UMKM berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja, pengentasan kemiskinan, penyediaan pasokan, serta penyumbang devisa dan pajak. Itulah sebabnya, UMKM sebagai sektor ekonomi terbesar dan strategis, perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan stakeholder terkait untuk menjaga keberlangsungan usaha, dan terus diberdayakan agar dapat meningkatkan kapasitasnya. Seperti UMKM Pertenunan Ulos Sianipar yang mengukir kisah sukses.

***

Ketak ketuk. Ketak ketuk. Ketak ketuk. Bunyian itu berkumandang di dalam bangunan Pertenunan Ulos Sianipar, di Kelurahan Pasar Merah Timur, Kecamatan Medan Area, Medan, Sumatera Utara. Bunyian tersebut berasal dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang digunakan puluhan penenun. Salah satunya, Susi Susanti Marbun.

Susi mengenakan baju hijau, duduk di kursi mengoperasikan ATBM, rangkaian alat lebih modern untuk penenunan. Menurut sejumlah sumber, menenun menggunakan ATBM lebih mudah jika dibandingkan gedog atau gedongan, alat tenun tradisional yang digunakan para leluhur di berbagai daerah Indonesia. Selain itu, kain hasil penenunan menggunakan ATBM lebih bervariasi, terutama ukuran yang dapat dibuat lebih panjang dan lebar.

Kedua tangan Susi bergerak lincah mengatur benang lungsin lewat gandar gosok berfungsi sebagai jalan lungsin. Kedua kakinya menginjak pedal berupa dua kayu panjang di bagian bawah alat tenun untuk mengatur naik turunnya benang lungsin saat keluar masuk benang pakan.

Melansir wikipedia.org, lungsin adalah benang tenun yang disusun sejajar, biasanya memanjang, dan tidak bergerak lantaran terikat di kedua ujungnya, yang padanya benang pakan diselipkan. Sebelum menenun dilakukan penghanian, yakni memasang benang-benang lungsin sejajar satu sama lainnya di alat tenun sesuai lebar kain yang diingini. Benang pakan dimasukkan melintang pada benang lungsin ketika menenun kain. Benang pakan digerakkan oleh tangan pada ATBM atau mesin, dan diselipkan di sela-sela benang lungsin. Benang pakan biasanya digulung lalu gulungan ini digerakkan di antara pakan yang dapat dinaikturunkan.

Benang pakan dibuat dari serat yang dipintal. Dalam pembuatan tenun ikat ganda, pakan dan lungsin sama-sama diikat dengan bahan kedap cairan untuk mengontrol pewarnaan. Lungsin biasanya berkas serat atau benang hasil pemintalan serat. Pada tenun ikat ganda, pakan dan lungsin diikat oleh bahan kedap air sebelum dicelup untuk pewarnaan. Proses ini diulang-ulang tergantung berapa banyak warna yang akan dibuat.

Susi tampak semringah. Sesekali, perempuan 32 tahun itu berbicara dengan pekerja lainnya, diiringi tawa kecil, yang sayup-sayup terdengar di antara ketak ketuk bunyi ATBM.

“Saya bekerja di sini sejak masih kelas dua SMP. Awalnya, saya belajar menenun, satu pekan sudah bisa,” ujar Susi ditemui portalsatu.com/ di Pertenunan Ulos Sianipar, Sabtu, 5 November 2022.

Susi menceritakan, ketika masih siswi kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP), hampir saban hari setelah pulang sekolah ia bekerja di pertenunan itu. “Karena saya ingin hidup mandiri, maka suka bekerja agar bisa mendapatkan uang, cukuplah untuk (biaya) sekolah,” ucapnya.

Usai tamat Sekolah Menengah Atas (SMA), Susi memilih bekerja di salon selama tiga tahun. Dia menikah pada tahun 2013, dan ikut suaminya, Samuel Johanes Siagian, ke Jambi selama lima tahun. Empat tahun kemudian, Susi kembali bekerja di Pertenunan Ulos Sianipar sampai sekarang.

Pertenunan tersebut berjarak sekitar 100 meter dari rumah Susi. Ibu kandung Susi, Sentine Sitompul (63 tahun), juga bekerja di tempat itu. Mereka bekerja Senin hingga Sabtu, pagi sampai sore. Saat jam istirahat siang, mereka pulang ke rumah. Rata-rata Susi menghasilkan satu lembar kain tenun bahan baju per hari, atau enam kain dalam sepekan.

“Sebagian besar kain tenun yang saya buat motif sadum, karena lumayan cepat dikerjakan bila dibandingkan motif akola. Kalau dulu fokus kita membuat tenun ulos atau kain selendang dan segala macam, tapi sekarang lebih kepada bahan baju,” tutur Susi.

Upah diterima Susi dan pekerja lainnya bersifat borongan, tergantung motif tenun yang dikerjakan. Upah menenun satu kain motif sadum Rp75 ribu. Paling tinggi upah menenun kain motif akola Rp200 ribu per lembar. “Saya pekerja borongan. Yang saya hasilkan tenun motif sadum dengan upah Rp75 ribu per lembar. Kita kalikan 26 hari dalam empat minggu berarti pendapatan saya Rp1.950.000,” ucap ibu dua anak itu.

Pendapatan hasil pekerjaan itu membuat Susi dapat membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya, termasuk biaya sekolah dua anaknya yang masih kecil. Yakni, Nathan Yehezkiel Siagian (8 tahun, kelas dua SD), dan Nichael Dwi Arkha Siagian (6 tahun, murid sekolah TK).

“Meskipun saya perempuan, tidak salahnya membantu suami dari segi ekonomi,” kata Susi. Suaminya sehari-hari bekerja di ladang. “Apalagi tenun inikan bagian dari melestarikan pakaian adat daerah masing-masing. (Kain tenun) inikan salah satu kekayaan budaya Indonesia, termasuk budaya orang Batak,” ujar Susi.

***

[Pertenunan Ulos Sianipar di Kelurahan Pasar Merah Timur, Kecamatan Medan Area, Medan, Sumatera Utara, Sabtu, 5 November 2022. Foto: Fazilportalsatu.com/]

Susi bekerja bersama puluhan penenun lainnya di Pertenunan Ulos Sianipar. Usia pekerja termuda 16 tahun, dan paling tua 63 tahun. Mereka bekerja dalam bangunan besar berkonstruksi kayu dan beratap seng. Kapasitas ruangan itu untuk 100 penenun, 60 orang di antaranya pekerja borongan, sisanya sistem gaji bulanan. Ruangan tersebut dilengkapi 100 unit ATBM.

Dalam ruangan tersebut terpajang beberapa spanduk berisi kata-kata bijak dan nasihat. Salah satunya, tertulis: “Jangan mencuri, menggosip, dan malas. Tuhan melihat pekerjaan dan mengikutimu”.

Para penentun itu juga diawasi beberapa pengawas. “Tenun yang diproduksi di sini banyak jenisnya. Paling dominan tenun motif jenis Ulos Sadum, Akola, Tagi Hotang, Simalungun, Karo, ini tenun khas Batak Toba. Kami hanya pekerja, pengrajin. Pihak galerilah yang memasarkan,” kata P. Pasaribu didampingi Rosion Marbun, keduanya pengawas di Pertenunan Ulos Sianipar.

Pertenunan itu berada di bawah Galery Ulos Sianipar & UKM Bersama milik Robert Maruli Tua Sianipar. Galeri tersebut juga berada di Kelurahan Pasar Merah Timur, Kecamatan Medan Area. Robert Maruli menekuni usaha tersebut sejak tahun 1996. “Mulanya mendesain motif sadum. Ketika itu kita mengangkat motif warna biru muda dengan membuat baju lengan pendek. Kemudian pengembangan motif, hingga akhirnya banyak permintaan dari teman-teman”.

“Dulu sangat sulit dipasarkan kain tenun. Karena orang tahunya ulos itu kain tenunan yang dibuat untuk pakaian adat, memang benar. Namun, yang kita angkat itu bukan ulosnya kita bikin menjadi baju atau bahan fashion (fesyen), tapi motifnya yang kita tonjolkan untuk jadi bahan fashion,” ujar Robert Maruli.

Setiap hari Sabtu, pihak Galery Ulos Sianipar datang ke Pertenunan Ulos Sianipar untuk mengambil kain yang diproduksi para penenun. “Orang galeri memeriksa barang (kain tenun) ini. Apabila ada kesalahan dalam pembuatannya, dikembalikan kepada si penenun untuk dibuat yang baru. Makanya kita kerjakan harus sangat berhati-hati jangan sampai salah, jangan buat asal-asalan. Karena motifnya itu sudah ditentukan pihak galeri,” ujar Susi.

“Jadi, setelah kami menghasilkan kain tenun, kemudian ditampung di Galery Ulos Sianipar dan UKM Bersama yang merupakan ‘Rumah Tenun Program Sosial Bank Indonesia’ untuk dapat dipasarkan ke luar daerah sampai mancanegara,” tambah dia.

Galery Ulos Sianipar & UKM Bersama sudah 13 tahun di bawah binaan Bank Indonesia (BI) untuk pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) itu. Usaha tersebut juga mendapat perhatian dari Pemko Medan, Pemprov Sumatera Utara, dan kementerian terkait. “BI membina kita. BI tidak sekadar membantu biasa saja, tapi membimbing kita sampai mahir,” ujar Robert Maruli.

Robert Maruli menceritakan, suatu kesempatan pada 13 tahun silam, ia bertemu pihak Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPw) Sumatera Utara. Dia pun diundang ke KPw BI itu.

“Saat itu mereka (BI) menanyakan: saya bisa buat apa. Saya balik bertanya: mau tanya apa tentang tenun sama saya. Lalu, mereka bertanya seputar tenun, apakah bisa buat ‘ini’ dan ‘itu’. Akhirnya, saya desain sampai mereka meminta (produk) pajangan dinding, sarung bantal untuk tamu, taplak meja, dan segala macam,” kenang Robert.

Menurut Robert, tahun 2014 pihaknya membuat ulos terpanjang di dunia. Ulos warna merah hitam itu sepanjang 550 meter, tanpa sambungan benang. “Saya buat sesuai permintaan desain dari pihak BI Sumatera Utara. Proses pembuatannya menghabiskan waktu satu bulan. Ulos itu dipamerkan pada Pameran Ulos Fest 2019 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, tahun 2019”.

“Tidak hanya sampai di situ. Pihak BI kemudian menanyakan lagi maunya kami apa, produk ini mau diapakan lagi. BI pun mendatangkan desainer yang bagus sesuai permintaan kami. Desainer dari Eropa dibawa ke tempat saya. Pihak Google pun didatangkan untuk membantu cara promosi dan sebagainya. Bahkan, sampai pemasaran atau ekspor produk kami, BI ikut terlibat. Jadi, BI sangat luar biasa, mereka bantu kami tidak setengah-setengah, tapi terus berlanjut sampai sekarang,” ujar Robert.

Galery Ulos Sianipar & UKM Bersama juga telah membuka cabang di kawasan Medan dan Rantau Prapat, Provinsi Sumatera Utara. Ada pula cabang di Pulau Jawa, yaitu Jakarta, Bandung, dan Tangerang. “Dan beberapa cabang lainnya,” ucap Robert.

Saat ini usaha milik Robert itu memiliki sekitar 500 karyawan. “Dari berbagai kalangan. Khusus di Medan diutamakan bagi yang putus sekolah, dan ibu rumah tangga yang memang tidak ada pekerjaan,” tuturnya.

Robert mengekspor kain tenun ulos sesuai permintaan pembeli. Dia pernah mengirimkan produk tenun tersebut sampai lebih 20 negara. “Paling sering ke Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Jepang, Hongkong, hingga ke Zimbabwe,” ujarnya.

Produk tenun aneka model itu dijual bervariasi mulai dari Rp15 ribu sampai lebih Rp7 juta, tergantung jenisnya. “Pernak-pernik aksesoris kita jual Rp5 ribu hingga Rp30 jutaan. Sebagian mahal karena tingkat kerumitan tenunan dan jenis bahannya. Semakin rumit proses pembuatannya semakin mahal harganya,” tutur Robert.

Rata-rata pendapatan usaha tenun itu Rp1,5 miliar per bulan. “Pendapatan per tahun terkadang bisa mencapai Rp18 miliar,” ungkapnya.

Saat pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia, usaha milik Robert ikut terdampak. “Selama kejadian Covid-19 kita pernah mengalami gejolak, anjlok sangat parah, tidak ada permintaan. Saat itu kerugian kita sekitar Rp8 miliar. Sekarang kita bangkit lagi,” kata Robert.

Menurut Robert, saat ini usahanya juga mendapat pesanan produk tenun dari pihak pemerintah daerah setempat. “Makanya perlu pengenalan produk secara maksimal,” ucapnya.

Robert mengatakan untuk melestarikan kain tenun khas adat Batak tersebut, pihaknya juga memperkenalkan kepada kaum milenial. “Kalau tidak maka mereka tidak akan menghargai produk ini. Setelah mereka tahu, baru diajarkan bagaimana mencintai tenun, hingga memasarkan, dan sebagainya,” tutur dia kepada portalsatu.com/ saat mengikuti field trip bersama sejumlah jurnalis lainnya, dilaksanakan BI Perwakilan Provinsi Aceh.

Kepala Tim Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) Bank Indonesia Provinsi Aceh, Lenny Novita, mengatakan kegiatan field trip itu bertujuan meningkatkan pemahaman para jurnalis mitra BI terhadap isu-isu strategis terkait ekonomi dan keuangan, baik lingkup lokal, regional, nasional, dan internasional.

“Karena jurnalis sebagai stakeholders utama dalam penyampaian informasi kepada masyarakat luas. Dengan kita laksanakan field trip ini, mudah-mudahan ke depan perkembangan UMKM terus terpublikasikan sebagai bentuk dukungan bersama dalam peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Lenny Novita.

[Para jurnalis bersama pihak Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh berfoto di depan Galery Ulos Sianipar & UKM Bersama, di Kelurahan Pasar Merah Timur, Kecamatan Medan Area, Sumatera Utara. Foto: Istimewa]

***

Program UMKM merupakan salah satu bagian integral dari program pembangunan nasional dalam upaya mewujudkan tujuan pembangunan, terutama pencapaian pemerataan hasil-hasil pembangunan dan perluasan kesempatan kerja. Peran UMKM dalam perekonomian daerah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.

Dikutip portalsatu.com/ dari buku “Mendukung Pertumbuhan Ekonomi di Daerah Modal: Bank Indonesia dalam Dinamika Perekonomian Aceh”, diterbitkan Bank Indonesia Institute tahun 2021, BI bersama pemerintah daerah terus bersinergi dalam mengembangkan ekonomi lokal yang mendukung program pembinaan UMKM dengan memanfaatkan komoditas-komoditas unggulan. Berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi angka pengangguran dan tingkat kemiskinan, serta mengendalikan inflasi, menjadikan UMKM sebagai salah satu sektor difokuskan pada Program Sosial Bank Indonesia (PSBI).

Dalam “Laporan Perekonomian Sumatera Utara Agustus 2022” diterbitkan BI disebutkan di tingkat regional, Kantor Perwakilan Bank Indonesia juga mendorong pengembangan UMKM melalui pemenuhan target Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Target pengembangan tersebut di antaranya pengembangan UMKM go marketplace, UMKM go cashless, fasilitasi UMKM go export, dan pemberdayaan kelompok UMKM wanita.

KPw BI turut mengembangkan UMKM binaan Bank Indonesia melalui pembinaan, pendampingan, dan business matching, serta pembukuan melalui pelatihan pelaporan keuangan melalui Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK) sehingga mempermudah UMKM memperoleh akses pembiayaan dari perbankan.

Salah satu rekomendasi BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara tahun 2022 ialah peningkatan inklusi keuangan UMKM. Menurut BI, kontribusi UMKM yang sudah tinggi dalam perekonomian, meskipun belum memiliki akses pembiayaan yang maksimal, tentunya dapat dikembangkan melalui peningkatan akses keuangan.

“Kolaborasi yang semakin baik dalam forum Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan implementasi yang lebih luas terhadap program-program seperti UMKM Naik Kelas dan One Village One Agent, diharapkan dapat meningkatkan akses pembiayaan UMKM dan mengakselerasi pertumbuhannya,” tulis BI dalam Laporan Perekonomian tersebut.

***

Susi merasa senang menjadi penenun. Selain memperoleh pendapatan untuk membantu kebutuhan hidup keluarganya, ia ikut berperan melestarikan salah satu kekayaan budaya Tanah Air ini. “Saya bahagia karena tenun khas Batak Toba hasil karya kami bisa diekspor ke luar negeri,” ucap Susi.[](nsy)