JANTHO – Kuliah lapangan (field study) Program Studi Desain Komunikasi Visual, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, kali ini bekerja sama dengan Dirtyline Studio.
Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Rabu 2 Maret 2022 mengunjungi Dirtyline Studio yang berlokasi di Lueng Bata, Banda Aceh.
Kuliah lapangan ini merupakan kegiatan dari Mata Kuliah Kewirausahaan. Peserta yang mengikuti kegiatan ini berasal dari kelas MK Kewirausahaan Semester Genap Tahun Ajaran 2021/2022. Kegiatan ini didampingi oleh dosen koordinator MK, yaitu Nisa Putri Rachmadani, S.T., M.Ds, dan Asrinaldi, S.Ds., M.Sn.
Nisa Putri mengatakan, pada Selasa, 2 Maret 2022 pukul 08.30 pagi, seluruh peserta kuliah lapangan berkumpul di Kampus B ISBI Aceh untuk melakukan absen dan persiapan sebelum berangkat. Lalu sekira pukul 09:15 WIB, seluruh peserta kuliah lapangan berangkat menuju Dirtyline Studio dan tiba pukul 10:30 WIB.
“Kegiatan tersebut dibuka oleh dosen koordinator MK selaku moderator yang kemudian dilanjutkan oleh pemateri yaitu Bang Hendra Maulia selaku CEO Dirtyline Studio dan didampingi Aulia Rahman selaku desainer,” kata Nisa.
Materi pada kuliah lapangan MK Kewirausahaan adalah eksplorasi bisnis digital melalui proses kreatif, proses aplikasi sistem penjualan dan target pasar.
Sesi pemaparan materi diawali dengan penjelasan produk digital yang dihasilkan oleh Dirtyline Studio. Fokus produk digital studio ini adalah font dan social media template.
CEO Dirtyline Studio, Hendra Maulia, menjelaskan bahwa produk digital saat ini berfungsi untuk mempermudah pekerjaan, khususnya pada presentasi dan branding product.

“Produk digital merupakan hasil adaptasi dari perkembangan teknologi yang semakin hari semakin besar peluangnya. Keunggulan produk digital adalah customer berasal dari seluruh penjuru dunia, multiple licenses, dapat dijual diberbagai macam marketplace, transaksi otomatis sehingga lebih memudahkan penjualan, dan unlimited stock, karena produk tidak berbentuk secara fisik,” kata Hendra.
Sesi berikutnya dilanjutkan dengan pemaparan tentang pengembangan kreatifitas sebagai landasan ide bisnis. Dalam kaitannya produk digital sebagai produk bisnis, seorang desainer harus memilah antara idealis dan realistis, memberi nilai dan ciri khas (giving value), target market, dan bagaimana kita dapat beradaptasi dan mengembangkan kreatifitas (adaptation and exploration).
Menurut data yang disampaikan oleh CEO dan desainer, saat ini Dirtyline Studio sudah memiliki sekitar 50 font yang dapat dibeli di berbagai marketplace untuk produk digital seperti website dirtylinestudio.com, canva, creativemarket.com, dan lain-lain. Produk dari studio ini juga sudah dipakai di banyak penggunaan komersil, seperti promo Gramedia, poster penjualan K-walk, music video Rizky Febian dan masih banyak lainnya.
Keseruan kegiatan kali ini juga diisi dengan tanya jawab oleh para peserta field study. Keingintahuan peserta tidak terbatas dengan cara pengembangannya saja. Mereka juga menanyakan bagaimana cara menjaga keberlangsungsan produk digital yang dapat diperoleh dengan mudah. Masalah utama produk digital adalah gampang diakses, namun juga gampang untuk diduplikasi. Sehingga, terkadang susah untuk desainer produk digital untuk maintain produknya.
Mereka mengakui bahwa kesulitan dalam menjalankan bisnis digital adalah sulit menelusuri penggunaan produk. Dalam pengalamannya, Dirtyline Studio pernah menemukan penggunaan font tanpa izin (break the license) untuk iklan produk komersil justru ketika sedang bersantai mengunjungi pusat perbelanjaan.
Dengan adanya kunjungan ke Dirtyline Studio, mahasiswa/i dapat mengeksplor bagaimana membangun bisnis digital serta cara beradaptasi dan mengembangkan bisnis digital.
Hendra berharap kunjungan dari mahasiswa/i juga dapat membuka wawasan serta peluang agar desain grafis di Aceh dapat terus berkembang.
Kegiatan kunjungan dalam rangka field study ditutup dengan foto bersama dan pemberian cenderamata dari Prodi Desain Komunikasi Visual kepada pemateri sebagai bentuk terima kasih serta tanda kegiatan field study telah dilaksanakan di Dirtyline Studio.[]






