LHOKSEUMAWE – Sembilan korban yang selamat dari sambaran petir di kantin SMP Al-Alaq Dewantara masih menjalani perawatan intensif di RSU PT Arun. Hasil medis memastikan para korban yang selamat tidak menderita luka bakar, melainkan trauma listrik.
Sementara dua siswa yang selamat, yang sudah dibawa pulang pihak keluarga masing-masing yaitu Rifki, asal Tambon Tunong, Dewantara dan TM Hilal Azmi asal Paloh Lada, Dewantara.
Para korban selamat hanya alami Electrical Shock, yaitu traumatik akibat listrik. Buktinya tidak ada satupun menderita luka bakar akibat petir atau bahasa medisnya Electrikal Burn di luar maupun dalam tubuh. Jadi pasien hanya butuh istirahat, kata dr Rijalul, Kabid Layanan Medik RSU PT Arun kepada portalsatu.com, Sabtu, 7 Oktober 2017 malam.
Rijalul menduga, hal sama juga terlihat dari jasad dua korban meninggal dunia, yaitu M Zaki dan pemilik kantin, Muhammad. Kondisi korban bahkan tidak mengeluarkan darah dari mulut, di telinga atau di hidung, seperti lazimnya yang dialami korban sambaran petir.
Kami juga tidak bisa menjelaskan penyebab kematian siswa dan pedagang itu. Pasalnya tidak dilakukan otopsi. Secara kasat mata tidak ada luka bakar pada jasad. Tidak ada penanganan medis, karena saat tiba di rumah sakit keduanya sudah meninggal dunia, katanya.
Terkait korban kritis, Aisyah (50), istri dari korban meninggal dunia, Muhammad (55) tahun pemilik kantin, dijelaskan sudah sadar sesaat setelah dirawat medis. Pasien Aisyah sudah bisa berbicara, walau belum normal, kata Rizal.[]


