BANDA ACEH – Acehnese Civil Society Task Force (ACSTF) kembali dapat kesempatan untuk memfasilitasi kedatangan rombongan tamu profesi “Institute of Teacher For Peace” dari Patani Thailand Selatan ke Aceh pada 24-26 April 2018 yang berjumlah 44 orang.
Rangkaian kegiatan selama di Aceh adalah mengadakan pertemuan dengan Dinas Pendidikan Aceh, Majelis Pendidikan Daerah Aceh, FKIP Unsyiah, UIN Ar-Raniry, Pesantren Oemar Diyan, serta Dayah Krueng Kale.
Di sela-sela kegiatan formal, rombongan juga diajak berkunjung ke tempat wisata tsunami. Tujuan dari kunjungan ke Aceh adalah utuk melakukan studi banding.
“Kami sengaja memilih Aceh sebagai tujuan studi banding karena Aceh memiliki kemiripan dalam banyak segi. Jadi kami ingin mengetahui bagaimana kurikulum lokal yang diterapkan di Aceh. Selain itu kami ingin mendiskusikan upaya apa yang pernah ditempuh dalam memajukan kualitas pendidikan di masa konflik,” ujar Hilmi selaku ketua rombongan.
Rombongan sangat antusias mendapat kesempatan untuk dapat berkunjung ke Universitas Syiah Kuala dan ke Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Di Unsyiah rombongan memperoleh pengetahuan baru terkait skill pedagogik sementara di UIN Ar-Raniry para rombongan berbincang-bincang langsung dengan Prof. Farid Wadji.
Farid mengatakan setiap tahun UIN Ar-Raniry memberikan beasiswa untuk 5 (lima) mahasiswa asal Patani dan saat ini juga tersedia beasiswa Darmasiswa untuk belajar bahasa dan budaya selama 1 (satu) tahun di UIN Ar-Raniry.
Pertemuan yang diadakan dengan Dinas Pendidikan Aceh pada tanggal 26 April 2018 disambut oleh Kabid GTK dan Staf Ahli pendidikan Aceh yang sekaligus menjabat sebagai wakil Majelis Pendidikan Aceh Azwar Thaib.
Azwar mengatakan, Aceh hari ini memiliki dana yang sangat banyak untuk meningkatkan kualitas/mutu pendidikan, maka dibutuhkan kurikulum yang tepat sasaran agar dana yang dikucurkan dapat melahirkan generasi Aceh ke depan yang cerdas.
“Kita baru saja merekrut guru sesuai dengan standart yang telah kita tetapkan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG). Maka untuk Rombongan guru Patani saya menyarankan untuk tetap menjalankan sistem dari kerajaan Thailand yang ditambah dengan kurikulum khusus khas Patani.”
Kunjungan ini menunjukkan bahwa Aceh kini menjadi model pendidikan yang ingin diadopsi oleh masyarakat Patani. Ini adalah bentuk upaya ACSTF dalam mengelola Patani Centre.[](Rel)




