Oleh: Yelli Sustarina*

Senin, 30 Oktober lalu saya begitu bersemangat saat menuju ke Anjungan Pidie di Kompleks Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh. Bukan tanpa sebab saya datang ke anjungan ini. Bersama teman-teman di Forum Aceh Menulis (FAMe), kami sedang ada proyek garapan bersama. Yaitu menuliskan profil setiap anjungan yang ada di Kompleks Tarasa.

Saya sendiri mendapat kesempatan untuk menuliskan profil Anjungan Pidie. Bagi saya yang berasal dari Aceh Selatan, ini merupakan tantangan yang menyenangkan. Tapi saat saya datang ke anjungan tersebut, seketika kesenangan itu jadi pupus.

Saya bisa masuk dengan leluasa tanpa harus menghubungi penjaga anjungan, tidak seperti anjungan lain yang terkunci. Saya masuk melalui pintu yang hanya tinggal rangkanya saja. Jendelanya juga bolong sehingga jika ada kucing atau anjing bisa masuk dengan mudahnya. Serbuk kayu yang sudah lapuk bertaburan di tepi dinding, menandakan bahwa tidak ada yang mengurus anjungan ini.

Atap yang terbuat dari teripleks juga banyak yang bolong-bolong seperti bangunan tua yang sudah lama tidak dipakai lagi. Padahal tahun 2013 lalu anjungan ini cukup megah dengan dua buah dekorasi pelaminan Aceh yang cukup indah.

Namun saat saya datang kembali hari itu, tidak ada sedikit pun barang-barang yang tersisa. Jangankan pelaminan tempat mempelai bersanding, satu figura foto pun tidak ada yang menempel di dindingnya. Jika kita lihat di anjungan tetangganya terdapat deretan foto bupati yang pernah menjabat di kabupaten masing-masing. Akan tetapi di Anjungan Kabupaten Pidie ini tidak ada foto-foto tersebut, ruangan besar berukuran sekitar 12×10 m itu dibiarkan kosong melompong ibarat lapangan basket yang tidak terurus.

Saya ingin bertanya, ke mana para penjaganya? Kenapa anjungan ini ditinggalkan begitu saja? Bukankah tahun depan akan kembali diadakan PKA? Melihat kondisi bangunannya yang tidak terurus dan tidak terawat sama sekali, pastinya akan membutuhkan biaya yang mahal untuk memperbaiki bagian yang rusak. Sungguh disayangkan jika pembuatan anjungan ini diambil dari uang daerah yang sebenarnya uang tersebut bisa digunakan untuk keperluan lain.

Tujuan saya yang mulanya untuk meliput setiap bagian yang mencirikan rumah adat di Kabupaten Pidie di anjungan tersebut, berubah menjadi liputan rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya. Mungkin saya hanya bisa menikmati bagian atap rumahnya yang disebut sebagai pintu angin bertuliskan “Pang Ulee Beut Ibadat Pang Ulee Hareukat Meugoe”.

Di atasnya terdapat ukiran motif Aceh bewarna kuning dengan latar belakang merah maron. Itulah yang menjadi daya tarik saya dibandingkan bagian lain yang sudah rusak dan usang.

Semoga anjungan ini segera diperbaiki, sehingga saya bisa lebih banyak menulis setiap bagian dari Anjungan Pidie yang mengandung filosofi ini.[]

*Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe)