BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menggelar konferensi mahasiswa internasional pertama di tingkat ASEAN tentang isu lingkungan dan perubahan iklim, di gedung AAC Dayan Dawood Banda Aceh.
Perhelatan ilmiah akbar ala mahasiswa yang berlangsung sejak Selasa, 17 hingga 21 April tersebut bertujuan membangun kesepahaman persepsi, membina jejaring serta sosialisasi terhadap masalah lingkungan yang terjadi di negara-negara ASEAN saat ini. Pembukaan konferensi yang mendapatkan dukungan dari Uni Eropa melalui proyek Support to Indonesia’s Climate Change Response-Technical Assistance Component (SICCR-TAC) itu dihadiri ratusan mahasiswa dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk kampus-kampus di Indonesia.
Aceh sebagai salah satu dari sedikit wilayah di dunia yang memiliki hutan tropis dengan luas 3,3 juta hektare dan relatif terjaga memiliki peranan sangat penting dan strategis dalam menjawab masalah perubahan iklim saat ini.
Gubernur Aceh diwakili Staf Ahli, Nurdin Husin saat membuka konferensi tersebut memaparkan tentang potensi Aceh yang jarang disadari atau dipahami pihak-pihak lain. Salah satunya melalui lembaga adat seperti panglima uteun (panglima hutan).
“Dahulu, peranan panglima uteun dalam menjalankan fungsinya bagi kelestarian hutan sangatlah penting. Namun saat ini kita lihat fungsi tersebut sudah mulai melemah dikarenakan berbagai faktor,” ujarnya.
Tak hanya itu, di Provinsi Aceh memiliki dua kawasan hutan yang penting bagi stok karbon dunia, yaitu Leuser dan Ulu Masen. “Ini menjadi bukti bahwa Aceh memiliki peranan penting dalam upaya mencegah laju pemanasan global,” kata Nurdin.
Pertemuan ilmiah tersebut diharapkan mampu menjawab permasalah lingkungan guna mencari solusi bagi khususnya komunitas ASEAN. Hal tersebut dijelaskan oleh Jasiran, Ketua Panitia Konferensi Mahasiswa ASEAN tersebut. “Kita ingin bergerak dan berkarya. Kita harapkan forum ini mampu menghasilkan ide-ide kepada peradaban khususnya melalui para mahasiswa ASEAN,” kata Jasiran.
Konferensi tersebut direncanakan sebagai landasan bagi terbentuknya suatu forum tingkat mahasiswa ASEAN, serta menghasilkan rekomendasi penting kepada pemerintah, khususnya melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Muslahuddin Daud mewakili proyek SICCR-TAC menjelaskan, selama ini proyek yang didanai Uni Eropa tersebut mendukung Pemerintah Aceh dan Indonesia dalam isu perubahan iklim. Untuk konteks Aceh dengan mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Hijau, mendukung adanya Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), pelatihan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Juga program-program pionir seperti penggunaan dana desa agar dapat dialokasikan untuk mendukung program lingkungan di kabupaten Pidie serta program menggagas sistem dynamic agroforestry (DAF), atau agroforestri dinamis. Sistem DAF ini memiliki manfaat tidak hanya secara ekologis namun juga dari sisi ekonomis, serta mampu menuntaskan masalah-masalah sosial yang terjadi di dalam masyarakat.
Intinya, Muslahuddin menjelaskan, banyak program atau inisiasi yang telah dilakukan selama kurun waktu lebih dua tahun ini. Disamping itu, ia juga menekankan bahwa telah banyak kajian atau riset yang telah dilakukan melalui proyek ini.
“Kami mengajak para mahasiswa untuk dapat menggunakan sumber atau bahan-bahan riset yang telah dihasilkan untuk dioptimalkan untuk mencari solusi perubahan iklim saat ini. Dan kami berharap juga pembelajaran-pembelajaran yang telah kami hasilkan dapat diadopsi serta direplikasi oleh pihak-pihak lain, khususnya adik-adik mahasiswa,” pungkasnya.
Konferensi dan seminar internasional tersebut akan menghadirkan para pembicara dan pakar di bidang lingkungan dan kehutanan. Di antaranya, Dr. Nur Masripatin yang menjabat sebagai staf senior Menteri KLHK, peneliti Ian Singleton, Endang Pratiwi, serta mewakili lembaga yang bergerak di bidang kehutanan Rudi Putra, Wahdi Azmi.[](rel)




