BANDA ACEH – “Peuhaba? Kaleuh kupi? (Apa kabar? Sudah ngopi?)” tanya seorang pria berkulit sawo matang di salah satu kedai kopi, di Banda Aceh, Kamis, 16 November 2017. Dia adalah Murdani, penulis novel “Sang Kombatan” yang tenar melalui nama pena-nya, Musa AM.

Penampilan Murdani terlihat jauh berbeda dari biasanya. Kini, untaian bulu hitam menggantung bak sarang lebah di dagu pria itu. Konon, dulu wajah pria ini terkesan klimis tanpa embel-embel bulu di wajahnya kecuali alis.

Kepada portalsatu.com/, Murdani menjelaskan lakap Musa AM yang dibubuhkan di novel miliknya. Menurut pria asal Lamnga, Aceh Besar ini, Musa AM merupakan kebalikan dari nama Murdani Abdullah Musa.

“Murdani nama saya. Abdullah nama bapak saya dan Musa nama almarhum Kakek saya. Nama pena ini kebalikan dari nama asli saya,” ujar suami dari Hamdina Wahyuni ini.

Sosok Murdani dikenal pernah sangat “setia” menjadi wartawan di Aceh. Dia mengawali karir sebagai jurnalis di media cetak Harian Aceh, salah satu surat kabar lokal yang berpusat di Banda Aceh. Di media ini, perjalanan karir jurnalistik Murdani yang awam terus diasah. Hingga akhirnya pria ini benar-benar mampu menulis seperti wartawan kebanyakan. Dia bahkan pernah menjadi ujung tombak media tersebut dalam mengungkap sejumlah kasus terkait kepentingan publik.

Namun, usia Harian Aceh tidak sepanjang popularitasnya di hati pembaca. Media lokal ini gulung tikar dan Murdani bertahan sebagai wartawan hingga nafas terakhir Harian Aceh.

Penutupan media tempatnya bekerja tidak membuat Murdani Abdullah patah arang. Dia terus melanjutkan hidupnya sebagai penulis lepas hingga akhirnya bergabung dengan The Atjeh Post (atjehpost.com) bilangan tahun 2012. Tulisan-tulisannya semasa masih aktif di media ini cukup diperhitungan oleh publik Aceh saat itu. Salah satunya investigasi kasus mark up pengadaan Damkar yang menghebohkan Aceh beberapa waktu lalu.

Selain kasus tersebut, Murdani juga sempat menulis beberapa kasus lainnya yang sering membuat “gatal” pejabat-pejabat nakal. Dia juga pernah berurusan dengan kasus pencemaran nama baik, hanya gegara tulisan-tulisannya di media membuat para penguasa tidak leluasa berbuat sesukanya.

Namun di balik kesuksesannya sebagai wartawan muda yang potensial, dia juga memiliki kepribadian ramah. Sikapnya yang mudah bergaul membuat pria kelahiran Ujong Kareng, 7 Oktober 1985 silam ini cepat akrab dengan siapa saja. Termasuk dengan pihak polisi atau personel militer yang terkenal kaku.

Perjalanannya meniti karir sebagai jurnalis juga membuatnya dikenal secara luas oleh mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), jajaran KPA, aktivis SIRA, dan kalangan dayah. Tidak sedikit pula kalangan politisi lokal bahkan nasional pernah menyeruput kopi bersamanya. Sebut saja diantaranya Muzakir Manaf di tingkat lokal dan Tjahjo Kumolo di tingkat nasional.

Meskipun dekat dengan sejumlah pihak, tetapi tidak membuatnya berhenti kritis dalam berfikir. Idealismenya sebagai seorang putra Aceh yang memiliki nasab hingga Panglima Nyak Makam dan Teungku di Lamnga, membuat pria ini tidak segan-segan mengkritik kebijakan-kebijakan pusat yang dinilai tak menghargai kekhususan Aceh. Begitu pula saat dia menulis fiksi dalam judul Sang Kombatan, yang menyampaikan pesan-pesan mulia untuk memperbaiki Aceh di masa depan.

“Sang Kombatan ini adalah novel. Kalau ada kesamaan dan kemiripan cerita dengan tokoh nyata dalam kehidupan sehari-hari di Aceh, hanyalah kebetulan belakang. Soal kebenaran dari isi novel ini, saya kembalikan ke pembaca masing-masing,” ujar Murdani.

Murdani mengatakan Sang Kombatan lahir karena dirinya sering duduk ngopi dengan para mantan kombatan GAM. Dari warung kopi itulah akhirnya pria yang pernah kuliah di Universitas Syiah Kuala ini melahirkan karya yang mendapat sambutan hangat di Aceh saat ini. Sang kombatan sendiri telah memasuki cetakan kedua dan terjual hampir 2 ribu eks. Kesuksesan ini berada di atas rata-rata karya sastra penulis lokal lainnya di Aceh.

“Jadi karena sering ngopi dengan sejumlah mantan kombatan, akhirnya lahirlah novel ini. Kekhawatiran mereka soal nasib Aceh juga saya tulis. Ini hanya sepenggal cerita soal konflik Aceh. Saya berharap kedepan lebih banyak tulisan soal konflik Aceh ini,” kata ayah dari satu putri bernama Puan Karamina Adinda ini. 

Di luar karya perdananya yang mendapat sambutan hangat, Murdani mengaku meraihnya dengan jalan yang berliku. Salah satu kepribadiannya yang dulu pernah trauma mengenali huruf-huruf.

“Saya adalah siswa yang bandel sejak kecil. Saat kecil saya membenci huruf. Huruf menjadi momok menakutkan bagi saya saat itu. Hal ini pula yang membuat saya baru bisa membaca saat SD kelas 5. Saya hampir diturunkan ke kelas 1 jika tak bisa membaca saat itu. Saya baru bisa membaca kelas 5 semester terakhir. Kelas 6 langsung juara 4,” kenang Murdani. 

Kegigihannya berjuang mengenal huruf itu akhirnya mengantarkan Murdani ke  MTs Baiturrahman dan MAN Rukoh Banda Aceh. Ia kemudian juga mendaftar di PGSD Unsyiah dan FKIP Sejarah Unsyiah.

“Saat mahasiswa saya belajar menulis dan 2007 menjadi wartawan Harian Aceh. Di sana saya belajar hingga menjadi seperti sekarang,” kata Murdani lagi.[]