BANDA ACEH – Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Seorang maestro Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Tgk. Yahya Muaz, tutup usia. Dia menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu, 4 September 2021, pukul 20.00 WIB.

Kabar meninggalnya tokoh intelektual GAM ini beredar dengan cepat di berbagai grup media sosial Whatsapp. Kabar tersebut dibenarkan oleh mantan Juru Bicara Partai Aceh, Teungku Jamaica, yang dikonfirmasi portalsatu.com/.

Mantan Sekjen Partai Partai Aceh tersebut tutup usia dalam usia 58 tahun, di Gampong Lambhuk, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh.

Menurut informasi dari kalangan GAM, jenazah almarhum dibawa pulang ke Gampong Tong Pria, Beureunuen, Pidie.

Tgk. Yahya Muaz merupakan tokoh terpandang di dalam kalangan GAM. Almarhum merupakan kemenakan Wali Nanggroe, Tgk Hasan Muhammad di Tiro atau sering disebut Tgk Hasan Tiro.

Selain itu, semasa hidupnya, Tgk Yahya Muaz mendapat didikan langsung dari Hasan Tiro tentang idiologi Aceh Merdeka di Kerajaan Swedia, Skandinavia, Eropa Utara.

Selama masa konflik almarhum menjabat Juru Penerangan Pusat GAM dan ikut bergerilya bersama pasukan di Aceh sambil memberikan pendidikan idiologi di seluruh Aceh.

Dia mengunjungi markas-markas GAM di seluruh Aceh untuk menyampaikan ideologi secara langsung. Selain ideologi GAM, almarhum juga menguasai cara menulis bahasa Aceh dengan benar.

Dalam beberapa tahun terakhir, almarhum tidak aktif lagi dalam politik. Dia menekuni penelitian tentang lumpur vulkanik di Aceh. Lumpur tersebut diolah menjadi obat-obatan dan kosmetik.

Program tersebut kemudian dikembangkan oleh Roni Ahmad alias Abusyik yang merupakan Bupati Pidie.

Namun, dalam setahun terakhir, kesehatan Tgk. Yahya Muaz menurun dan dia tidak mendapat kepulihan sehingga ajal menjemputnya. "Selamat sang maestro, selamat jalan guru kami," kata Thayeb Loh Angen, mantan kombatan.[](red)