ACEH UTARA – Ratusan korban banjir dari Dusun Bahagia, Gampong Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, mengeluhkan tenda pengungsian tidak layak. Mereka menempati tenda terpal biru di kebun sawit Dusun Bola Mas, Gampong Langkahan, Kecamatan Langkahan, Ahad, 21 Desember 2025.
Pantauan portalsatu.com/, di lokasi pengungsian itu banyak anak-anak dan lanjut usia (lansia) menempati tenda terpal biru 14 unit yang dibangun secara mandiri oleh para korban banjir bandang. Ada pula tiga ibu hamil di tenda terpal biru itu.
Salah seorang pengungsi di Dusun Bola Mas, Gampong Langkahan, Iwan Arbi, mengatakan lokasi ini titik pertama pengungsian warga Gampong Rumoh Rayeuk. “Karena 95 persen rumah masyarakat Rumoh Rayeuk hancur total dan ada yang hilang,” kata Iwan kepada wartawan.
Iwan yang merupakan warga Rumoh Rayeuk menyebut gampongnya memiliki dua Dusun: Bahagia dan Abadi. “Kondisinya tidak bisa ditempati lagi, hanya tersisa 38 rumah warga setelah banjir bandang pada 26 November 2025”.
“Makanya banyak masyarakat (Rumoh Rayeuk) yang mengungsi di tenda itu (di Dusun Bola Mas, Gampong Langkahan), dibangun seadanya. Sejauh ini belum ada bantuan tenda dari pemerintah daerah. Padahal sangat diperlukan tenda yang layak,” ungkap Iwan.
Bahkan, kata Iwan, MCK pun tidak ada. Adapun air bersih kadang kala didistribusikan pihak lain ke tempat pengungsian tersebut. “Karena tidak ada sumber air yang bisa dimanfaatkan masyarakat”.
“Masih banyak kekurangan lainnya, seperti tempat tidur masih menggunakan tenda biru atau karpet spon sebagai alas. Warga termasuk anak-anak juga mengeluhkan penyakit gatal-gatal. Tim medis ada juga yang menangani para pengungsi,” ujar Iwan.
Menurut Iwan, masyarakat Rumoh Rayeuk yang mengungsi saat ini terpencar di lima titik. Terpal biru yang dijadikan tenda pengungsian, kata dia, sumbangan swadaya masyarakat.
Karena itu, pengungsi berharap bantuan tenda yang lebih layak dari pemerintah. “Yang sangat dibutuhkan para pengungsi saat ini tempat tinggal yang layak,” ucap Iwan.
Kadus Bahagia Gampong Rumoh Rayeuk, Abdurrahman, mengatakan warga Rumoh Rayeuk yang mengungsi sebanyak 1.400 jiwa tersebar di beberapa titik. Khusus di Dusun Bola Mas, Gampong Langkahan, kata dia, 200 jiwa lebih warga Rumoh Rayeuk mengungsi di tenda kurang layak.
“Yang sangat dibutuhkan sekarang tempat tinggal, karena rata-rata masyarakat di Langkahan banyak kehilangan rumahnya,” ujar Abddurrahman.
Abddurrahman menambahkan banjir bandang kali ini paling parah. “Dulu pada 1978 pernah banjir di Langkahan dengan ketinggian air mencapai 3 meter, tapi tidak separah seperti ini hingga merusak rumah warga dan fasilitas umum lainnya. Kayu gelondongan pun cukup banyak dibawa banjir bandang,” ungkapnya.[]





