke Kawasan I.AM.
“Proses produksi pupuk organik ini lumayan lama, karena kita juga mencampurkan kandungan lain untuk diolah. Ada limbah batang pisang, limbah sabut kelapa, serbuk kayu, dan lainnya, yang menghabiskan waktu minimal dua pekan. Seteleh fermentasi selanjutnya proses mixing supaya pruduknya lebih bagus,” ujar Jol Paloh.
Jol Paloh menamakan pupuk organik produksinya “Pupuk Alami Kupula”. Dia menyebut banyak keunggulan pupuk organik ini, karena bisa mengembalikan ekosistem tanah menjadi alami kembali, dan memicu unsur hara tanah. Sehingga tanaman yang menggunakan pupuk organik akan lebih sehat karena minim kandungan kimia.
“Sebagian masyarakat petani kita masih mengandalkan nutrisi kimia. Makanya kita juga mengedukasikan masyarakat bagaimana konsep bertani sehat, dan mengembalikan proses tanah betul-betul alami,” tutur Jol Paloh.
Jol Paloh berhasil memproduksi Pupuk Alami Kupula pada 2022 sekitar 100 ton. Saat ini jumlah produksinya tergantung permintaan masyarakat petani. “Belakangan ini permintaan dari masyarakat sekitar hanya dua-tiga ton dalam satu bulan. Harga jual Rp4 ribu perkilogram,” ucapnya.

[Direktur PT Aceh Milenium Zulkarnaini (baju biru) menunjukkan pupuk organik kepada Pj. Wali Kota Lhokseumawe Imran dan Ketua DPRK Lhokseumawe Ismail yang mengunjungi Kawasan Industri Aceh Milenium di Loh Angen Meunasah Dayah, 27 Juli 2022. Foto: Istimewa]
Jol Paloh berharap dukungan dari pemerintah daerah dengan cara mengambil pupuk organik dari Kawasan I.AM untuk didistribusikan kepada petani-petani di Lhokseumawe dan Aceh Utara. Apabila itu terwujud, jumlah tenaga kerja di tempat usaha produksi pupuk organik akan bertambah.
“Kalau pemerintah bisa menampung produk pupuk kita minimal 500 ton pertahun, ke depan rencana saya akan membuat mesin untuk saya berikan ke dayah-dayah di wilayah Lhokseumawe. Jadi, para santri saat tidak ada kegiatan belajar mengajar, mereka bisa belajar memproduksi pupuk organik. Perlatannya yaitu hayakan dan mixing, penggilingan pupuk supaya menjadi lebih halus dan steril,” ujar Jol Paloh.
Jol Paloh menyebut dukungan pemerintah daerah sangat penting, karena kegiatan usaha di Kawasan I.AM juga mendukung program ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pj. Wali Kota Lhokseumawe Imran dan Ketua DPRK Lhokseumawe Ismail sudah melihat langsung proses produksi pupuk organik menggunakan bahan baku kotoran sapi di Kawasan I.AM, 27 Juli 2022. Keduanya ikut melakukan panen perdana kangkung hasil uji coba pupuk organik pada tanaman tersebut.
Imran mengatakan Pemko Lhokseumawe sangat mendukung upaya masyarakat dalam menggerakkan sektor perekonomian untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. “Apresiasi saya kepada Pak Zulkarnaini (Jol Paloh) yang telah memulai usaha untuk memberdayakan warga sekitar kampung dengan tujuan meningkatkan nilai ekonomi, mengubah dari sesuatu yang tidak berguna menjadi bernilai,” ujar Imran.
Kepala Bea Cukai Lhokseumawe M. Munif juga sudah melihat produksi pupuk organik di Kawasan Industri Aceh Milenium. Tim Bea Cukai Lhokseumawe telah menyerahkan plakat penghargaan kepada Jol Paloh sebagai pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memproduksi pupuk organik. Munif mengapresiasi upaya Jol Paloh untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Bea Cukai Lhokseuamawe mendorong Jol Paloh dan pelaku UMKM lainnya di Aceh dapat go international dengan berani melakukan ekspor. “Bea Cukai Lhokseumawe siap men-support. Karena legal itu mudah,” ucap Munif, 2 September 2022.

[Tim Bea Cukai Lhokseumawe menyerahkan plakat penghargaan kepada Jol Paloh sebagai pelaku UMKM memproduksi pupuk organik. Foto: Istimewa]
***
Produksi pupuk organik kini berjalan kontinu. Jol Paloh berencana mengembangkan perakitan peralatan Teknologi Tepat Guna (TTG) di Kawasan I.AM.
Dalam Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2001 tentang Penerapan dan Pengembangan Teknologi Tepat Guna, yang dimaksud TTG adalah teknologi sesuai kebutuhan masyarakat, dapat menjawab permasalahan masyarakat, tidak merusak lingkungan, dan bisa dimanfaatkan masyarakat secara mudah serta menghasilkan nilai tambah dari aspek ekonomi dan lingkungan hidup.
Tujuan TTG antara lain mempercepat pemulihan ekonomi, mengembangkan kegiatan usaha ekonomi produktif masyarakat, memperluas lapangan kerja, lapangan usaha, meningkatkan produktivitas, dan mutu produksi. Selain itu, menunjang pengembangan wilayah melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab menuju keunggulan kompetitif dalam persaingan lokal, regional, dan global. Dan, mendorong tumbuhnya inovasi di bidang teknologi.
Rencana lainnya dari Jol Paloh, bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh untuk melakukan uji coba tanaman dan efektivitas pupuk organik di Kawasan I.AM.

[Panen kangkung hasil uji coba penggunaan pupuk organik di Kawasan Industri Aceh Milenium di Loh Angen. Foto: Istimewa]
Sejumlah mahasiswa Teknik Elektro Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) yang sedang menyusun skirpsi juga melakukan penelitian di Kawasan I.AM untuk menciptakan alat pengusir hama tanaman. Penelitian mahasiswa itu melalui riset dan kajian-kajian jurnal berkaitan alat tersebut.
“Kami menggunakan solar panel yang menjadi sumber energi awal, kemudian membuat alat ultrasonik, pemancar suara. Suara tersebut dengan frekuensi tertentu, sesuai penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, karena ini berbasis skripsi. Jadi, ingin kami aplikasikan di sini, apakah alat ini bisa berfungsi atau tidak, karena masih dalam pengembangan. Jika berhasil, alat ini akan kami letakkan di persawahan,” kata T.M. Farhan, mahasiswa Prodi Pembangkit Energi Jurusan Teknik Elektro PNL kepada portalsatu.com/, Selasa, 18 Juli 2023.
Farhan dan kawan-kawan berupaya membuat alat pengusir hama itu dengan harapan dapat menjadi solusi bagi para petani yang selama ini mengeluhkan gagal panen. “Muncul ide membuat alat tersebut, karena kita lihat saat ini program pemerintah membahas ketahanan pangan. Dan, yang sering terjadi di masyarakat ataupun pegiat-pegiat petani di persawahaan mengenai kegagalan panen akibat diserang hama dan sebagainya. Dari problem-problem tersebut kami mencoba mencari solusinya dan juga berkaitan dengan skripsi selaku mahasiswa,” ujar mahasiswa semester delapan itu.
Tidak hanya melakukan penelitian untuk skripsi, Farhan dan kawan-kawan yang selama ini intens membangun komunikasi dengan Jol Paloh, juga sedang merintis kelompok tani untuk memadukan pertanian dan teknologi tepat guna. “Tujuannya agar permasalahan hama bisa kita atasi menggunakan teknologi, tanpa unsur-unsur kimia. Ini untuk mendukung pertanian berbasis alami,” tutur Farhan yang juga warga Gampong Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe.
Farhan menyebut proses pendirian Kelompok Tani “Generasi Aneuk Milenium” di bawah bimbingan Jol Paloh itu sekarang tinggal pengajuan SK. “Susunan anggotanya para pemuda dan mahasiswa. Saling berkolaborasi untuk menciptakan inovasi, kreativitas, bertujuan untuk mendukung program ketahanan pangan menggunakan teknologi,” ujarnya.
Anak muda ini menilai Jol Paloh sosok yang memiliki semangat tinggi dan pekerja keras dalam menggerakkan usaha produktif yang bermanfaat untuk masyarakat. “Beliau itu luar biasa, karena kalau untuk pribadinya dari segi finansial mungkin sudah cukup. Tapi, beliau masih memikirkan nasib orang lain. Haparan kita, sosok-sosok seperti Bang Jol ini semakin banyak di Aceh, untuk mendukung program pemerintah membangun daerah dan menyejahterakan masyarakat,” ucap Farhan.[](nsy)








