TEUNGKU Chik Di Pasi memiliki banyak karamah dan kemuliaan. Seakan tidak cukup tinta untuk mengisahkan tentang sang waliyullah kelahiran Gigieng, Simpang Tiga, Pidie itu.
Salah satunya kenapa di daerah Tungue, Simpang Tiga, tupai tidak ditemukan. Bahkan, kabarnya tidak ditemukan jejak kehidupannya sama sekali. Benarkah? Lantas, apakah sebab berdosa dengan Teungku Chik Di Pasi?
Sebuah kisah yang sudah maruf dan popular dalam masyarakat diceritakan bahwa pada suatu hari beliau datang ke Teungue, Kecamatan Simpang Tiga. Ini sering dilakukannya, bahkan ke gampong-gampong lainnya, tidak hanya Teungue.
Ketika tiba di Teungue, diceritakan bahwa beliau beristirahat di bawah pohon kelapa. Tiba-tiba tupai yang ada di pohon kelapa tersebut kencing dan jatuh menimpa kain Tgk. Chik. Melihat kainnya kena kencing tupai, beliau merasa kesal dan berkata yang intinya agar Teungue aman dari serangan tupai.
Sampai sekarang pun tidak ada seekor tupai pun yang bertahan hidup di daerah Teungue. Mengenai hal ini penulis mempersilakan kita semua untuk menguji kebenarannya. Sudah banyak orang yang datang sengaja membawa tupai ke Teungue, tapi yang terjadi tupai tidak dapat bertahan hidup lama dan akhirnya mati. (Zarkasyi, Kisah Hidup Aulia, 2011).
Nasab Tgk. Chik Di Pasi
Ketenaran Syaikh Abdus Salam atau Teungku Chik Di Pasi juga dikenal sebagai tokoh ulama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, pertanian dan perairan dari negeri Pedir itu. Beliau berasal dari silsilah ulama juga. Berikut nasab atau keturunan Syaikh Abdus Salam (Teungku Chik di Pasi):
Silsilah beliau: Syaikh Abdus Salam bin Syaikh Burhanuddin bin Syaikh Ahmad Al-Qusyasyi al-Madani bin Syaikh Muhammad Al-Madani al-Anshary bin Syaikh Yunus bin Syaikh Ahmad ad-Dijani.
Sosok Syaikh Burhanuddin (Teungku Chik Di Gigieng) sebagai ayahanda beliau. Tgk. Chik Di Pasi juga mempunyai saudara lainnya mewarisi lima orang keturunan. Pertama, Syaikh Abdus Salam (Teungku Chik Di Pasi) menetap dan wafat di Gampong Waido negeri Pedir.
Kedua, Syaikh Muhammad Sulaiman (Teungku Chik Di Silang/Sule) menetap dan wafat di negeri Sule Darussalam. Ketiga, Syaikh Badaruddin (Teungku Chik Di Peudada) menetap dan wafat di negeri Peudada. Keempat, Syaikh Djohar Alam Syah (Sultan Djohar Alam Syah) menetap dan wafat di Bandar Aceh Darussalam. Kelima, Siti Pocut Fatimah, menetap dan wafat di Gampong Buloh Blang Ara negeri Samudra.
Tentu saja sangat banyak keturunan dari garis Tgk. Chik Di Pasi saat ini tersebar di mana-mana. Kita berharap sejarah keturunan Tgk. Chik Di Gigieng hendaknya dapat diangkat dan kembali digali oleh keturunan beliau sendiri juga masyarakat pecinta sejarah. Ini tentu sangat penting untuk memeta rantai emas sejarah yang terbuang juga situs kuburan mereka itu.[]




