REDELONG – Ketua KPA Bener Meriah, Sarbinari mendesak Badan Penguatan Perdamaian Aceh (BP2A) dan Dinas Cipta Karya Aceh segera menyelesaikan pembangunan tujuh rumah bantuan untuk kaum duafa di Kabupaten Bener Meriah. Pasalnya, kata dia, pembangunan rumah tersebut hingga kini masih terbengkalai.

Sarbinari menyebut BP2A sebagai pihak yang merekomendasi penerima manfaat rumah untuk kaum duafa juga harus ikut bertanggung jawab terkait terbengkalainya proyek tersebut.

“Cipta Karya dan BP2A segera selesaikan tujuh unit rumah yang belum dikerjakan itu, sebelum masyarakat demo ke Banda Aceh,” kata Sarbinari didampingi Sekretaris KPA Bener Meriah Junaidi alias Geunanceng ditemui portalsatu.com di kediamannya, Selasa, 9 Februari 2016.

Sarbinari mengaku para penerima manfaat itu telah berulang kali mendatangi rumahnya guna menanyakan proses pembangunan rumah bantuan itu.

Dari 10 unit, kata Sarbini, pihak kontraktor hanya menyelesaikan tiga rumah bantuan untuk kaum duafa. Sisanya, kata dia, ada yang belum selesai dan ada pula belum dikerjakan.

“Alasan Cipta Karya sudah mati anggaran, sementara penerima manfaat ini mana tahu dia mati anggaran. Sasaran penerima bantuan itu sekarang kepada saya selaku pengusul penerima rumah duafa itu,” ujar Sarbinari yang juga Ketua PA Bener Meriah.

Ketujuh rumah terbengkalai itu, menurut Sarbinari, terletak di Desa Deloeng Tue dua unit, Pilar Jaya (satu unit), Kenawat (satu unit), Bale Atu (dua unit). Desa-desa itu dalam Kecamatan Bukit. Sedangkan satu unit lainnya di Desa Darus Bener Pepanyi, Kecamatan Permata, Bener Meriah.

“Sekali lagi saya tegaskan, tim (Dinas) Cipta Karya segera turun ke lapangan mengecek, karena tujuh penerima manfaat ini juga orang miskin,” kata Sarbinari.[] (idg)