LHOKSUKON – Masyarakat Kecamatan Sawang terus berupaya mencari anggota keluarga mereka yang hilang saat pemberlakuan Darurat Militer di Aceh tahun 2003-2004 silam. Mereka langsung berbondong-bondong ke sebuah sumur tua di Gampong Babah Krueng saat mendengar kabar adanya penemuan kerangka manusia yang diduga menjadi korban konflik Aceh belasan tahun silam, Rabu, 28 Februari 2018. Lokasi sumur ini disebut-sebut tidak jauh dari bekas pos aparat Cot Mane Linggong, Gampong Babah Krueng, Sawang, Aceh Utara. (Baca: Warga Sawang Temukan Tulang Manusia Hingga Dompet di Sumur Tua)

Beberapa tulang manusia berhasil ditemukan dalam penggalian sumur tua yang kini berada di areal perkebunan warga itu. Masyarakat juga menemukan pakaian yang diduga milik korban penghilangan paksa di dalam sumur tua ini.

Semua temuan dalam sumur tua ini kemudian dibawa ke Markas Polisi Resor (Mapolres) Lhokseumawe. Namun, warga Babah Krueng dan sekitarnya yang datang ke lokasi mengaku, tulang belulang manusia itu bukanlah anggota keluarga mereka yang hilang. Apalagi tulang-tulang tersebut tak lagi utuh sehingga warga kesulitan mengidentifikasi jenazah siapa yang ditemukan tersebut.

Maimun, 29 tahun, salah satu warga yang ikut membantu penggalian di sumur tua ini mengaku tulang manusia yang ditemukan tersebut bukan jenazah ayahnya, Tgk Husni. Kepada portalsatu.com/, Maimun mengaku ayahnya dijemput paksa aparat berpakaian loreng dari pasar ikan Keude Sawang, Aceh Utara, medio 2003 silam. Sejak itu, ayahnya tinggal nama tanpa pusara.

Pria asal Gampong Paya Rabo Timur itu masih duduk di kelas 2 SMP saat ayahnya disekap dalam WC, di sekolah dasar desa mereka. Selain itu, dia tidak banyak mengetahui bagaimana perlakuan aparat militer kepada sang ayah. Lagipula, pasca empat hari penyekapan tersebut, sang ayah dibawa ke pos BKO di Bukit Cot Mane Linggong.

“Saya tidak lihat langsung ayah (Tgk Husni) dijemput aparat saat sedang berjualan ikan di keude (pasar). Kami sekeluarga hanya dengar dari orang-orang yang melihat pagi itu ayah dibawa,” kata Maimun.

Upaya Maimun dan keluarga untuk melepaskan Tgk Husni selalu nihil. Terlebih pihak militer menuduh Tgk Husni merupakan bagian dari kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Padahal, Maimun mengaku, ayahnya hanyalah pedagang biasa yang tinggal di daerah–yang dicap–sebagai basis GAM saat itu. (Baca: KKR Aceh Serukan Warga Setop Gali Kuburan Diduga Korban Konflik)

“Saya dan keluarga sudah lihat tadi. Itu bukan baju dan celana yang dipakainya (almarhum). Ayah suka pakai jeans, bukan celana kain biasa,” kata Maimun.

Hal serupa juga disampaikan Jauhari, 32 tahun, warga Gampong Blang Manyak, Sawang, Aceh Utara. Gampong ini berada dekat dengan Babah Krueng. Jauhari terpaksa pulang dengan tangan hampa dari lokasi setelah memastikan bahwa jasad tersebut bukanlah anggota keluarganya yang hilang. Padahal, Jauhari mengaku berangkat dari rumahnya sejak pagi menuju ke lokasi dengan harapan menemukan kerangka abangnya, Sofyan. 

Menurut pengakuan Jauhari, saat DM diberlakukan, Sofyan menjabat sebagai ketua pemuda di Gampong Blang Manyak. Dia mengaku masih menyimpan memori kuat mengenai pembicaraan mereka sebelum akhirnya Sofyan hilang setelah menyambangi pos tentara.

“Kalau tidak salah, pada Rabu pagi pada Maret 2003, abang datang ke saya. Dia bilang, disuruh datang ke pos Cot Mane Linggong. Pagi itu dia pergi ke pos, setelah itu tak pernah kembali lagi, entah apa yang terjadi, kami sekeluarga tidak tahu,” kata Jauhari.

Jauhari yakin jika Sofyan tidak pernah terlibat pergerakan apapun. Jauhari mengatakan abangnya saat itu hanyalah aparat desa biasa. Upaya keluarga Jauhari menemukan Sofyan sebenarnya sudah dilakukan sejak beberapa hari sang abang tak kunjung pulang ke rumah. Keluarga Jauhari bersama masyarakat saat itu mendatangi pos aparat BKO yang berada di Cot Mane Linggong untuk menanyakan kondisi Sofyan. 

Namun personil BKO tidak memberitahukan keberadaan Sofyan. Menurut Jauhari, pihak militer malah mengancam untuk menembak warga jika tidak menjauh dari pos. Sejak itu, Jauhari terus berupaya mencari keberadaan jasad Sofyan. Dia berharap walaupun sudah menjadi kerangka, tetapi Sofyan bisa dikuburkan di kampung halaman.

Kisah yang tak kalah sedih datang dari Asnawi, 40 tahun. Warga Babah Krueng ini mengaku kehilangan tiga saudara kandungnya semasa Darurat Militer Aceh. Sebelumnya, pada tahun 2008 lalu, warga juga menemukan dua kerangka manusia di dalam sebuah sumur yang lokasinya tidak jauh dari bekas pos aparat Cot Mane Linggong. Namun, Asnawi ragu jika dua kerangka manusia tersebut merupakan dua dari tiga anggota keluarganya yang hilang yaitu, Ismail, Abdurrahman, dan Walidin.

“Orang bilang, dua kerangka itu dua saudara saya, tapi saya ragu. Namun kerangkanya saya bawa pulang ke rumah dan saya kuburkan di dekat rumah,” ungkap Asnawi.

Asnawi juga mengaku tulang belulang manusia, yang ditemukan kemarin di sumur tua di kebun kosong milik Mukhtaruddin itu, bukanlah tulang ketiga saudaranya yang hilang. Asnawi hanya berharap adanya upaya pemerintah untuk membantu korban konflik agar dapat menemukan keluarganya yang hilang. Pasalnya selama ini, menurut Asnawi, belum ada upaya pemerintah yang notabene sudah dijabat oleh orang-orang mantan kombatan GAM untuk menemukan keluarga korban konflik yang hilang.[]